Esai Satire: Harri Safiari
Ada secarik kertas terpampang di dinding sebuah warkop sederhana milik Mang Juned bin Kokosan. Warkop itu bernama agak filosofis: “Jayalah Kita Entah Kapan.”
Kertasnya nyaris sobek di salah satu sudut. Namun tulisannya masih terbaca:
— PENGUNJUNG WARKOP, JANGAN SEKALI-SEKALI BICARA SOAL MBG LAGI. BANYAK INTEL! —
Aneh memang.
Di sebuah negeri yang katanya demokratis, rupanya membicarakan makanan yang masuk ke perut anak-anak bisa lebih menegangkan daripada membicarakan harga kopi.
Padahal, di luar warkop, kabar tentang dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) justru semakin mengkhawatirkan.
Dalam rentang 1–3 September 2026, pemberitaan menyebut kasus keracunan terjadi di sejumlah daerah, antara lain Sidoarjo, Rembang, Agam, dan Tana Toraja. Korbannya mencapai ribuan siswa.
Rubi, rekan setia Korupsinikus, menyampaikan kabar itu dengan suara nyaris berbisik.
“Kalau benar korbannya sudah mendekati dua ribu anak, ini bukan lagi perkara kecil, Kus.”
Korupsinikus diam.
Untuk beberapa detik, filsuf jalanan itu tidak melontarkan lelucon apa pun.
Kemudian ia berkata:
“Yang perlu kita tanyakan bukan cuma berapa orang yang keracunan, tetapi mengapa mereka bisa keracunan.”
Warkop mendadak sunyi.
Sebab, bagi Korupsinikus, angka memang penting.
Tetapi satu anak yang muntah-muntah, satu anak yang harus dirawat, satu orang tua yang panik menerima kabar dari sekolah—itu bukan angka.
Itu manusia.
Itu anak seseorang.
Itu masa depan seseorang.
Dan kalau makanan yang seharusnya memberi gizi justru membuat anak sakit, maka ada sesuatu yang wajib diperiksa secara serius dari hulu sampai hilir.
“Jangan sampai kita terjebak pada perdebatan angka,” kata Dodo Surodo, salah seorang pengunjung.
“Seribu, dua ribu, tiga ribu… semuanya penting. Tetapi jangan sampai kesimpulannya menjadi: ah, cuma sekian ribu dibanding seluruh penerima MBG!”
Korupsinikus langsung mengangguk.
“Nah! Itu yang berbahaya.”
Ia kemudian menatap para pengunjung.
“Kalau satu pesawat mengalami kerusakan mesin, apakah penumpangnya disuruh terbang dulu sambil berkata: Tenang, baru satu pesawat?”
Tak ada yang menjawab.
“Kalau satu jembatan retak, apakah orang-orang disuruh tetap lewat sambil menunggu jembatan itu benar-benar ambruk?”
Warkop semakin hening.
“Lalu kalau makanan yang dikonsumsi anak-anak menimbulkan keracunan, mengapa kita justru sibuk memperdebatkan apakah kasusnya banyak atau sedikit?”
Korupsinikus berhenti sejenak.
“Makanan itu masuk ke tubuh manusia. Salah sedikit, taruhannya bisa kesehatan. Salah lebih jauh, taruhannya nyawa.”
Kalimat terakhir membuat Mang Juned buru-buru mengecilkan suara televisi di pojok warkop.
Bukan karena takut intel.
Tetapi karena mendadak semua orang merasa kalimat itu terlalu serius untuk ditertawakan.
“MBG harus dievaluasi,” kata Rubi.
“Bukan evaluasi kosmetik. Bukan sekadar rapat, membuat pernyataan, lalu menunggu masyarakat lupa.”
“Evaluasi total,” sambung Mahyar.
Dari mana makanan berasal.
Bagaimana bahan bakunya disimpan.
Bagaimana makanan dimasak.
Berapa lama makanan menunggu sebelum dimakan.
Bagaimana suhu dan kebersihannya dijaga.
Bagaimana makanan diangkut.
Siapa yang mengawasi.
Bagaimana standar dapur diterapkan.
Dan yang paling penting:
Apa yang dilakukan ketika terjadi dugaan keracunan?
Sebab dalam perkara pangan, keterlambatan bukan sekadar persoalan administrasi.
Telat satu menit mungkin tidak selalu berarti apa-apa. Tetapi dalam situasi tertentu, keterlambatan penanganan dapat menentukan antara selamat dan celaka.
Karena itu, jangan sampai keselamatan anak dikalahkan oleh target program, angka distribusi, laporan keberhasilan, atau keinginan mempertahankan citra bahwa semuanya baik-baik saja.
Program sebesar apa pun tetap harus tunduk kepada satu hukum sederhana:
Keselamatan manusia lebih tinggi daripada keberhasilan statistik.
Mahyar yang masih memiliki anak usia sekolah kemudian nyeletuk:
“Kalau memang rantai distribusi menjadi salah satu titik yang perlu diperiksa, mengapa tidak diperkuat sistem pengolahan sedekat mungkin dengan sekolah?”
Rubi menyahut:
“Atau setidaknya, semua kemungkinan penyebab harus dibuka dan diperiksa secara ilmiah. Jangan buru-buru mencari kambing hitam.”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Nah, itu baru bicara.”
Menurutnya, persoalan MBG tidak seharusnya diperlakukan sebagai perang antara pro dan kontra program.
“Yang kita persoalkan bukan niat memberi makan bergizi kepada anak-anak. Siapa yang tega menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi?”
Ia mengetuk meja.
“Yang harus dipersoalkan adalah cara memastikan makanan itu benar-benar aman.”
Sebab niat baik tidak otomatis menghasilkan pelaksanaan yang baik.
Program mulia sekalipun bisa berubah menjadi petaka apabila pengawasan buruk, standar keselamatan diabaikan, atau masalah yang sudah muncul dianggap angin lalu.
Tiba-tiba Dodo mengambil secarik kertas pengumuman di dinding.
“Bagaimana kalau tulisan jangan bicara MBG ini kita cabut saja?”
Mang Juned menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Biarkan.”
“Untuk apa?”
Mang Juned tersenyum.
“Supaya kelak kalau anak-anak kita bertanya mengapa dulu orang dewasa takut membicarakan makanan yang membuat anak-anak sakit, kita masih punya buktinya.”
Semua terdiam.
Korupsinikus akhirnya berdiri.
Ia melihat kertas lusuh itu cukup lama.
Kemudian berkata:
“Jangan takut membicarakan keracunan. Takutlah kalau keracunan dianggap biasa.”
“Jangan takut mengevaluasi program. Takutlah kalau evaluasi cuma dilakukan setelah ada korban.”
“Dan jangan menunggu ada nyawa melayang untuk kemudian kita berkata: seharusnya sejak awal kita lebih berhati-hati.”
Korupsinikus memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Wajahnya tidak lagi jenaka.
“MBG boleh diteruskan, diperbaiki, diperluas, atau bila memang diperlukan dihentikan sementara. Itu keputusan para pemegang kewenangan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.”
“Tetapi satu hal jangan pernah ditawar.”
Ia menatap seluruh pengunjung.
“Anak-anak bukan kelinci percobaan.”
Warkop kembali sunyi.
Bahkan Korupsinikus kali ini tidak tertawa.
Sebab ada pertanyaan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar:
“Berapa ribu anak yang keracunan?”
Pertanyaannya adalah:
“Kalau sudah tahu ada yang sakit, tetapi kita tetap memaksakan sesuatu tanpa membenahinya secara serius—entah apa yang akan terjadi berikutnya?”
Dan ketika jawabannya menyangkut kesehatan, keselamatan, bahkan kemungkinan nyawa anak-anak—
seharusnya tidak ada seorang pun yang merasa tenang.
—Selesai—

