Esai Kontemplatif: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Awalnya saya, Korupsinikus, turun ke bumi Negeri Konoha Raya (NKR) dengan semangat membara.
Misinya mulia: memberantas aneka kecurangan demi masa depan generasi bangsa yang unggul dan gilang-gemilang.
Tapi apa daya…
Baru juga mendarat, saya malah nyaris tergilas oleh modus perjokian Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang kini levelnya sudah bukan lagi sekadar “nakal siswa”, melainkan mirip operasi intelijen digital skala mini!
Bayangkan saja.
Dulu perjokian paling banter cuma:
- tukar foto,
- nitip jawaban,
- atau joki duduk menggantikan peserta.
Sekarang?
Astaga naga… tak terkira.
Ada kamera supermini disembunyikan di kancing baju.
Ada alat komunikasi mikro nyelip di telinga.
Ada operator jarak jauh yang membisikkan jawaban dari luar gedung.
Ada jaringan terorganisasi dengan tarif fantastis.
Ini UTBK atau film spionase digital?
Jangan kaget, beberapa tahun lagi mungkin ada chip mikro ditanam di tubuh peserta.
Kalau sudah begini, Korupsinikus jadi bingung: yang diuji sebenarnya kemampuan akademik atau kecanggihan rekayasa kecurangan?
Yang bikin Korupsinikus geleng-geleng kepala bukan cuma teknologinya, tetapi fakta bahwa dari tahun ke tahun modusnya justru makin jelimet.
Artinya apa?
Hanya ada dua kemungkinan:
- Pengawasan kalah cepat dibanding kreativitas kecurangan.
- Atau… ada pembiaran yang membuat pelaku merasa sistem masih bisa dipermainkan.
Nah, bagian inilah yang paling bikin prihatin.
Ketika Pendidikan Bergeser Menjadi Perlombaan Status
Di NKR tercinta, masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit sering diposisikan seperti “tiket kasta sosial”.
Orang tua bangga.
Tetangga tepuk tangan.
Grup keluarga mendadak ramai.
Akhirnya yang dikejar bukan lagi ilmu, melainkan logo kampus ternama.
Maka lahirlah mentalitas:
Yang penting lolos dulu. Soal cara, nanti dipikir belakangan.
Padahal justru “cara” itulah inti pendidikan moral.
Apa gunanya nilai tinggi kalau diperoleh lewat tipu daya dan kelicikan?
Apa gunanya menjadi mahasiswa hebat kalau langkah pertamanya sudah menginjak-injak kejujuran?
Korupsinikus sampai bingung sendiri.
Sejak TK sampai SMA para siswa dijejali pelajaran moral, PPKn, karakter, integritas, kejujuran, disiplin…
Tetapi begitu UTBK datang, sebagian malah berubah bak operasi “Mission Impossible”.
Jangan-jangan pendidikan moral selama ini terlalu sering berhenti sebagai hafalan slogan, bukan kebiasaan hidup.
Bahaya Besarnya: Kita Sedang Menyemai Pemimpin Curang
Nah, ini bagian yang paling menyeramkan.
Hari ini mungkin mereka curang demi masuk kampus.
Besok?
- Bisa curang saat jadi pejabat.
- Manipulatif saat jadi pengusaha.
- Licik saat jadi aparat.
- Atau koruptif saat memegang anggaran negara.
Karena kebiasaan moral dibentuk sejak kecil.
Kalau kecurangan dianggap jalan normal menuju sukses, maka bangsa ini sedang memproduksi generasi yang pintar mengakali sistem — bukan memperbaiki sistem.
Dan ironisnya, mereka kelak bisa menjadi pembuat keputusan di bidang pendidikan, hukum, bahkan penegakan keadilan.
Bayangkan kalau calon pemimpin bangsa memulai perjalanan intelektualnya dengan:
- menyamar,
- menipu,
- membeli jawaban,
- memakai joki,
- lalu pura-pura berprestasi.
Itu bukan bibit pemimpin.
Itu bibit krisis integritas nasional.
Jangan Anggap Ini Sekadar “Kasus Musiman”
Korupsinikus juga heran.
Kenapa fenomena ini selalu muncul tiap musim UTBK, lalu menghilang begitu saja setelah beberapa pelaku ditangkap?
Padahal akar masalahnya jauh lebih besar:
- tekanan sosial,
- ketimpangan pendidikan,
- obsesi kampus elite,
- bisnis bimbingan belajar yang hiperkompetitif,
- hingga budaya “hasil lebih penting daripada proses”.
Kalau yang ditangkap hanya “pion kecil”, sementara ekosistemnya tetap hidup, maka tahun depan modusnya tinggal naik versi.
Dari 2026 ke 2027 mungkin sudah memakai:
- AI realtime,
- deepfake biometrik,
- perangkat nano,
- atau teknologi lain yang makin sulit dilacak.
Teknologi tanpa moral memang sangat mudah berubah menjadi alat manipulasi.
Korupsinikus Menangis di Sudut Konoha Raya
Sebagai Korupsinikus yang turun ke bumi NKR, saya makin sadar:
Musuh terbesar pendidikan bukan kebodohan.
Musuh terbesarnya adalah hilangnya rasa malu untuk berbuat curang.
Ketika anak muda mulai percaya bahwa kecerdasan bisa dibeli dan kejujuran hanya slogan upacara, maka pendidikan sedang kehilangan rohnya.
Padahal esensi sekolah bukan sekadar mencetak manusia yang mampu menjawab soal.
Tetapi mencetak manusia yang:
- tahu mana benar dan salah,
- berani jujur saat sulit,
- dan tetap bermartabat walau gagal.
Karena gagal dengan jujur masih jauh lebih terhormat daripada sukses hasil tipu daya.
Dan sebelum Korupsinikus kembali ke galaksi asal, izinkan saya bertanya satu hal kepada Negeri Konoha Raya:
Kalau pintu masuk perguruan tinggi saja sudah dipenuhi kelicikan,
lalu bagaimana nasib negeri ini ketika para pelakunya kelak duduk di kursi kekuasaan?
Duh…
Prihatin sekali kata aku mah.
Sumpah deh.
(Selesai)
BACA JUGA: Korupsinikus, Legok Nangka, dan Hari Tatar Sunda

