Korupsinikus: Libatkan Tuyul, Bisakah?
Esai Tuyulisme — Harri Safiari
ALGIVON.ID – Jutaan penduduk Indonesia sejatinya tak memerlukan dolar untuk bertransaksi. Utamanya mereka yang hidup di pelosok desa, di pasar-pasar tradisional, di warung kopi, di sawah, di kebun, hingga di gang-gang sempit perkotaan.Rupiah adalah andalan utama mereka.
Masalahnya, belakangan rupiah seperti mulai kehilangan tenaga.
Pada awal Agustus 2026, nilai tukar rupiah masih berkisar di sekitar Rp18.000 per dolar AS. Bahkan pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, rupiah berada di sekitar level tersebut.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin sekadar angka.
Tetapi bagi rakyat kecil, angka tersebut bisa berubah menjadi harga beras, harga minyak goreng, ongkos transportasi, harga obat, biaya sekolah anak, atau sekadar jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk menyambung hidup sampai akhir bulan.
Maka pertanyaannya sederhana.
Kalau rupiah sedang lemah, siapa yang bisa menolongnya?
Bank Indonesia?
Pemerintah?
Para ekonom?
Investor asing?
Atau…
tuyul?
Nah!
Pertanyaan terakhir inilah yang rupanya membuat Korupsinikus mendadak terdiam.
Bukan karena ia sedang berpikir serius.
Melainkan karena ia sedang menghitung.
Korupsinikus Punya Teori
“Kalau masalahnya dolar terlalu kuat, mengapa kita tidak memperbanyak rupiah saja?” kata Korupsinikus.
“Gampang.”
Tuyul yang sejak tadi duduk di sampingnya langsung mengangkat tangan.
“Bagaimana caranya?”
“Ya kamu cari uang.”
“Uang siapa?”
Korupsinikus mengernyitkan dahi.
“Pertanyaanmu terlalu teknis.”
“Lho, kan katanya solusi cepat?”
“Betul.”
“Terus?”
“Cari uang sebanyak-banyaknya.”
Tuyul mulai curiga.
“Jangan-jangan uang rakyat?”
Korupsinikus tersenyum.
“Jangan buru-buru menuduh. Kita sedang membicarakan ekonomi.”
Tuyul mengangguk.
“Kalau begitu uang siapa?”
Korupsinikus kembali diam.
Di sinilah persoalannya.
Ternyata menurunkan dolar tidak semudah menurunkan harga cabai.
Tuyul Masuk Ruang Rapat
Keesokan harinya, Korupsinikus mengumpulkan beberapa tuyul terbaik dari seluruh penjuru Negeri Konoha Raya.
Ada Tuyul Spesialis APBN.
Ada Tuyul Spesialis Perbankan.
Ada Tuyul Spesialis Proyek.
Ada Tuyul Spesialis Dana Hibah.
Bahkan ada Tuyul Senior yang konon sudah berpengalaman sejak zaman proyek-proyek pemerintah masih menggunakan mesin ketik.
Mereka duduk mengelilingi sebuah meja besar.
Di atas meja terpampang tulisan:
OPERASI RUPIAH JANGAN SAMPAI K.O.
Korupsinikus membuka rapat.
“Saudara-saudara tuyul. Kita punya masalah besar.”
“Dolar mahal.”
Semua mengangguk.
“Rupiah melemah.”
Semua mengangguk lagi.
“Rakyat mengeluh.”
Kali ini semua diam.
Korupsinikus kemudian mengeluarkan sebuah proposal.
“Solusinya sederhana.”
Semua mendekat.
“Cetak rupiah sebanyak-banyaknya.”
Seorang tuyul langsung protes.
“Bukankah kalau uang beredar terlalu banyak justru bisa memicu inflasi?”
Korupsinikus menatapnya tajam.
“Jangan terlalu banyak membaca buku ekonomi.”
Tuyul itu langsung menunduk.
“Maaf.”
“Di Negeri Konoha Raya,” lanjut Korupsinikus, “teori ekonomi harus disesuaikan dengan kebutuhan rapat.”
Lalu Tuyul Mendapat Tugas
Tugas pertama diberikan kepada Tuyul Perbankan.
