Rab. Jun 10th, 2026

Sampah, Selebriti yang Tidak Pernah Kehilangan Penggemar.

Komedi Satire Nyampahologi: Ilmu tentang cara menghasilkan sampah sebanyak banyaknya.

Oleh: Anto Ramadhan (Pengamat Budaya Tinggal di Cicadas Bandung)

ALGIVON.ID- Di Kota ini, ada satu hal yang lebih setia daripada mantan yang gagal move on, yaitu sampah !!.

Kalau jalan-jalan pagi di Bandung, kita akan menemukan fakta menarik. Sebelum matahari benar-benar bangun, sampah sudah lebih dulu hadir menyambut warga. Ia tidak pernah terlambat. Tidak pernah izin. Tidak pernah cuti bersama. Bahkan ketika hari libur nasional, sampah tetap bekerja penuh dedikasi.

Sampah adalah selebriti sejati, melebihi seleb, penyayi, presenter,konten kreator Rafi Ahmad. Ia juga selalu berhasil tampil di mana-mana. Memakai dreskod hitam, merah, putih membentuk ” buntelan-buntelan” dengan aroma menyengat, melebihi bau “buntelan hitut”.

Di pinggir jalan ada. Di sungai ada. Di taman ada. Di lahan kosong ada. Di rumah atau bangunan yang belum selesai yang keburu di segel garis kuning karena mungkin tidak ada ijin. Kadang-kadang, tempat sampahnya kosong, tetapi sampahnya justru berjejer rapi di luar. Mungkin mereka sedang menganut paham “merdeka dari keterikatan wadah.” Itulah Sampah !

Ada pula fenomena yang patut masuk jurnal ilmiah, atau acara TV “Aneh tapi Nyata. Seseorang bisa menghabiskan waktu satu jam membersihkan rumahnya, lalu hanya membutuhkan waktu tiga detik untuk membuang kantong sampah ke sungai. Seolah-olah sungai adalah layanan ekspedisi gratis dengan slogan: “Dari rumah Anda menuju banjir terdekat.”

Para ahli lingkungan sering mengatakan bahwa persoalan sampah bukan semata soal teknologi, melainkan soal perilaku. Kalau boleh ditambah, perilaku kita terhadap sampah kadang lebih rumit daripada hubungan tokoh-tokoh dalam sinetron 500 episode, atau cerita Drakor tentang CEO yang nyamar jadi gembel.

Kita semua sepakat bahwa sampah adalah masalah. Uniknya, kesepakatan itu biasanya berhenti tepat setelah rapat selesai, TOK ! palu dipukul “. “Setelah itu, gelas plastik ,dus konsumsi dan sisa daun lemper bekas rapat justru tertinggal di meja sebagai bukti otentik bahwa teori dan praktik masih menjalani hubungan jarak jauh.

Yang lebih lucu lagi adalah kebiasaan menyalahkan pemerintah untuk setiap tumpukan sampah yang muncul. Memang Pemerintah Kota punya tanggung jawab besar, namun Om Farhan belum pernah mengeluarkan kebijakan resmi yang berbunyi: “Warga dipersilakan membuang popok bayi ke sungai setiap hari Senin dan Kamis.” Sedangkan buang kasur rusak dipersilahkan di Hari Minggu atau Tanggal Merah !”.

Kita sering berharap petugas kebersihan menjadi pahlawan super. Mereka harus membersihkan jalan, mengangkut sampah, menjaga kota tetap nyaman. Padahal, pahlawan super pun punya batas kemampuan. Mungkin Batman dan Superman pun akan menyerah jika setiap malam ada ribuan orang yang sengaja melempar sampah dari kendaraan. Bahkan kata Amang Eman orang Cicadas mah, “nu gelo ge ngadadak cageur !”.

Persoalan sampah sesungguhnya mengajarkan pelajaran sederhana. Kebersihan kota bukan ditentukan oleh seberapa banyak petugas yang bekerja, melainkan oleh seberapa sedikit warga yang merasa jalan raya adalah tempat sampah raksasa.

Jika penyanyi legendaris Doel Sumbang terkenal dengan lagu “Kalau Bulan Bisa Ngomong”, pasti ngomongnya tak akan bohong “. Maka bisa dibayangkan jika sampah yang bisa bicara ,
mungkin ia akan ngomong, “Saya mah sebenarnya ingin tinggal di tempat pengolahan.” “Ingin jadi Petasol. Ingin jadi Biodesel. Pokoknya ingin jadi energi terbarukan, tapi setiap hari ada manusia yang mengirim saya ke selokan, dan kebun dan rumah kosong”. “Saya mah aslina bingung !.” Mungkin kata itulah yang ingin di sampaikan sampah sepanjang jalan Ahmad Yani Cicadas.

Karena itu, perang melawan sampah tidak memerlukan pidato yang panjang. Cukup mulai dari kebiasaan sederhana: membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik sekali pakai, dan berhenti menganggap sungai sebagai keranjang sampah berukuran jumbo.

Sebab pada akhirnya, sampah bukanlah musuh yang datang dari planet lain, atau bahkan dari dunia lain. Sampah adalah hasil karya kita sendiri. Bedanya, karya seni biasanya dipajang di galeri, sedangkan sampah malah dipamerkan di pinggir jalan, “ngajajar”.

Dan jika suatu hari Bandung berhasil bebas dari tumpukan sampah, mungkin selain tikus satu-satunya pihak yang merasa kehilangan adalah para lalat, alias “laleur”, yang terkenal dengan semboyan ” Laleur Mapay Areuy” .

Mereka akan menggelar konferensi pers dan berkata, “Kami mah keberatan, habitat kami telah direlokasi tanpa musyawarah !” kata Laleur Hejo.

Untungnya, warga kota yang waras pasti lebih memilih kehilangan lalat daripada kehilangan rasa malu karena hidup di tengah “sampah buatannya olangan”. (AR, Berbagai sumber)

BACA JUGA: Kaukus Ketokohan Jabar Desak TPS Sarimukti Ditutup dan Dikembalikan Menjadi Hutan, Operasional Legok Nangka Dipercepat

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *