Esai Kontemplatif: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Menjelang akhir Juni 2026, Presiden Negeri Konoha Raya (NKR) mengungkap adanya pihak-pihak yang diduga membiayai aksi demonstrasi mahasiswa. Pernyataan itu muncul di tengah ramainya dugaan suap Rp20 juta kepada pimpinan BEM FH UBK.
Bagi sebagian warga NKR, kasus ini bukan sekadar soal angka. Yang dipertaruhkan adalah marwah gerakan mahasiswa sebagai salah satu penjaga nurani demokrasi.
“Hancur minah. Malu semalu-malunya,” ujar Korupsinikus, pengamat sekaligus pegiat demokrasi yang konon mendapat mandat dari semesta untuk terus mengingatkan negeri agar tidak terlalu jauh tersesat oleh korupsi.
Menurutnya, setitik noda bisa mencoreng perjuangan panjang mahasiswa yang selama ini identik dengan idealisme dan keberanian melawan ketidakadilan.
Di sebuah warung kopi sederhana, Rubi—aktivis antikorupsi yang sedang menyaksikan siaran televisi bersama Korupsinikus—ikut menanggapi kasus tersebut.
“Kalau dugaan ini benar, yang terluka bukan hanya nama mahasiswa tertentu. Yang tergores adalah kepercayaan publik. Semoga ini jadi pelajaran agar gerakan mahasiswa ke depan makin jernih, makin mandiri, dan makin sulit dibeli,” kata Rubi.
Usut Saja …
Keesokan harinya, Korupsinikus mendapat pertanyaan dari para pewarta: apa yang sebaiknya dilakukan Presiden jika memang sudah mengetahui persoalan tersebut?
“Saya kira Presiden punya banyak penasihat hebat. Tinggal pastikan proses hukumnya jelas dan terbuka. Saran saya sederhana: usut saja. Jangan berlama-lama,” jawabnya.
Ia lalu menutup pernyataannya dengan kalimat yang membuat beberapa orang terdiam sejenak.
“Rp20 juta memang terlihat kecil jika dibanding korupsi miliaran atau triliunan rupiah. Tapi bila uang itu benar dipakai untuk membeli idealisme, kerusakannya bisa jauh lebih mahal dan dahsyat daripada nilai uangnya. Sebab ketika kepercayaan publik runtuh, yang ambruk bukan satu orang, melainkan satu generasi.”
Korupsinikus lalu menghabiskan kopinya. Pahit memang, namun masih kalah pahit dibanding kabar, sebagian orang mulai percaya: “ternyata bukan hanya sembako dan BBM yang bisa disubsidi, demonstrasi pun konon ada yang mau dibiayai, malah diobral.”
(Selesai)

