Esai Tuyulisme: Harri Safiari
Di bawahnya terdapat tulisan yang lebih kecil:
“Menerima peserta didik dari keluarga kurang mampu, dan tanpa test.”
Rubi berhenti.
Membaca.
Membaca lagi.
Lalu mengucek matanya.
“Din!”
Dari balik bangunan bambu keluar Udin Surudin.
Rambutnya gimbal dikuncir ke belakang. Jubah loreng ala US Army yang dikenakannya tampak seperti seragam seorang prajurit yang kalah perang di Vietnam, tersesat di Afganistan, lalu memilih menetap di Negeri Konoha Raya.
“Kenapa, Rub?”
Rubi menunjuk papan nama.
“Ini apa?”
“Sekolah.”
“Sekolah apa?”
“Akademi.”
“Akademi apa?”
“Tuyul.”
Rubi menarik napas panjang.
“Bukankah kemarin saya sudah bilang bisnis tuyul itu masalah?”
Udin mengangguk.
“Betul.”
“Lalu mengapa sekarang dibuat akademi?”
“Karena saya mengikuti perkembangan zaman.”
Belum sempat Rubi menjawab, Korupsinikus muncul dari dalam bangunan sambil membawa map tebal.
“Bukan sekadar akademi.”
Rubi menatapnya.
“Lantas?”
“Pusat pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia tuyul.”
Rubi hampir tersedak.
“Sumber daya manusia?”
Korupsinikus tersenyum.
“Ya. Tuyulnya mungkin kecil, tetapi industrinya besar.”
Udin mengangguk mantap.
“Dan sekarang sudah ada kurikulum.”
Rubi merebut map itu.
“Coba saya lihat.”
Ia membaca daftar mata kuliah.
Semester I: Dasar-Dasar Menghilangkan Uang.
Semester II: Teknik Menyamarkan Jejak.
Semester III: Manajemen Risiko Penampakan.
Semester IV: Akuntansi Tuyul dan Dana Siluman.
Semester V: Lobbying dan Networking.
Semester VI: Etika Profesional Tuyul.
Rubi berhenti pada kata terakhir.
“Etika?”
Udin mengangguk.
“Penting.”
“Etikanya apa?”
Udin menjawab santai.
“Jangan mengambil terlalu banyak.”
Rubi memandang Korupsinikus.
“Ini etika?”
Korupsinikus menjawab tenang.
“Dalam dunia bisnis, itu namanya batas kepatutan.”
Rubi membanting map ke meja.
“Ini gila!”
“Justru itu,” jawab Korupsinikus. “Semua industri besar awalnya dianggap gila.”
Udin buru-buru menyela.
“Lagipula kami sudah menerapkan prinsip ESG.”
Rubi mencibir.
“ESG?”
“Environment, Social, Governance.”
“Bagaimana tuyul memenuhi ESG?”
Udin tersenyum bangga.
“Environment: tidak merusak lingkungan.”
“Lanjut.”
“Social: membuka lapangan kerja.”
“Lanjut.”
“Governance: semua hasil dibukukan.”
Rubi mengangguk.
“Nah, itu bagus.”
Udin menambahkan:
“Dibukukan dalam dua buku.”
Rubi langsung memejamkan mata.
Korupsinikus bertepuk tangan.
“Ini baru inovasi!”
INVESTOR MULAI BERDATANGAN
Menjelang siang, halaman akademi semakin ramai.
Ada pengusaha.
Ada makelar.
Ada konsultan.
Ada orang yang pekerjaannya tidak pernah jelas, tetapi kartu namanya mencantumkan jabatan Strategic Investment Advisor.
Sebuah spanduk baru dibentangkan:
OPEN INVESTMENT
Tuyul Sustainable Development Fund
Rubi memandang spanduk itu dengan wajah getir.
“Siapa yang mau investasi?”
Udin menunjuk kerumunan.
“Banyak.”
“Kenapa?”
“Karena semua orang suka keuntungan.”
“Tanpa kerja?”
Udin mengangkat bahu.
“Kalau bisa tanpa kerja, mengapa harus capek?”
Korupsinikus menimpali:
“Kalau bisa cepat, mengapa harus lambat?”
Rubi menyahut:
“Kalau bisa jujur, mengapa harus mencuri?”
Korupsinikus tersenyum.
“Karena jujur sering kali kalah cepat.”
Kalimat itu membuat Rubi diam sesaat.
Bukan karena setuju.
Melainkan karena ia tahu, justru di situlah penyakitnya.
Di Negeri Konoha Raya, sebagian orang mulai tidak bertanya:
“Apakah ini benar?”
Mereka lebih tertarik bertanya:
“Apakah ini bisa dilakukan tanpa ketahuan?”
Dan ketika pertanyaan kedua menjadi lebih penting daripada pertanyaan pertama, tuyul tidak perlu lagi mencari majikan.
Majikanlah yang mencari tuyul.
RUBI MENDIRIKAN DIVISI ANTI-TUYUL
Rubi akhirnya mengambil keputusan.
“Baik.”
Korupsinikus menoleh.
“Baik apa?”
“Saya ikut.”
Udin terkejut.
“Serius?”
“Serius.”
Korupsinikus tertawa.
“Ah! Akhirnya idealisme menyerah!”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Saya akan membangun divisi antituyul.”
Udin menggaruk kepala.
“Di dalam akademi?”
“Ya.”
Korupsinikus mengerutkan dahi.
“Bagaimana cara kerjanya?”
Rubi menjawab:
“Setiap tuyul yang dilatih di sini akan diajari satu hal sebelum lulus.”
“Apa?”
“Jangan mencuri.”
Udin tertawa.
“Kalau begitu tidak ada yang lulus!”
Rubi ikut tersenyum.
“Justru itu tujuan saya.”
Korupsinikus menghela napas.
“Rubi, kamu ini benar-benar pegiat antikorupsi.”
“Kenapa?”
“Karena meski tongpes, kamu masih punya akal sehat.”
Rubi menepuk kantong celananya yang kosong.
“Tongpes boleh.”
Ia menatap Korupsinikus.
“Kepala jangan ikut kosong.”
Udin tertawa.
Korupsinikus tidak.
RAPAT DEWAN KOMISARIS
Sore harinya digelar rapat perdana.
Korupsinikus ditunjuk sebagai komisaris.
Udin sebagai direktur utama.
Rubi diminta menjadi komisaris independen.
Ia langsung menolak.
“Kenapa?”
“Saya tidak mau menjadi independen di perusahaan yang bisnisnya tergantung pada ketidakindependenan.”
Korupsinikus mengangguk.
“Bagus.”
“Bagus bagaimana?”
“Kalimat itu bisa dimasukkan ke prospektus.”
Rubi hampir melempar gelas.
Udin buru-buru menengahi.
“Tenang. Kita harus profesional.”
“Profesional apanya?”
“Bisnis harus berkelanjutan.”
Rubi menjawab dingin:
“Korupsi juga berkelanjutan kalau sistemnya dibiarkan.”
Ruangan mendadak hening.
Korupsinikus berhenti tersenyum.
Untuk pertama kalinya hari itu, kalimat Rubi terdengar lebih kuat daripada semua proposal investasi.
Udin memandang papan tulis.
Di sana tertulis:
VISI:
MENJADI PERUSAHAAN TUYUL TERDEPAN DI ASIA.
Rubi mengambil spidol.
Ia mencoret kata TUYUL.
Kemudian menulis:
“MENJADI NEGERI YANG TIDAK MEMBUTUHKAN TUYUL.”
Korupsinikus menatap tulisan itu lama.
“Rubi…”
“Ya?”
“Kalau visi itu tercapai…”
“Kenapa?”
Korupsinikus menunjuk papan.
“Bisnis kita bangkrut.”
Rubi tersenyum.
“Memang.”
Udin terdiam.
Kemudian tertawa kecil.
“Wah…”
“Apa?” tanya Rubi.
Udin memandang kandang-kandang tuyul di belakang akademi.
“Kalau begitu, mungkin untuk pertama kalinya…”
Ia berhenti sejenak.
“…kebangkrutan sebuah bisnis justru menjadi keuntungan bagi sebuah negeri.”
Korupsinikus tidak menjawab.
UJIAN TERAKHIR
Malam turun perlahan.
Kandang-kandang tuyul mulai sunyi.
Satu per satu lampu dipadamkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Akademi Peternakan Tuyul Berkelanjutan didirikan, tidak ada uang yang hilang malam itu.
Tidak banyak.
Hanya satu rupiah.
Tetapi satu rupiah itu sengaja diletakkan di atas meja.
Sebagai ujian terakhir.
Pagi harinya, uang itu masih berada di tempatnya.
Rubi tersenyum.
Udin tercengang.
Korupsinikus menghela napas panjang.
“Gawat.”
“Apa?” tanya Udin.
Korupsinikus menunjuk uang itu.
“Kalau begini terus…”
Ia berhenti.
Kemudian berkata pelan:
“…tuyul kita bisa kehilangan pekerjaan.”
Halaman akademi pecah oleh tawa.
Kecuali Rubi.
Ia hanya tersenyum.
Sebab ia tahu, persoalannya bukan tentang tuyul.
Bukan pula tentang satu rupiah.
Melainkan tentang sebuah negeri yang terlalu lama membiarkan uang menghilang sementara akal sehat ikut menghilang bersamanya.
Sebab tuyul sesungguhnya tidak selalu berkepala gundul, bertubuh kecil dan berjalan pada malam hari.
Kadang ia memakai jas.
Kadang membawa map.
Kadang duduk di ruang rapat.
Kadang pandai berbicara tentang efisiensi, investasi dan keberlanjutan.
Kadang bahkan memiliki stempel resmi.
Tuyul tradisional mengambil uang secara diam-diam.
Tuyul modern bisa membuat uang hilang sambil tersenyum di depan kamera.
Dan ketika kehilangan uang sudah dianggap sekadar biaya operasional, sementara kehilangan moral dianggap konsekuensi bisnis—
barangkali masalah terbesar negeri itu bukan lagi bagaimana menangkap tuyul.
Melainkan:
siapa yang selama ini memelihara tuyulnya.
Korupsinikus menatap papan visi yang telah dicoret Rubi.
Ia tersenyum getir.
“Jadi, prospek bisnis tuyul?”
Rubi menjawab:
“Cerah bagi yang mengambil.”
Udin menyahut:
“Cerah bagi peternaknya.”
Korupsinikus mengangguk.
“Dan?”
Rubi menatap langit Negeri Konoha Raya.
“Suram bagi negeri yang membiarkannya menjadi industri.”
Dari kandang terdengar suara kecil:
“Ciluk… baa.”
Rubi menoleh.
“Din, itu tuyul atau rakyat?”
Udin mengerutkan dahi.
Korupsinikus tertawa.
“Kalau sudah sama-sama kehilangan uang, bedanya memang mulai sulit ditemukan.”
Dan pagi berikutnya, papan nama Akademi Peternakan Tuyul Berkelanjutan masih berdiri.
Hanya ada satu perubahan.
Di bawah tulisan:
“Mencetak Tuyul Unggul, Efisien, Efektif dan Berdaya Saing Global,”
Rubi diam-diam menambahkan satu kalimat:
“Lulusannya tidak dijamin bebas korupsi.”
Ia berhenti.
Berpikir.
Lalu menambahkan lagi:
“Tetapi setidaknya, mereka tahu siapa yang sedang dicuri.”
Korupsinikus membaca kalimat itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tertawa.
Sebab kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan.
Bukan kepada tuyul.
Melainkan kepada manusia yang merasa lebih pintar daripada tuyul.
(Selesai).

