Sel. Jun 16th, 2026

Bandung Kota Ramai, Namun Sepi dari “Ruh Kultural” – Benarkah?

Oleh: Anto Ramadhan (Ikatan Alumni Sastra dan Budaya, Unpad)

ALGIVON.IDBandung selalu dikenal sebagai kota yang penuh kehidupan. Jalanan macet, pusat belanja dan kafe menjamur, wisata kuliner berkembang, konser dan event lifestyle tak pernah sepi, ditambah lagi keberadaan kampus-kampus besar yang membuat denyut kota ini semakin sibuk. Bandung tampak hidup, hiruk-pikuk, dan dinamis.

Namun, di balik keramaian itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang: ruh kultural. Budaya tradisi, filsafat hidup masyarakat Sunda, hingga identitas kultural yang dulu menjiwai Bandung, kini kerap hanya tampil sebagai dekorasi, hiburan, atau komoditas pariwisata. Kehidupan kota berlari cepat ke arah modernitas dan komersialisasi, tapi kehilangan kedalaman makna, nilai, dan rasa kebersamaan yang seharusnya jadi inti kebudayaan.

Bandung Tempo Dulu: Kota Gagasan dan Budaya

Pada dekade 1950–1980, Bandung masih lekat dengan identitas kulturalnya. Kota ini dikenal sebagai pusat seni, intelektual, sekaligus perlawanan mahasiswa. Dari kampus-kampus ternama seperti ITB, Unpad, dan IKIP lahir seniman, budayawan, dan pemikir besar: Mang Koko, Harry Rusli, Ajip Rosidi, Yus Rusyana, hingga Yacob Sumardjo.

Kehidupan seni tradisi pun masih kuat. Wayang golek, degung, jaipongan, sampai sastra lisan Sunda bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari keseharian masyarakat. Ruang-ruang kota menjadi arena bertukar gagasan, mengasah idealisme, dan menyalakan api seni yang kritis.

Bandung Kini: Ramai, Tapi Kehilangan Jiwa

Berbeda dengan masa lalu, Bandung hari ini lebih banyak menampilkan budaya sebagai atribut. Ruang publik beralih fungsi menjadi pusat belanja, kafe, atau destinasi wisata instan. Seni tradisi semakin jarang hadir sebagai bagian hidup warga, lebih sering ditampilkan sekadar untuk turis atau acara formal.

Kawasan ikonik seperti Braga kini ramai wisatawan dan kafe Instagrammable, tapi diskusi budaya dan pameran seni yang dulu jadi denyut utamanya hampir hilang. Dago yang dulunya sarat dengan butik seni dan ruang kreatif mahasiswa, sekarang dipenuhi factory outlet dan restoran. Alun-Alun Bandung yang dulu hidup dengan pertunjukan rakyat, kini lebih jadi arena bermain dan berfoto. Bahkan kampus-kampus besar pun, meski masih melahirkan seniman, tidak lagi menjadi pusat gaung budaya sebesar dulu.

Seorang pegiat sosial pernah menulis:

“Bandung hari ini ramai oleh cahaya neon dan kerumunan, tapi sepi dari ruh kultural yang dulu menyalakan obor gagasan, seni, dan perlawanan.”

Ungkapan itu terasa tepat menggambarkan kondisi Bandung saat ini: ramai secara fisik, tapi hampa secara kultural.

Harapan Baru di Era Walikota Farhan

Sejak 20 Februari 2025, Bandung dipimpin oleh M. Farhan—aktor, penyiar, sekaligus seniman. Ia membawa visi segar untuk menghidupkan kembali seni dan budaya Bandung agar sejalan dengan perkembangan teknologi.

Beberapa program unggulannya antara lain:

  • Digitalisasi budaya dan sastra Sunda, lewat aplikasi Gapura, ensiklopedia sastra, hingga pengarsipan digital yang bisa diakses global.
  • Pencatatan kekayaan intelektual musik tradisi, demi melindungi hak cipta budaya lokal sekaligus memperkenalkannya ke dunia.
  • Bandung Kota Cerita, program dokumentasi narasi kota, arsip pribadi/kolektif, dan walking tour sejarah untuk menghubungkan warga dengan akar budayanya.
  • Perpaduan seni dan teknologi, seperti virtual art, eksibisi digital, hingga pemanfaatan VR/AR sebagai medium ekspresi baru.

Dengan sederet program tersebut, ada optimisme bahwa Bandung bisa kembali menemukan ruh kulturalnya.

Bandung Tetaplah Hidup…

Pergulatan antara modernitas dan akar budaya memang tak terelakkan. Bandung masih ramai, tetapi sering terasa kosong dari jiwa yang dulu menjadikannya “kota budaya dan gagasan”. Kini, tantangannya adalah bagaimana warga, seniman, akademisi, dan pemerintah bisa bergandengan tangan menjaga identitas itu tetap hidup di tengah arus globalisasi.

Seperti ungkapan almarhum Uwi Prabu dari Rumah Musik Harry Rusli:

“Banyak orang berbudaya, tapi tidak berbudi. Banyak juga orang berbudi dan berbudaya, tapi tidak berdaya.”

Semoga Bandung tidak hanya ramai secara fisik, tetapi juga kembali hidup dengan ruh budaya yang mendalam secara nasional maupun membuana. (HS & RD/AR)

BACA JUGA: Ini Jadwal GIIAS Bandung 2025, Sambut Akhir Tahun Kukuhkan Pusat Peluncuran Mobil-Mobil Terbaru

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *