Korupsinikus: “Peluang Menang Besar Dong …”
Esai ‘Cecungukisme’ oleh Harri Safiari
ALGIVON.ID – Pemilu 2029 masih cukup jauh.
Tetapi bagi para cecunguk di Negeri Konoha Raya (NKR), masa depan rupanya tidak pernah benar-benar jauh. Terutama masa depan yang di dalamnya terdapat kursi, kekuasaan, fasilitas negara, perjalanan dinas, dan tentu saja—kalau sedang mujur—anggaran.
Maka, jauh-jauh hari, sejumlah aktivis politik yang mengaku sudah kapok berpartai mulai kembali menghitung peluang.
Maklum.
Mereka merasa sudah tiga kali Pemilu berpindah-pindah kendaraan politik. Berganti logo, berganti bendera, berganti slogan, bahkan berganti seragam. Namun hasil akhirnya kurang lebih sama.
Yang menang, katanya, sering kali sudah bisa ditebak sebelum pengumuman resmi.
Yang kalah tinggal membuat pernyataan bahwa demokrasi tetap berjalan.
Yang tidak kebagian kursi biasanya diminta legawa.
Dan yang kebagian?
Ya, tinggal mengucapkan terima kasih kepada rakyat.
Dari situlah gagasan besar itu lahir.
Mengapa harus terus menjadi penumpang kalau bisa memiliki kendaraan sendiri?
Mengapa harus menjadi kader kalau bisa menjadi pengurus?
Mengapa harus berebut posisi di partai orang lain kalau bisa membuat partai sendiri?
Dan pertanyaan yang paling menggoda:
Mengapa harus susah payah mencari suara kalau sistem politik sendiri menyediakan jalan untuk ikut bertanding?
Maka, berdasarkan bisik-bisik yang beredar di warung kopi politik NKR, sejak pertengahan hingga akhir 2026, sejumlah rekan Korupsinikus yang tersebar di sedikitnya 36 provinsi mulai serius merintis sebuah proyek politik monumental:
PARTAI CECUNGUK MULIA NEGERI KONOHA RAYA.
Namanya saja sudah mulia.
Apalagi kalau nanti memperoleh kursi.
Menurut sumber Cecungukisme yang sangat tidak perlu dipercaya sepenuhnya, para penggagas partai tersebut sudah mulai menyusun visi dan misi.
Visinya sederhana:
Menjadikan cecunguk tidak lagi sekadar pelengkap ekosistem kekuasaan, tetapi menjadi bagian resmi dari ekosistem kekuasaan.
Sedangkan misinya lebih sederhana lagi:
Masuk parlemen.
Kalau memungkinkan, masuk pemerintahan.
Kalau sangat memungkinkan, ikut menentukan pemerintahan.
Dan kalau sedang sangat-sangat memungkinkan, menentukan siapa yang boleh memerintah.
“Visi dan misi kami sudah disusun dengan seksama,” kata salah seorang pentolan PCM kepada Korupsinikus.
“Bagaimana dengan program kerjanya?”
“Sedang dipikirkan.”
“Program prioritas?”
“Menunggu hasil survei.”
“Platform ideologi?”
“Masih kami sesuaikan dengan perkembangan zaman.”
“Kalau begitu, apa yang sudah pasti?”
“Nomor urut, belum tentu. Tapi niat maju sudah pasti.”
Korupsinikus mengangguk.
Menurutnya, itu sudah cukup sebagai modal awal sebuah partai politik.
Yang lebih menarik lagi adalah keyakinan para cecunguk bahwa Pemilu 2029 merupakan momentum yang sangat menjanjikan.
Dengan perubahan aturan dan terbukanya peluang bagi partai-partai baru untuk ikut bertarung, mereka merasa pintu politik NKR semakin lebar.
Bagi partai lama, ini mungkin dianggap sebagai ancaman.
Bagi Partai Cecunguk Mulia?
Ini rezeki.
“Bayangkan,” ujar Korupsinikus sambil menyeruput kopi sachet.
“Dulu kita harus masuk partai orang. Sekarang kita bisa bikin partai sendiri.”
“Lalu?”
“Kalau menang, kita bilang rakyat mempercayai kita.”
“Kalau kalah?”
“Kita bilang demokrasi sedang berproses.”
“Kalau tidak dapat kursi?”
“Kita evaluasi.”
“Kalau dapat kursi?”
Korupsinikus tersenyum.
“Ya jangan dievaluasi.”
Dalam rancangan awal AD/ART yang konon masih ditulis di atas kertas bekas bungkus gorengan, Partai Cecunguk Mulia akan membuka keanggotaan seluas-luasnya.
Syaratnya pun relatif mudah.
Tidak harus pintar.
Tidak harus terkenal.
Tidak harus punya pengalaman politik.
Bahkan tidak harus memahami politik.
Yang penting memiliki daya tahan terhadap perubahan sikap.
Hari ini mendukung A, besok mendukung B, lusa mendukung C, dianggap bukan inkonsistensi.
Itu disebut fleksibilitas politik.
Dulu mengkritik pemerintah, setelah mendapat jabatan kemudian memuji pemerintah, disebut bukan kemunafikan.
Itu disebut rekonsiliasi.
Dulu berjanji tidak akan masuk kekuasaan, setelah ditawari posisi lalu masuk kekuasaan, disebut bukan pengkhianatan.
Itu disebut pengabdian.
Korupsinikus bahkan mengusulkan satu syarat tambahan bagi calon kader:
Harus memiliki kemampuan luar biasa untuk tetap tersenyum ketika prinsip politiknya berubah.
“Ini penting,” katanya.
“Sebab politik tanpa senyum bisa menjadi masalah.”
“Masalah apa?”
“Masalah bagi karier.”
Tetapi para pendiri PCM rupanya tidak ingin partainya hanya menjadi partai politik biasa.
Mereka ingin membangun sesuatu yang lebih modern.
Lebih digital.
Lebih adaptif.
Lebih sesuai dengan karakter zaman.
Karena itu, sedang dipersiapkan pula Aplikasi Cecunguk Mulia.
Melalui aplikasi tersebut, kader dapat memilih sikap politik secara real time.
Jika pemerintah sedang populer:
Klik: Dukung Pemerintah.
Jika pemerintah mulai tidak populer:
Klik: Kritik Pemerintah.
Jika lawan politik sedang naik:
Klik: Merapat.
Jika lawan politik sedang jatuh:
Klik: Tidak Pernah Dekat.
Bahkan tersedia fitur “Lupa Pernah Mendukung”.
Fitur ini sangat disukai Korupsinikus.
“Ini teknologi politik masa depan,” katanya.
“Manusia boleh lupa. Cecunguk juga boleh lupa. Tetapi server jangan sampai lupa.”
Di tengah keseriusan persiapan itu, seorang aktivis senior bertanya kepada Korupsinikus:
“Bukankah mendirikan partai itu tidak mudah?”
“Memang.”
“Harus ada struktur.”
“Bisa dibuat.”
“Harus ada kader.”
“Bisa direkrut.”
“Harus ada dana.”
Korupsinikus diam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Nah, itu yang harus kita bicarakan secara serius.”
“Kenapa?”
“Karena kalau politik bisa dibangun dengan idealisme saja, dari dulu negeri ini sudah penuh orang idealis.”
Mereka kemudian tertawa.
Entah lucu.
Entah getir.
Entah keduanya.
Yang paling membuat Korupsinikus optimistis justru bukan soal program.
Bukan pula soal ideologi.
Bukan tentang manifesto.
Apalagi soal kualitas demokrasi.
Melainkan soal peluang.
“Peluang menang besar dong,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena cecunguk ada di mana-mana.”
“Di 36 provinsi?”
“Minimal.”
“Sebanyak itu?”
“Jangan lupa. Cecunguk itu makhluk adaptif.”
“Bisa hidup di mana saja?”
“Betul.”
“Di lingkungan kotor?”
“Bisa.”
“Di lingkungan bersih?”
“Bisa juga.”
“Di bawah?”
“Bisa.”
“Di atas?”
Korupsinikus kembali tersenyum.
“Justru itu cita-citanya.”
Namun ada satu hal yang belum terpikirkan oleh para pendiri Partai Cecunguk Mulia.
Kalau semua cecunguk mendirikan partai sendiri, siapa yang menjadi rakyat?
Pertanyaan itu membuat ruang rapat mendadak sunyi.
Sebab ternyata ada persoalan yang lebih besar.
Jika semua ingin menjadi pengurus, siapa yang menjadi anggota?
Jika semua ingin menjadi anggota parlemen, siapa yang menjadi pemilih?
Jika semua ingin memperoleh jabatan, siapa yang menjalankan pekerjaan?
Dan jika semua ingin mengelola negara—
siapa yang mengurus negaranya?
Korupsinikus tidak segera menjawab.
Ia hanya memandang papan tulis yang sejak tadi bertuliskan:
PARTAI CECUNGUK MULIA NKR
Dari Cecunguk, Oleh Cecunguk, Untuk …
Kalimat itu belum selesai.
“Untuk siapa?” tanya seorang peserta rapat.
Korupsinikus mengambil spidol.
Dengan perlahan ia menambahkan satu kata:
“…KEKUASAAN.”
Rapat bubar.
Kopi habis.
Gorengan tinggal remah.
Dan di luar gedung, rakyat NKR tetap menjalani hidup seperti biasa.
Mereka bekerja.
Membayar pajak.
Membayar listrik.
Membayar cicilan.
Membayar segala macam kenaikan harga.
Sementara di dalam ruangan, para cecunguk sedang menghitung:
berapa kursi yang bisa didapat dari suara rakyat.
Mungkin begitulah demokrasi versi Cecungukisme.
Rakyat memberikan suara.
Partai mendapatkan kursi.
Kursi memberikan kekuasaan.
Dan kekuasaan?
Korupsinikus punya definisi sendiri:
“Kursi yang terlalu nyaman sering membuat orang lupa bahwa pada awalnya ia dipinjam dari rakyat.”
Ia lalu tertawa kecil.
“Tenang saja.”
“Kenapa?”
“Kalau Partai Cecunguk Mulia benar-benar menang pada 2029…”
“Lalu?”
Korupsinikus merapikan jasnya.
“Cecunguk tidak lagi mencari celah di dalam sistem.
Cecunguk akan menjadi sistem.”
(Selesai).
BACA JUGA: Solusi Edan & Cepat plus Tepat Turunkan Nilai Tukar Dolar ke Rupiah

