Kam. Sep 3rd, 2026

Wow Mendunia! NO NA, ‘Island Girls’ dari Indonesia, Korupsinikus: Ini Karunia, Jangan Sampai Cuma Jadi Konten!

Esai: Harri Safiari

ALGIVON.IDAda pagi-pagi tertentu yang membuat penghuni warung kopi merasa mendadak menjadi Menteri Ekonomi Kreatif.

Pagi itu salah satunya.

Di layar telepon genggam Dadan Utun Inji, tampil sebuah nama yang sedang mencuri perhatian dunia: No Na.

Girl group dari Indonesia.

Island girls from Indonesia.

Dan entah kenapa, mendadak saja suasana di Warkop “Maju Bersama, Mundur Nanti Aja” milik Bang Ramli Oteng menjadi seperti ruang sidang kabinet.

“WOW!”

Korupsinikus sampai berdiri.

Biasanya telinga dan mata kita dihajar K-Pop, girl group Amerika, Eropa, dan berbagai produk budaya pop dari negara-negara yang memang sudah piawai menjual budayanya ke seluruh dunia.

Kini?

Muncul No Na.

Dari Indonesia.

Dari negeri yang selama ini lebih sering dikenal dunia karena Bali, rendang, batik, komodo, macet, korupsi, dan entah apa lagi.

Lalu tiba-tiba…

No Na!

“Ini jangan dianggap cuma urusan musik!” kata Korupsinikus dengan wajah serius.

Rubi melirik.

Dede Bedog menghentikan aktivitas mengorek-ngorek gorengan.

Dadan Utun Inji menurunkan volume telepon genggamnya.

“Ini namanya peluang emas!”

Korupsinikus mulai berpidato.

“Bayangkan! Ketika nama No Na semakin dikenal dunia, orang akan bertanya: mereka dari mana?”

“Indonesia!”

“Lalu Indonesia itu di mana?”

“Asia!”

“Setelah itu mereka mencari Indonesia di internet.”

Korupsinikus mengangkat telunjuk.

“Nah!”

“Di situlah pintunya terbuka!”

Semua terdiam.

“Jangan sampai ketika dunia sudah mulai mencari No Na, kita malah cuma sibuk membuat ucapan selamat!”

Warkop mendadak senyap.

Nah, ini baru Korupsinikus.

Menurutnya, fenomena No Na harus dipandang sebagai bagian dari kekuatan ekonomi kreatif sekaligus soft power Indonesia.

Sebab musik tidak berhenti pada musik.

Satu lagu bisa membawa fesyen.

Fesyen bisa membawa merek.

Merek bisa membawa merchandise.

Merchandise bisa membawa industri manufaktur.

Industri manufaktur membawa tenaga kerja.

Tenaga kerja membawa penghasilan.

Penghasilan membawa konsumsi.

Konsumsi membawa pajak.

Pajak membawa pembangunan.

Dan pembangunan…

“…mudah-mudahan tidak membawa korupsi lagi,” celetuk Maman Geblug.

Korupsinikus terdiam.

“Jangan merusak suasana!”

Warkop meledak tertawa.

Tetapi Korupsinikus tidak menyerah.

“Lihat saja industri budaya pop dunia. Satu karakter bisa berubah menjadi film, serial, pakaian, mainan, boneka, gim, taman hiburan, sampai jutaan merchandise.”

Ia kemudian melontarkan gagasan yang bahkan membuat Bang Ramli Oteng berhenti menuang kopi.

“Siapa tahu nanti ada boneka perempuan dari Negara Konoha Raya yang wajah, rambut, busana, dan gayanya terinspirasi No Na.”

Dadan Utun Inji langsung menyambar.

“Barbie rasa Indonesia?”

“Kenapa tidak?”

Korupsinikus semakin liar.

“Taruhlah suatu hari nanti boneka bergaya No Na dari Negara Konoha Raya justru merajai dunia.”

“Dari Los Angeles sampai Tokyo.”

“Dari Paris sampai Jakarta.”

“Dari Seoul sampai Bandung.”

“Semua anak perempuan dunia membawa boneka dengan wajah gadis Indonesia!”

Dede Bedog manggut-manggut.

“Kalau begitu, Mang Jajang pembuat boneka di kampung saya bisa kaya.”

“Bisa!”

“Yang jual bajunya?”

“Bisa kaya!”

“Yang bikin sepatunya?”

“Bisa!”

“Yang bikin rambut palsunya?”

“Bisa!”

“Yang jual cilok di depan pabrik boneka?”

Korupsinikus berpikir sejenak.

“Bisa juga, asal jangan dia yang jadi pemegang saham mayoritas!”

Warkop kembali pecah.

Tetapi di balik kelakar itu tersimpan sesuatu yang sebenarnya sangat serius.

Mengapa kita sering terlambat menyadari bahwa budaya adalah industri?

Kita punya musik.

Kita punya seni pertunjukan.

Kita punya fesyen.

Kita punya batik.

Kita punya cerita rakyat.

Kita punya legenda.

Kita punya kuliner.

Kita punya ratusan bahasa.

Kita punya ribuan pulau.

Kita punya jutaan anak muda kreatif.

Yang sering tidak kita punya adalah…

keberanian untuk mengemas semuanya menjadi produk kelas dunia.

“Ini yang harus dipikirkan,” ujar Korupsinikus.

“Jangan hanya bangga pada No Na setelah mereka mendunia. Banggalah dengan cara menciptakan ekosistem agar lahir No Na-No Na berikutnya.”

Rubi mengangguk.

“Artinya negara harus hadir?”

“Negara harus hadir.”

“Dengan uang?”

“Boleh.”

“Dengan regulasi?”

“Harus.”

“Dengan pendidikan?”

“Wajib.”

“Dengan birokrasi?”

Korupsinikus mengernyit.

“Boleh hadir…”

“Asal jangan sampai kreativitas anak muda mati di meja birokrasi!”

“Setuju!”

Semua mengangguk.

Korupsinikus kemudian menyeruput kopi.

“Dan ada satu lagi.”

“Apa?”

“Diplomasi!”

Semua memandangnya.

“Kalau orang dunia mengenal Indonesia melalui musik, film, fesyen, kuliner, karakter, dan anak-anak muda kreatif kita, sebenarnya kita sedang membangun soft power.”

“Negara tidak harus selalu memperkenalkan dirinya melalui pidato pejabat.”

“Kadang-kadang cukup melalui sebuah lagu.”

“Melalui sebuah tarian.”

“Melalui seorang seniman.”

“Melalui sebuah film.”

“Atau melalui empat gadis Indonesia yang membuat dunia bertanya: Indonesia itu seperti apa?”

Korupsinikus tersenyum.

“Nah, ketika pertanyaan itu muncul, jangan kita jawab dengan brosur!”

“Jawab dengan pengalaman.”

“Datanglah ke Indonesia.”

“Lihat alamnya.”

“Cicipi makanannya.”

“Belanja produk kreatifnya.”

“Dengarkan musiknya.”

“Kenakan fesyennya.”

“Dan pulanglah membawa cerita tentang Indonesia.”

Warkop kembali hening.

Untuk pertama kalinya pagi itu, semua tampaknya sepakat.

Bahkan Bang Ramli Oteng.

Pemilik warkop itu hanya berkata pelan:

“Kalau begini caranya, kopi saya juga harus go international.”

Dadan Utun Inji menyahut:

“Nama kopinya jangan lagi Maju Bersama, Mundur Nanti Aja!”

“Terus?”

“Maju Terus, Bayar Belakangan!”

Bang Ramli hampir melempar sendok.

Untung Korupsinikus segera menengahi.

“Jangan! Itu bukan soft power. Itu soft payment!”

Tawa kembali mengguncang warkop.

Namun sebelum bubar, Korupsinikus tiba-tiba serius lagi.

“Fenomena No Na jangan kita biarkan lewat begitu saja.”

“Ini bisa menjadi momentum.”

“Kalau dunia mulai melirik Indonesia melalui No Na, tugas kita bukan sekadar bertepuk tangan.”

“Tugas kita adalah memanfaatkan perhatian itu menjadi peluang.”

Peluang untuk ekonomi kreatif.

Peluang untuk lapangan kerja.

Peluang untuk pariwisata.

Peluang untuk diplomasi budaya.

Peluang untuk industri musik.

Peluang untuk fesyen.

Peluang untuk film dan animasi.

Peluang untuk merchandise.

Peluang untuk industri mainan.

Bahkan…

“Peluang menjadikan boneka ala No Na sebagai ratu baru dunia!”

Dede Bedog langsung berdiri.

“Kalau begitu saya siap menjadi agen boneka No Na!”

“Modalmu?”

“Kejujuran!”

Korupsinikus tertawa.

“Modal pertama memang kejujuran.”

“Modal kedua?”

“Jaringan.”

“Modal ketiga?”

“Manajemen.”

“Modal keempat?”

Dede Bedog berpikir keras.

Korupsinikus menjawab sendiri:

“Jangan lupa, modal terbesar adalah negara yang tahu kapan harus menangkap peluang dan kapan harus minggir agar kreativitas rakyatnya bisa berlari!”

Semua kembali mengangguk.

Sebab sesungguhnya begitulah sebuah bangsa bisa menjadi besar.

Bukan karena setiap peluang harus dimiliki pemerintah.

Bukan pula karena semua kreativitas harus diberi cap birokrasi.

Melainkan karena ketika emas ditemukan di depan mata, bangsa itu tahu bagaimana menambangnya.

Dan kalau suatu hari nanti dunia mengenal Indonesia bukan cuma sebagai negeri ribuan pulau…

melainkan sebagai negeri yang melahirkan girl group kelas dunia, musik kelas dunia, fesyen kelas dunia, film kelas dunia, karakter kelas dunia, bahkan boneka kelas dunia…

Korupsinikus punya satu pesan sederhana:

“Jangan sampai dunia sudah datang mengetuk pintu, kita malah sibuk mencari kunci di kantor sebelah.”

Ia mengangkat cangkir kopinya.

“Bravo No Na!”

“Bravo generasi kreatif Indonesia!”

“Dan bravo untuk ekonomi kreatif Negara Konoha Raya!”

Lalu ia menambahkan, nyaris berbisik:

“Sekali-kali, biarlah Indonesia mendunia karena prestasinya. Bukan karena sensasinya.”

Pagi pun berakhir.

Kopi habis.

Gorengan tandas.

Tetapi satu pertanyaan tertinggal di Warkop Maju Bersama, Mundur Nanti Aja:

Kalau No Na adalah pintu yang sudah terbuka, apakah kita cukup pintar untuk masuk?

Atau seperti biasa…

kita tunggu orang lain yang masuk duluan, kemudian kita klaim pintunya sebagai aset bangsa?

(Selesai)

BACA JUGA: Korupsinikus Menggeliat: Jangan Wariskan Kuasa, Wariskan Kesejahteraan

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *