Esai Kontemplatif : Harri Safiari
ALGIVON.ID — Konon, di sebuah negeri yang sangat gemar menggelar rapat, tetapi sering kali gugup ketika mendengar kata evaluasi, Korupsinikus sedang duduk di sebuah warung kopi. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mulai mendingin, sementara matanya asyik menelusuri berita-berita dunia.
Pandangannya berhenti pada satu nama yang nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan: Donald Trump.
Di mata para pendukungnya, ia sosok yang penuh keberanian. Di mata para pengkritiknya, ia laksana pabrik kontroversi yang tak pernah berhenti berproduksi. Satu kalimat darinya sanggup membuat dunia gaduh berhari-hari.
Korupsinikus pun tersenyum.
Lalu berkhayal.
“Bagaimana kalau Donald Trump duduk semeja dengan Dadan Hindayana Cs mengelola program ‘Embege’?”
Ia terkekeh pelan.
Bukan karena yakin semuanya akan menjadi lebih baik.
Justru karena membayangkan betapa rapinya segala sesuatu akan dikemas.
Dalam lamunannya, Trump membuka rapat dengan penuh percaya diri.
Program ini yang terbesar sepanjang sejarah. Tidak pernah ada program sebesar ini. Semua orang memujinya. Kalau ada yang mengkritik, pasti mereka tidak suka anak-anak makan.
Di sebelahnya, tim Embege segera menyalakan layar presentasi.
Muncullah bagan alur yang bercabang ke mana-mana, grafik penuh warna, istilah teknokratis yang mempesona, indikator yang berlapis-lapis, metodologi yang rumit, serta singkatan-singkatan yang mungkin hanya dipahami oleh para penyusunnya sendiri.
Korupsinikus manggut-manggut.
“Luar biasa… Yang satu piawai menjual narasi. Yang satu lagi piawai membuat narasi itu tampak ilmiah dan meyakinkan.”
Kolaborasi yang Nyaris Sempurna
Dalam dunia Korupsinikus, keberhasilan sebuah program negara sering kali tidak diukur dari kenyataan di lapangan.
Melainkan dari seberapa sering konferensi pers digelar.
Seberapa banyak infografik dipublikasikan.
Dan seberapa fasih kata transparansi diucapkan.
Aneh memang.
Semakin sering kata transparansi dikumandangkan, terkadang justru semakin sulit publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Barangkali begitulah salah satu sihir birokrasi modern.
Korupsinikus lalu membayangkan sebuah papan raksasa bertuliskan:
“PROGRAM BERJALAN SANGAT BAIK.”
Di bawah papan itu, masyarakat masih memperdebatkan data.
Ada yang mempertanyakan anggaran.
Ada yang memperdebatkan mekanisme.
Ada yang mencari siapa mitra sebenarnya.
Ada pula yang bertanya siapa yang harus bertanggung jawab bila sesuatu berjalan keliru.
Tetapi papan besar itu tetap berdiri tegak.
Tak pernah berubah.
Tak pernah kusut.
Selalu optimistis.
Selalu tersenyum.
Karena dalam banyak urusan publik, citra kadang menjadi makanan yang dianggap lebih bergizi daripada fakta.
Dalam khayalan Korupsinikus, Trump kembali mengangkat tangan.
Kalau kenyataannya rumit, slogannya harus sederhana.
Semua mengangguk.
Tim Embege kemudian menjelaskan bahwa setiap persoalan memiliki variabel, indikator, metodologi, parameter evaluasi, serta dinamika implementasi yang kompleks.
Trump mengangguk.
Korupsinikus ikut mengangguk.
Tetapi rakyat hanya memiliki satu pertanyaan.
“Anak-anaknya sudah benar-benar makan dengan baik atau belum?”
Pertanyaan yang justru paling sulit dijawab oleh dunia yang terlalu sibuk menyusun narasi.
Pada akhirnya Korupsinikus sadar, persoalan sebuah program negara bukan ditentukan oleh siapa yang paling pandai berbicara.
Bukan pula oleh siapa yang paling mahir membuat diagram.
Yang dibutuhkan rakyat sesungguhnya jauh lebih sederhana.
Data yang jujur.
Pengelolaan yang bersih.
Dan keberanian mengakui kesalahan ketika memang terjadi kesalahan.
Sebab sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa sebuah program dapat bertahan oleh pidato.
Namun kepercayaan publik hanya bertahan oleh integritas.
Korupsinikus menyeruput kopinya yang mulai dingin.
Lalu berbisik pelan.
“Andaikan seluruh energi untuk membangun pencitraan dipakai membangun tata kelola, mungkin negeri ini tidak perlu terlalu sering menciptakan slogan baru.”
Ketika Kenyataan Mengetuk Pintu
Lalu kenyataan datang.
Dan kenyataan, tidak pernah meminta izin.
Pada Rabu, 3 Juni 2026, Kejaksaan Agung menetapkan dan menahan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung dalam perkara dugaan korupsi pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Warung kopi yang tadi riuh mendadak terasa sunyi.
Lima hari kemudian, Presiden Prabowo Subianto melantik Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN yang baru.
Sementara itu, penyidikan terus bergulir. Kejaksaan Agung menelusuri dugaan keterlibatan pihak-pihak lain dalam perkara yang berkaitan dengan pengelolaan anggaran Program MBG yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah.
Korupsinikus menatap sisa kopi di dasar cangkir.
Ia menarik napas panjang.
“Untunglah Donald Trump hanya hadir dalam khayalan,” gumamnya.
“Kalau benar ikut mengelola ‘Embege’, mungkin urusannya akan bercampur dengan perang Iran-Amerika Serikat, isu Selat Hormuz, harga minyak dunia, dan segala kegaduhan global yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan amburadulnya tata kelola program ini di Negeri Konoha Raya.”
Ia lalu tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum getir yang lahir ketika imajinasi akhirnya dikalahkan oleh kenyataan.
Sebab ternyata, tanpa bantuan siapa pun dari luar negeri, negeri ini sudah cukup pandai menciptakan dramanya sendiri.
Korupsinikus menghabiskan tegukan terakhir kopinya.
Kemudian berkata lirih,
“Syukurlah, Trump hanya mampir dalam khayalan.”
“Yang benar-benar datang ternyata cukup kenyataan itu sendiri.”
Dan seperti biasa…
kenyataan sering kali jauh lebih satiris daripada segala satire yang sanggup ditulis manusia.
(Selesai)
BACA JUGA: Korupsinikus: “Di Tengah Rupiah Oleng dan Dolar Menyeringai, Rakyat Jelata Disuruh ‘Hedging’?”

