Korupsinikus: Siapa Tahu Jadi Emiten!

Kejadian Juga, Tuyul Ikut IPO!

Esai Satire — Harri Safiari

ALGIVON.IDAkhirnya terjadi juga.

Setelah bertahun-tahun hidup di dunia yang serba mistis, terselubung, sembunyi-sembunyi dan hanya beroperasi dari rumah ke rumah, tuyul akhirnya memutuskan untuk go public.

Bukan sekadar menjadi investor.

Bukan sekadar membeli saham.

Bukan pula sekadar mencari remah-remah keuntungan di pasar modal.

Tuyul ingin menjadi emiten!

Korupsinikus yang pertama kali mendengar kabar itu sampai tersedak kopi.

“Serius?”

“Serius.”

“Jadi tuyul mau IPO?”

“Betul.”

“Atas nama siapa?”

“Atas nama perseroan.”

Korupsinikus terdiam.

Lalu tersenyum.

“Hebat. Zaman memang sudah berubah.”

Dulu tuyul bekerja secara senyap.

Sekarang mau menawarkan saham kepada publik.

Dulu mereka masuk rumah orang melalui celah-celah kecil.

Sekarang ingin masuk bursa melalui prospektus.

Dulu takut ketahuan pemilik rumah.

Sekarang justru harus dikenal investor.

Inilah transformasi paling spektakuler dalam sejarah dunia pertuyulan.

Dari Kandang ke Lantai Bursa

Setelah menyelesaikan Feasibility Study yang cukup serius, para pengusaha tuyul akhirnya menyimpulkan bahwa bisnis mereka masih memiliki prospek.

Tentu saja dengan sejumlah catatan.

Pasarnya harus diperluas.

Model bisnis harus diperbarui.

Teknologi harus dikuasai.

Manajemen risiko harus diperketat.

Dan yang paling penting:

bisnis tuyul tidak boleh lagi bergantung kepada uang tunai.

Maka lahirlah gagasan besar:

Tuyul Corporation Tbk.

Perusahaan itu didirikan dengan visi yang sangat modern:

“Menjadi perusahaan makhluk gaib terkemuka di Asia dan dunia.”

Misinya lebih dahsyat lagi:

“Mengubah aset mistis menjadi nilai ekonomi berkelanjutan.”

Para konsultan pun langsung berdatangan.

Ada konsultan hukum.

Ada konsultan keuangan.

Ada konsultan komunikasi.

Ada konsultan ESG.

Bahkan ada konsultan spiritual.

Yang terakhir ini paling mahal.

Sebab menurut Korupsinikus, “Kalau konsultan keuangan salah menghitung, kerugiannya bisa miliaran. Kalau konsultan spiritual salah membaca aura, bisa-bisa seluruh bisnisnya bangkrut sebelum IPO.”

Prospektus Tuyul Bikin Investor Merinding

Prospektus akhirnya diterbitkan.

Isinya cukup lengkap.

Ada sejarah perusahaan.

Ada struktur organisasi.

Ada proyeksi pendapatan.

Ada risiko usaha.

Ada strategi ekspansi.

Ada penggunaan dana hasil IPO.

Dan ada satu bagian yang membuat investor terdiam:

“Risiko utama: perubahan teknologi, digitalisasi transaksi, regulasi, dan kemungkinan hilangnya kebutuhan terhadap jasa makhluk gaib.”

Korupsinikus mengangguk.

“Ini baru prospektus.”

Sebab perusahaan tuyul ternyata sudah belajar satu hal penting:

bisnis bukan cuma soal peluang, tetapi juga soal risiko.

Langkah Pertama: Melantai di Bursa Indonesia

Akhirnya hari bersejarah itu tiba.

Tuyul Corporation Tbk resmi menawarkan saham kepada publik.

Para investor berebut.

Bukan karena semuanya percaya pada prospek bisnisnya.

Sebagian hanya penasaran.

Sebagian ingin ikut sejarah.

Sebagian lagi mungkin berpikir:

“Kalau selama ini tuyul mengambil uang, siapa tahu setelah IPO justru bisa menghasilkan uang.”

Bel pembukaan perdagangan berbunyi.

Layar elektronik bergerak.

Harga saham naik.

Tuyul-tuyul di ruang kontrol bersorak.

Korupsinikus hanya berbisik:

“Dari kandang akhirnya sampai ke bursa.”

Tapi IPO Baru Awal

Rupanya keberhasilan melantai di bursa domestik belum membuat para tuyul puas.

Dalam rapat pemegang saham luar biasa, muncul agenda baru:

Ekspansi Asia.

Target pertama?

Hong Kong.

Bukan lagi sekadar menjadi pemain lokal.

Tuyul ingin dikenal investor internasional.

Mereka mulai memimpikan pasar yang lebih besar.

Hang Seng masuk daftar.

Tokyo juga masuk radar, meski para konsultan kemudian mengingatkan:

“Kalau Hong Kong, Anda bicara pasar Hong Kong dan indeks Hang Seng. Kalau Jepang, jangan bilang masuk Hang Seng. Itu Tokyo.”

Rapat sempat terhenti.

Ketua Tuyul Corporation mengetuk meja.

“Baik. Hong Kong kita kejar Hang Seng. Jepang kita kejar Tokyo Stock Exchange.”

Semua mengangguk.

Korupsinikus tersenyum.

“Bagus. Sekarang tuyul sudah belajar geografi pasar modal.”

Setelah Asia, Amerika!

Namun rupanya ambisi mereka tidak berhenti di Asia.

Dalam dokumen strategi jangka panjang tertulis:

ASIA TODAY. WORLD TOMORROW.

Target berikutnya:

Amerika Serikat.

Wall Street.

New York Stock Exchange.

Nasdaq.

Dan tentu saja Dow Jones ikut disebut-sebut.

Di sinilah Korupsinikus kembali mengingatkan:

“Sebentar.”

Para tuyul menoleh.

“Dow Jones itu indeks. Bukan bursa.”

Semua kembali terdiam.

Satu tuyul mencatat.

Catatan penting: jangan salah menyebut indeks sebagai bursa.

Korupsinikus tertawa.

“Kalau mau menjadi pemain global, minimal harus tahu bedanya.”

Simultan, Katanya!

Yang lebih mengejutkan, para tuyul tidak ingin melakukan ekspansi secara bertahap.

Mereka ingin go global secara simultan.

Indonesia.

Hong Kong.

Jepang.

Amerika.

Semuanya masuk rencana.

Sebab menurut konsultan mereka, dunia sekarang adalah pasar tanpa batas.

Tuyul pun mulai membayangkan dirinya bukan lagi sebagai makhluk kecil yang bekerja di balik layar.

Mereka ingin menjadi:

multinational supernatural corporation.

Ada kantor pusat.

Ada anak perusahaan.

Ada komisaris.

Ada direksi.

Ada RUPS.

Ada laporan tahunan.

Ada paparan publik.

Dan tentu saja ada investor relations.

Tinggal satu masalah kecil.

Siapa yang akan menjadi komisaris independennya?

Kuntilanak?

Pocong?

Genderuwo?

Atau manusia?

Perdebatan berlangsung berhari-hari.

Dari Makhluk Gaib Menjadi Korporasi

Korupsinikus akhirnya sampai pada kesimpulan yang agak mengerikan.

Ternyata kapitalisme memiliki kemampuan luar biasa.

Ia mampu mengubah hampir segala sesuatu menjadi instrumen ekonomi.

Termasuk tuyul.

Makhluk yang dahulu hanya dikenal sebagai bagian dari cerita mistis kini bisa memiliki:

valuasi, prospektus, saham, investor, kapitalisasi pasar dan ekspansi global.

Yang dahulu bersembunyi di balik lemari sekarang muncul dalam laporan keuangan.

Yang dahulu bekerja tengah malam sekarang mengikuti jadwal perdagangan.

Yang dahulu membawa uang menggunakan tangan mungil sekarang sibuk menghitung market capitalization.

Dunia benar-benar berubah.

Korupsinikus: “Ini Baru Awal!”

Pada penutupan perdagangan hari pertama, Korupsinikus kembali menyeruput kopinya.

Seorang wartawan bertanya:

“Menurut Anda, apakah Tuyul Corporation akan berhasil?”

Korupsinikus tersenyum.

“Belum tentu.”

“Kenapa?”

“Karena IPO bukan jaminan perusahaan akan sukses.”

“Kalau begitu apa yang harus dilakukan?”

“Kerja.”

Tuyul yang mendengar jawaban itu langsung pucat.

Sebab ternyata menjadi perusahaan publik jauh lebih sulit daripada menjadi tuyul biasa.

Ada kewajiban keterbukaan informasi.

Ada laporan keuangan.

Ada regulator.

Ada pemegang saham.

Ada analis.

Ada wartawan.

Ada publik.

Dan yang paling menakutkan:

setiap kesalahan bisa dibaca orang.

Korupsinikus kemudian menutup catatannya.

“Jadi jangan senang dulu karena sudah IPO.”

“Kenapa?”

“Karena setelah melantai di bursa, tuyul bukan lagi sekadar makhluk gaib.”

Ia berhenti sejenak.

“Sudah menjadi perusahaan publik.”

Lalu ia tertawa.

“Dan perusahaan publik tidak boleh hidup hanya dari cerita.”

Begitulah.

Dunia tuyul akhirnya benar-benar menggelegar.

Dari kandang menuju bursa.

Dari bursa domestik mengincar Asia.

Dari Asia membayangkan Wall Street.

Dan dari dunia mistis menuju dunia kapitalisasi pasar.

Siapa tahu beberapa tahun lagi kita melihat judul berita:

Tuyul Corporation Tbk Bukukan Laba Fantastis, Siap Ekspansi Global.

Korupsinikus hanya bisa menghela napas.

Sebab kalau itu benar-benar terjadi, pertanyaan berikutnya bukan lagi:

“Siapa yang memelihara tuyul?”

Melainkan:

“Siapa yang memiliki saham tuyul?”

Dan pada titik itulah, mungkin dunia sudah benar-benar kehilangan batas antara dunia gaib dan dunia bisnis.

(Selesai)

BACA JUGA: Bisnis Tuyul Berprospek Cerah? Korupsinikus: Bikin FS Dulu Sebelum Mulai!