Bisnis Tuyul Berprospek Cerah? Korupsinikus: Bikin FS Dulu Sebelum Mulai!

Esai Satire — Harri Safiari

ALGIVON.IDSiapa bilang bisnis tuyul selalu berprospek cerah?

Jangan mentang-mentang tuyul sejak zaman dahulu dikenal sebagai makhluk mungil yang punya spesialisasi mengambil uang orang lain, lalu bisnisnya dianggap pasti menguntungkan.

Itu cara berpikir kuno.

Di zaman serba digital, bahkan tuyul pun harus realistis.

Sebelum membuka peternakan tuyul, misalnya, calon investor seharusnya membuat Feasibility Study (FS) terlebih dahulu.

Jangan asal membeli kandang.

Jangan asal mencari dukun.

Jangan pula langsung berburu bibit tuyul hanya karena tetangga sebelah mendadak punya rumah tiga lantai.

Menurut Korupsinikus, filsuf jalanan Negeri Konoha Raya, bisnis tuyul sekarang menghadapi tantangan yang jauh lebih berat daripada zaman dahulu.

“Jangan kira mengambil uang sekarang gampang,” katanya sambil mengaduk kopi.

“Uangnya sudah pindah bentuk.”

Itulah persoalannya.

Dulu uang ada di dompet.

Sekarang uang bisa berada di rekening, e-wallet, QRIS, saham, obligasi, reksa dana, aset digital, bahkan crypto yang harganya bisa naik-turun lebih cepat daripada denyut jantung tuyul ketika melihat pocong.

Crypto: Musuh Baru Dunia Pertuyulan

Inilah salah satu ancaman serius.

Tuyul tradisional hanya dibekali kemampuan mengambil uang secara konvensional.

Sementara crypto bekerja dengan teknologi blockchain.

Tidak kelihatan.

Tidak bisa dipegang.

Tidak ada dompet yang bisa dicopet.

Tidak ada laci kasir yang bisa dibongkar.

Tuyul pun akhirnya bertanya:

“Kalau asetnya cuma angka digital dan tersimpan dalam wallet, saya harus mengambilnya dari mana?”

Pertanyaan tersebut membuat para peternak tuyul mengadakan rapat luar biasa.

Ada yang mengusulkan tuyul belajar teknologi blockchain.

Ada yang mengusulkan perekrutan tuyul lulusan informatika.

Bahkan muncul gagasan mendirikan Akademi Crypto-Tuyul Nusantara.

Namun rencana itu kandas karena para pengajarnya sendiri tidak mampu menjelaskan secara sederhana apa sebenarnya yang mereka ajarkan.

Korupsinikus tertawa.

“Kasihan tuyul. Dulu cukup belajar mencuri. Sekarang harus belajar kriptografi.”

Lalu Bagaimana Menembus IHSG?

Persoalan berikutnya jauh lebih pelik.

IHSG. Indeks Harga Saham Gabungan itu ibarat lautan uang.

Di sana beredar transaksi saham dengan nilai yang tidak sedikit.

Maka muncullah pertanyaan besar dalam komunitas pertuyulan:

“Mengapa kita tidak masuk ke pasar saham saja?”

Pertanyaan sederhana.

Jawabannya tidak sederhana.

Bagaimana tuyul memasuki IHSG?

Apakah ia membeli saham?

Apakah ia menjadi investor?

Atau cukup duduk di pojok ruang perdagangan sambil menunggu remah-remah keuntungan jatuh?

Masalahnya, pasar saham memiliki mekanisme yang jauh lebih rumit daripada mencuri uang dari bawah bantal.

Ada broker.

Ada kustodian.

Ada rekening efek.

Ada analisis fundamental.

Ada analisis teknikal.

Ada sentimen pasar.

Ada laporan keuangan.

Ada corporate action.

Ada risiko.

Dan yang paling menyakitkan bagi tuyul:

Tidak ada satu pun yang bisa diselesaikan dengan sesajen.

