Esai Satire-Kontemplatif
Oleh: Harri Safiari
Ada kalanya Korupsinikus keluar dari persembunyiannya.
Bukan untuk mencuri uang.
Bukan pula untuk mencari proyek baru.
Kali ini ia hanya ingin berjalan kaki.
Menyusuri gang sempit, pasar yang mulai sepi, warung kopi yang dihuni lelaki-lelaki tua, terminal yang dipenuhi orang-orang dengan tujuan yang belum tentu jelas, hingga trotoar tempat rakyat kecil sesekali berhenti untuk menarik napas.
Sebagai makhluk yang konon lahir dari rahim kekuasaan yang kebanyakan mengunyah uang rakyat, Korupsinikus sebenarnya punya bakat membaca keadaan.
Ia memang korup.
Tetapi, menurut pengakuannya sendiri, ia bukan makhluk bodoh.
“Kalau saya boleh jujur,” katanya suatu malam sambil duduk di bangku warung kopi, “saya mulai bingung. Mengapa manusia begitu bernafsu mempertahankan kekuasaan, tetapi begitu pelit memperpanjang kesejahteraan rakyat?”
Para pelanggan warung terdiam.
Kalimat itu terdengar terlalu serius untuk keluar dari mulut Korupsinikus.
Tetapi begitulah filsuf jalanan bekerja.
Ia tidak selalu datang membawa buku.
Kadang datang membawa luka.
Kadang membawa ironi.
Dan sesekali membawa kalimat yang membuat orang ingin tertawa, tetapi setelah pulang malah kepikiran semalaman.
Korupsinikus dan Filosofi Perut Kosong
Menurut Korupsinikus, persoalan bangsa ini sebenarnya sederhana.
“Orang lapar tidak terlalu peduli siapa yang paling berkuasa,” ujarnya. “Ia lebih peduli siapa yang bisa membuat harga kebutuhan hidup tidak membuat kepalanya berputar.”
Logika Korupsinikus memang kasar.
Tetapi bukankah banyak filsafat besar justru lahir dari pertanyaan sederhana?
Apa gunanya jalan tol kalau orang tidak mampu membeli makanan?
Apa gunanya gedung-gedung megah kalau anak-anak di kampung masih takut membayangkan biaya sekolah?
Apa gunanya statistik pertumbuhan ekonomi kalau rakyat kecil tetap harus mengutang untuk bertahan sampai akhir bulan?
Dan apa gunanya berebut kursi kekuasaan sampai bertahun-tahun kalau sebagian rakyat masih merasa hidupnya jalan di tempat?
Korupsinikus menggaruk kepalanya.
“Negeri ini terlalu sering membicarakan kursi,” katanya, “padahal rakyat lebih membutuhkan meja makan.”
Kalimat itu membuat warung kopi mendadak sunyi.
Ketika Politik Terlalu Sibuk Mengurus Dirinya Sendiri
Korupsinikus kemudian berjalan lagi.
Di depan sebuah baliho besar, ia berhenti cukup lama.
Wajah-wajah politik tersenyum.
Janji-janji terpampang.
Masa depan ditawarkan dengan bahasa yang menggelegar.
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Menarik.”
Seorang pedagang bertanya, “Apa yang menarik?”
“Manusia bisa menjual masa depan dengan sangat mahal,” jawabnya, “padahal rakyat belum tentu punya uang untuk membeli kebutuhan hari ini.”
Lalu ia tertawa.
Tawa Korupsinikus bukan tawa bahagia.
Lebih mirip suara benda tua yang sedang retak.
Ia tahu bahwa politik memang penting.
Negara membutuhkan kekuasaan.
Pemerintahan membutuhkan kepemimpinan.
Demokrasi membutuhkan kompetisi.
Tetapi, menurut Korupsinikus, semua itu hanyalah alat.
Tujuannya tetap manusia.
Kalau manusia justru dilupakan setelah kekuasaan diperoleh, maka politik telah berubah menjadi permainan yang hanya asyik bagi para pemainnya.
Penonton tinggal membayar tiket.
Dan rakyat, tentu saja, membayar dengan pengorbanan hidupnya.
Korupsinikus Mulai Gelisah
Semakin ia berjalan, semakin banyak yang dilihat.
Petani yang menghitung biaya pupuk.
Pedagang kecil yang menunggu pembeli.
Buruh yang menunggu kepastian upah.
Anak muda yang mengirim lamaran pekerjaan berkali-kali.
Orang tua yang diam-diam mengurangi kebutuhan dirinya sendiri agar anaknya tetap bisa sekolah.
Korupsinikus mendadak tidak banyak bicara.
Ia seperti sedang melihat cermin.
Barangkali untuk pertama kalinya, ia melihat dari mana sesungguhnya kekayaan yang pernah ia nikmati berasal.
“Jangan-jangan,” gumamnya, “yang selama ini saya kira angka, ternyata manusia.”
Ia terdiam.
Ada kegelisahan yang menggeliat dalam dirinya.
Sebab selama ini Korupsinikus memahami korupsi sekadar sebagai seni memindahkan sesuatu dari kantong banyak orang ke kantong beberapa orang.
Tetapi kini ia mulai memahami sesuatu yang jauh lebih besar.
Korupsi bukan hanya soal uang.
Korupsi juga dapat terjadi ketika masa depan rakyat dirampas oleh ambisi kekuasaan.
Ketika kesempatan diperuntukkan bagi orang-orang tertentu.
Ketika kebijakan lebih sibuk menyelamatkan citra daripada menyelamatkan kehidupan.
Ketika negara terlalu lama berbicara tentang siapa yang berkuasa dan terlalu sedikit berbicara tentang bagaimana rakyat sejahtera.
Filsafat Jalanan Korupsinikus
Malam semakin larut.
Korupsinikus duduk di pinggir trotoar.
Ia lalu mengeluarkan secarik kertas.
“Ini filsafat saya,” katanya.
“Boleh dibaca?”
“Silakan.”
Tulisannya sederhana:
Jangan wariskan kursi kepada rakyat.
Wariskanlah kesejahteraan.Jangan wariskan jabatan.
Wariskanlah kesempatan.Jangan wariskan kekuasaan.
Wariskanlah masa depan.
Orang-orang di sekitarnya mulai mendekat.
Korupsinikus melanjutkan:
“Kalau suatu hari saya mati, jangan dirikan patung saya. Saya ini Korupsinikus. Tidak pantas dijadikan teladan.”
Mereka tertawa.
“Tapi kalau kalian ingin mengenang saya, pastikan anak-anak kalian hidup lebih baik daripada kalian.”
Tawa berhenti.
“Karena negara yang besar bukan negara yang pemimpinnya berhasil bertahan paling lama.”
Ia menarik napas.
“Negara yang besar adalah negara yang rakyat kecilnya tidak lagi takut menghadapi hari esok.”
Kekuasaan Bukan Tujuan Akhir
Di sinilah Korupsinikus mulai menemukan sisi filsufnya.
Menurutnya, manusia terlalu sering terjebak pada pertanyaan:
Siapa yang berkuasa?
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang dilakukan kekuasaan terhadap kehidupan manusia?
Kekuasaan boleh berganti tangan.
Pemerintahan boleh berubah.
Partai boleh datang dan pergi.
Koalisi boleh terbentuk lalu pecah.
Tokoh politik boleh naik setinggi langit dan suatu hari turun kembali ke tanah.
Tetapi rakyat tetap tinggal.
Petani tetap menanam.
Buruh tetap bekerja.
Pedagang tetap membuka kios.
Anak-anak tetap tumbuh.
Mereka semua adalah pemilik masa depan yang sebenarnya.
Karena itu, Korupsinikus punya satu pesan yang terus ia ulang-ulang:
Jangan sampai negara sibuk mempertahankan kekuasaan, sementara rakyat sibuk mempertahankan sekedar hidup.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dibantah.
2029 dan Tahun-Tahun Sesudahnya
Korupsinikus pun sampai pada satu pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa manusia begitu cepat berpikir tentang kekuasaan pada masa mendatang?
Tidak ada yang salah dengan merancang masa depan politik.
Yang menjadi masalah adalah ketika seluruh daya pikir bangsa akhirnya habis untuk mengatur siapa yang duduk di kursi, sementara persoalan rakyat dibiarkan menunggu.
2029 akan datang.
Dan setelah 2029, akan ada tahun-tahun berikutnya.
Politik akan terus bergerak.
Nama-nama baru akan muncul.
Kampanye akan berganti.
Slogan akan diperbarui.
Tetapi rakyat tetap akan menanyakan hal-hal yang sama:
Apakah hidup saya lebih mudah?
Apakah anak saya punya kesempatan lebih besar?
Apakah pekerjaan lebih tersedia?
Apakah biaya hidup lebih masuk akal?
Apakah negara hadir ketika saya membutuhkan?
Inilah ujian sesungguhnya.
Bukan berapa lama seseorang dapat mempertahankan kekuasaan.
Melainkan berapa banyak kehidupan manusia yang berhasil diperbaiki selama kekuasaan itu berada di tangannya.
Korupsinikus Kembali Menggeliat
Menjelang subuh, Korupsinikus berdiri.
Ia menggeliat.
Bukan karena mengantuk.
Ia menggeliat seperti ular yang baru saja menemukan jalan keluar dari kotak.
“Besok saya mau jalan lebih jauh,” katanya.
“Mau ke mana?”
“Ke tempat orang-orang yang tidak punya mikrofon.”
“Mau bicara apa?”
Korupsinikus tersenyum.
“Saya mau bertanya kepada mereka, apa sebenarnya yang mereka inginkan dari negara.”
Ia berhenti sebentar.
“Bukan yang ingin didengar penguasa.”
“Lalu?”
“Yang benar-benar mereka butuhkan.”
Korupsinikus kemudian melangkah.
Geliatannya kecil.
Tetapi arah pikirannya mulai melebar ke mana-mana.
Ia tidak lagi hanya menggeliat sebagai simbol kerakusan.
Ia menggeliat sebagai kritik.
Sebagai gangguan kecil terhadap kesombongan kekuasaan.
Sebagai suara jalanan yang mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah berhenti pada kursi.
Sebab setelah pemilu selesai, setelah baliho diturunkan, setelah pidato berakhir, setelah para pemenang kembali ke rumah masing-masing—
rakyat tetap harus menjalani hidup.
Dan mungkin inilah filsafat terakhir Korupsinikus:
Kekuasaan boleh berganti.
Negara boleh berubah.
Pemimpin boleh datang dan pergi.
Tetapi kesejahteraan rakyat jangan pernah menjadi korban yang ikut berganti.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya akan bertanya:
“Siapa yang berkuasa?”
Sejarah juga akan bertanya:
“Ketika berkuasa, apa yang kalian lakukan terhadap rakyat?”
Dan kalau jawabannya ternyata hanya berkisar pada bagaimana mempertahankan kuasa, Korupsinikus mungkin akan menggeliat lagi dari kuburnya.
Kali ini bukan untuk mencuri.
Melainkan untuk tertawa.
Tertawa panjang sekali.
Sebab, katanya, ada satu jenis korupsi yang paling berbahaya:
ketika masa depan rakyat dikorupsi demi masa depan kekuasaan.
(Selesai)
BACA JUGA: Kerugian Menjadi Tuyul, Korupsinikus: Terkadang Ada Sisi Menguntungkan…