“Cari dolar.”
“Untuk apa?”
“Beli.”
“Pakai apa?”
“Rupiah.”
“Kalau rupiah sedang lemah?”
Korupsinikus berpikir.
“Pinjam.”
“Dari siapa?”
“Bank.”
“Bank dapat uang dari mana?”
Korupsinikus mulai gelisah.
“Jangan banyak bertanya!”
Tugas kedua diberikan kepada Tuyul APBN.
“Cari devisa.”
“Dari mana?”
“Ekspor.”
“Ekspornya apa?”
Tuyul itu membuka map.
“Batu bara.”
“Sudah.”
“Nikel.”
“Sudah.”
“Minyak sawit.”
“Sudah.”
“Lalu?”
Tuyul membolak-balik kertas.
“Doa rakyat.”
Korupsinikus langsung berdiri.
“Jangan ngawur!”
Korupsinikus Mulai Serius
Untuk pertama kalinya Korupsinikus tampak benar-benar serius.
Ia lalu menjelaskan kepada para tuyul bahwa nilai tukar bukan permainan sulap.
Rupiah tidak bisa dibuat perkasa hanya dengan mengucapkan mantra.
Dolar tidak akan tiba-tiba jatuh hanya karena tuyul mencuri uang dari bawah bantal warga Amerika.
Ada perdagangan internasional.
Ada arus modal.
Ada suku bunga.
Ada cadangan devisa.
Ada kepercayaan pasar.
Ada kondisi geopolitik.
Ada harga komoditas.
Dan ada satu hal yang paling sulit dibeli:
kepercayaan.
Tuyul yang sejak tadi diam akhirnya bertanya.
“Jadi kita tidak bisa menurunkan dolar?”
Korupsinikus menjawab pelan.
“Bisa.”
“Bagaimana?”
“Dengan membuat dunia percaya kepada rupiah.”
Tuyul terdiam.
Ternyata jawaban Korupsinikus kali ini masuk akal.
Terlalu masuk akal malah.
Tapi Korupsinikus Tidak Betah Lama-Lama Bijaksana
Lima menit kemudian ia berubah pikiran.
“Namun,” katanya, “kalau membangun kepercayaan membutuhkan waktu terlalu lama, kita gunakan cara cepat.”
Semua tuyul kembali bersemangat.
“Apa caranya?”
Korupsinikus tersenyum.
“Jangan biarkan rakyat membeli dolar.”
“Bagaimana?”
“Bikin rakyat tidak punya uang.”
Semua tuyul terdiam.
“Kalau rakyat tidak punya uang,” lanjut Korupsinikus, “mereka tidak akan membeli dolar.”
Seorang tuyul mengangkat tangan.
“Tapi mereka juga tidak bisa membeli beras.”
Korupsinikus menjawab:
“Itu persoalan lain.”
Di sinilah Tuyul Mulai Curiga
Tuyul-tuyul mulai berbisik.
Mereka akhirnya sadar bahwa persoalan rupiah bukan sekadar soal bagaimana mendapatkan lebih banyak uang.
Persoalannya adalah bagaimana membuat uang itu bernilai.
Uang sebanyak apa pun tidak berarti jika harga barang terus naik.
Rupiah sebanyak apa pun tidak membuat rakyat makmur kalau daya belinya terus menyusut.
Dan mencetak uang sebanyak-banyaknya bukanlah sulap ekonomi.
Sebab kalau uang diperbanyak tanpa dibarengi pertumbuhan ekonomi dan produktivitas, yang mungkin bertambah bukan kesejahteraan, melainkan harga.
Korupsinikus akhirnya berdiri di depan papan tulis.
Ia menulis besar-besar:
RUPIAH KUAT = KEPERCAYAAN + PRODUKTIVITAS + STABILITAS
Kemudian ia menambahkan satu kalimat kecil di bawahnya:
BUKAN TUYUL.
Semua tuyul bertepuk tangan.
Tetapi Plot Twist-nya Datang Kemudian
Tiba-tiba seorang tuyul junior masuk tergesa-gesa.
“Bos!”
“Ada apa?”
“Saya menemukan cara paling cepat untuk memperkuat rupiah.”
Korupsinikus langsung tertarik.
“Apa?”
Tuyul itu menyerahkan selembar kertas.
Korupsinikus membacanya.
Wajahnya berubah.
“Ini serius?”
“Serius.”
“Apa caranya?”
Tuyul itu menjawab:
“Berhenti korupsi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tidak ada yang tertawa.
Bahkan Korupsinikus pun tidak bergerak.
Tuyul junior melanjutkan:
“Kalau uang negara tidak bocor, kalau proyek tidak dimahalkan, kalau anggaran tidak dicuri, kalau perizinan tidak dijadikan ladang pungutan, kalau kebijakan tidak dibajak kepentingan segelintir orang, kalau investor merasa hukum pasti dan bersih, kalau rakyat percaya kepada pemerintah…”
Ia berhenti sejenak.
“Bukankah kepercayaan terhadap rupiah juga akan lebih kuat?”
Korupsinikus menelan ludah.
Tuyul lain mulai gelisah.
Seorang tuyul senior bahkan diam-diam mematikan alat perekam rapat.
Korupsinikus Akhirnya Mengerti
Ternyata selama ini mereka mencari tuyul untuk menyelesaikan masalah yang justru dibuat oleh manusia.
Mereka mencari makhluk gaib untuk memperbaiki ekonomi.
Padahal penyakitnya bukan gaib.
Sangat nyata.
Ada di meja rapat.
Ada dalam lemari dokumen.
Ada dalam rekening.
Ada dalam proyek.
Ada dalam kebijakan.
Dan kadang-kadang…
Ada dalam diri manusia itu sendiri.
Korupsinikus kemudian menatap seluruh tuyul.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita bubarkan saja operasi ini.”
“Kenapa, Bos?”
“Karena ternyata tuyul tidak diperlukan.”
“Lalu?”
Korupsinikus tersenyum getir.
“Yang diperlukan justru manusia yang tidak bertingkah seperti tuyul.”
Rupiah Tidak Butuh Tuyul
Begitulah.
Mungkin solusi paling edan sekaligus paling sederhana untuk memperkuat rupiah bukanlah mencari makhluk gaib yang bisa mencuri uang.
Bukan pula mencetak uang tanpa batas.
Bukan menyalahkan dolar.
Bukan pula memarahi pasar setiap kali rupiah melemah.
Rupiah membutuhkan ekonomi yang produktif.
Ekspor yang kuat.
Investasi yang sehat.
Kebijakan yang kredibel.
Pengelolaan anggaran yang disiplin.
Penegakan hukum yang konsisten.
Dan terutama…
kepercayaan.
Sebab uang kertas pada dasarnya hanyalah selembar kertas.
Yang membuatnya bernilai adalah keyakinan bahwa besok, lusa, bulan depan, bahkan tahun depan, uang itu masih dapat digunakan untuk memperoleh barang dan jasa.
Maka kalau rupiah ingin dihormati dunia, jangan suruh tuyul bekerja terlalu keras.
Suruh manusia bekerja benar.
Dan kalau benar-benar ingin mencari tuyul, jangan mencarinya di kuburan.
Coba cari di balik meja-meja kekuasaan.
Barangkali mereka tidak bertubuh kecil.
Barangkali mereka mengenakan jas.
Barangkali mereka punya jabatan.
Barangkali mereka punya tanda tangan.
Dan barangkali…
mereka tidak pernah merasa sedang mencuri.
Korupsinikus kemudian menutup rapat.
Sebelum pergi, ia menulis satu kalimat terakhir di papan:
“Dolar boleh mahal. Rupiah boleh diuji. Tetapi jangan sampai harga kejujuran justru menjadi yang paling murah.”
Tuyul-tuyul pun pulang.
Tanpa membawa dolar.
Tanpa membawa rupiah.
Mereka hanya membawa satu kesimpulan:
Untuk menyelamatkan rupiah, ternyata kita tidak membutuhkan tuyul. Kita hanya membutuhkan manusia yang berhenti berperilaku seperti tuyul.
(Selesai).