Maka dalam rapat terbatas Asosiasi Peternak Tuyul Berkelanjutan, muncul rekomendasi:

“Jangan buru-buru masuk IHSG sebelum memahami pasar modal.”

Korupsinikus bahkan mengusulkan agar setiap calon investor tuyul diwajibkan mengikuti sertifikasi.

Materinya antara lain:

Tuyul Dasar Pasar Modal.

Manajemen Risiko Makhluk Halus.

Analisis Fundamental untuk Makhluk Tak Kasatmata.

Etika Investasi.

Dan yang paling sulit:

Cara Menerima Kerugian Tanpa Menyalahkan Dukun.

Remah-remah Uang pun Tidak Gratis

Ternyata untuk memperoleh remah-remah uang di pasar saham pun diperlukan modal.

Ini kabar buruk.

Sebab selama ini tuyul terbiasa mengambil uang.

Bukan membeli aset yang berpotensi menghasilkan uang.

Konsep investasi rupanya membuat dunia pertuyulan mengalami revolusi pemikiran.

Tuyul mulai mengenal istilah:

buy and hold.

Padahal naluri mereka sejak dahulu adalah:

take and run.

Perbedaan filosofi ini sangat mendasar.

Zaman Sulit, Bisnis Pun Harus Cermat

Di sinilah kesimpulan sementara Korupsinikus menjadi semakin serius.

Jangan memulai bisnis tuyul hanya karena mendengar cerita bahwa tuyul itu menguntungkan.

Zaman sudah berubah.

Daya beli masyarakat berubah.

Sistem pembayaran berubah.

Teknologi berubah.

Bentuk uang berubah.

Regulasi berubah.

Bahkan cara manusia menyembunyikan uang pun berubah.

Maka bisnis tuyul pun harus melakukan FS secara serius.

Hitung modal.

Hitung biaya pemeliharaan.

Hitung risiko.

Hitung umur produktif.

Hitung tingkat keberhasilan.

Hitung kemungkinan ditangkap warga.

Hitung pula biaya reputasi apabila ketahuan.

Jangan lupa menghitung biaya pendidikan.

Sebab tuyul zaman sekarang, kalau ingin kompetitif, minimal harus bisa membaca laporan keuangan.

Kesimpulan Korupsinikus

Akhirnya Korupsinikus mengeluarkan satu kesimpulan yang membuat para calon investor tuyul terdiam.

“Bisnis tuyul bukan bisnis haram atau halal dalam hitungan saya. Ia bisnis yang harus dihitung.”

Semua mengangguk.

Lalu ia melanjutkan:

“Kalau zaman dulu orang memulai bisnis tuyul karena melihat tetangganya kaya, zaman sekarang jangan. Buat FS dulu. Bisa jadi setelah dihitung, ternyata biaya memelihara tuyul lebih mahal daripada membeli saham.”

Ruangan kembali hening.

Seorang tuyul muda mengangkat tangan.

“Kalau begitu, bisnis apa yang prospeknya cerah, Mbah?”

Korupsinikus menatapnya lama.

“Entahlah.”

“Kenapa?”

“Kalau saya tahu, saya sudah IPO.”

Dan rapat pun bubar.

Tuyul pulang ke kandang.

Investor pulang membawa FS.

Sedangkan manusia tetap mencari jalan tercepat untuk kaya.

Bedanya, manusia sekarang tidak selalu membutuhkan tuyul.

Karena sebagian manusia sudah menemukan cara membuat uang bergerak sendiri.

Dan di situlah dunia pertuyulan benar-benar mulai menggelegar.

Bukan karena tuyul semakin sakti.

Tetapi karena mereka mulai sadar:

di zaman serba sulit, bahkan makhluk gaib pun harus melakukan studi kelayakan sebelum membuka usaha.

(Selesai).

BACA JUGA: Korupsinikus: Ketika USD2,77 Miliar Terlihat Indah, tetapi Rp1,56 Triliun Menjadi Harga yang Harus Dibayar