Sen. Jul 13th, 2026

Hindari Kesan ‘Jeruk Makan Jeruk’, Korupsinikus: Limpahkan ke KPK, Bukan ke Ruang yang Menyisakan Curiga

Esai Kontemplatif: Harri Safiari

ALGIVON.IDAda satu ujian yang selalu membuat hukum berkeringat. Bukan ketika mengadili pencuri ayam, pengedar narkoba, atau koruptor kelas teri. Hukum benar-benar diuji ketika harus mengadili orang yang pernah duduk di kursi terhormat dalam rumahnya sendiri. Di situlah keadilan tidak lagi diukur oleh tebalnya berkas perkara, melainkan oleh tipis atau tebalnya kepercayaan rakyat.

Maka, ketika mencuat kabar bahwa mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) FA, yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri dan Polda Metro Jaya, akan menjalani proses hukum yang berpotensi menimbulkan kesan seolah “rumah lama mengadili penghuni lamanya”, kegelisahan publik pun tak terelakkan.

Korupsinikus hanya menghela napas.

“Limpahkan saja ke KPK. Bukan karena saya tidak percaya kepada siapa pun, tetapi karena hukum bukan hanya harus adil. Hukum juga harus membuat rakyat percaya bahwa keadilan itu sedang bekerja.”

Ia berhenti sejenak.

“Kalau tidak, yang diadili bukan lagi tersangkanya. Yang menjadi terdakwa adalah kepercayaan publik.”

Beberapa wartawan saling berpandangan.

Korupsinikus kembali berbicara.

“Peribahasa jeruk makan jeruk itu sebenarnya sudah terlalu sopan. Yang membuat rakyat resah bukan jeruk memakan jeruk. Yang mereka takutkan adalah kebun jeruk dijaga oleh orang-orang yang terlalu hafal letak pintu belakangnya.”

Suasana mendadak sunyi.

Rubi, sahabatnya yang kantongnya hampir selalu lebih tipis daripada isi pidato pejabat, tersenyum tipis.

Korupsinikus melanjutkan.

“Korupsi tidak pernah menjadi besar karena uangnya semata. Korupsi menjadi raksasa karena rasa sungkan. Karena pertemanan. Karena bekas atasan. Karena bekas bawahan. Karena hutang budi. Karena merasa tidak enak hati. Padahal hukum tidak mengenal saudara. Yang dikenal hukum hanyalah benar atau salah.”

Ia mengambil sebuah jeruk dari kantong kain lusuhnya.

Jeruk itu dipandang lama.

“Lihatlah.”

“Kalau jeruk ini busuk di satu sisi, saya tidak akan memakan sisi yang lain sambil pura-pura mengatakan buahnya masih segar.”

Ia mengangkat jeruk itu lebih tinggi.

“Begitu pula hukum.”

“Satu perkara saja dipenuhi prasangka, maka rasa pahitnya akan menjalar ke seluruh kebun.”

Seorang wartawan bertanya, “Jadi, apa yang paling berbahaya menurut Anda?”

Korupsinikus tersenyum.

“Bukan korupsinya.”

“Tetapi ketika rakyat mulai percaya bahwa siapa yang mengadili sudah dapat ditebak sebelum sidang dimulai.”

Ia menatap langit yang mulai redup.

“Negeri tidak pernah runtuh hanya karena banyak pencuri.”

“Negeri runtuh ketika rakyat berhenti percaya kepada penjaga gudangnya.”

Korupsinikus kemudian membelah jeruk itu.

Setengahnya diberikan kepada anak kecil yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan.

“Vitamin C lebih berguna untuk masa depan bangsa daripada vitamin pencitraan.”

Anak kecil itu tertawa.

Para wartawan terdiam.

Korupsinikus lalu menyimpan kembali kulit jeruk yang tersisa.

“Kelak sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling pandai berpidato tentang pemberantasan korupsi.”

“Sejarah hanya akan bertanya satu hal.”

Siapa yang berani membuktikan bahwa hukum sanggup mengadili bayangannya sendiri.

(Selesai).

BACA JUGA: Rp20 Juta Membeli Demo? Korupsinikus: Demokrasi Jangan Diobral, Minah!

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *