Sel. Mei 12th, 2026

Korupsinikus, Legok Nangka, dan Hari Tatar Sunda

Esai Satir Kontemplatif  – Harri Safiari

ALGIVON.IDNegeri Konoha Raya (NKR) khususnya di seputar Bandung Raya warganya makin mahir menutup hidung sambil membayar pajak. Sampah kembali menjadi topik abadi – hanya dibicarakan!

Soal sampah, lebih konsisten daripada janji kampanye, lebih setia daripada baliho politik, dan lebih rajin hadir dibanding sebagian pejabat pada rapat pembahasan solusi.

Gunungan sampah itu kini seperti monumen diam bagi kemampuan pemerintah memproduksi seminar tanpa penyelesaian.

Di sudut kota, TPS meluap.
Di gang-gang, aroma lindi menyelinap lebih cepat daripada bantuan sosial.
Di sungai, plastik bergerak perlahan seperti arak-arakan peradaban yang kalah oleh kemasan mi instan.

Lalu rakyat pun bertanya:
“Mana TPPAS Legok Nangka?”

Pertanyaan itu melayang sejak zaman Ahmad Heryawan masih menjadi gubernur dengan wajah teduh khas bapak pengajian pembangunan.

Lalu berlanjut di era Ridwan Kamil, ketika rendering proyek tampak lebih indah daripada kenyataan di TPS belakang pasar.

Kini tongkat estafet berada di tangan Dedi Mulyadi.

Namun Legok Nangka tetap seperti sinetron tanpa episode tamat:

  • selalu ada teaser,
  • selalu ada konferensi pers,
  • tapi ending-nya ditunda terus.

Korupsinikus menatap langit Bandung yang samar oleh asap pembakaran sampah ilegal. Ia mengisap rokok kretek murahan sambil berkata lirih:

“Di negeri ini, sampah bukan untuk diselesaikan. Sampah itu dipelihara. Karena dari sampah, lahir rapat. Dari rapat, lahir perjalanan dinas. Dari perjalanan dinas, lahir hotel penuh. Dari hotel penuh, lahir kuitansi. Dari kuitansi, lahir kebahagiaan.”

Rubi yang duduk di sampingnya mengangguk pelan.

“Jadi Legok Nangka itu apa sebenarnya?”

Korupsinikus tertawa kecil.

“Legok Nangka itu filosofi, Bi. Ia dibangun bukan untuk selesai. Ia dijaga agar tetap menjadi harapan. Karena harapan yang tak selesai lebih berguna secara politik dibanding pekerjaan yang benar-benar tuntas.”

Mereka lalu membaca berita:
Hari Tatar Sunda sedang ditata.
Perdebatan identitas budaya menghangat.
Sidang Paripurna DPRD Jabar gaduh soal legitimasi hari budaya.

Sementara itu, di luar gedung:

  • truk sampah mengantre,
  • Sarimukti megap-megap,
  • warga membakar sampah sendiri,
  • dan anak-anak bermain dekat aliran air hitam yang dulu disebut sungai.

Korupsinikus menghela napas panjang.

“Hebat sekali negeri ini. Sampahnya bau abad depan, tapi prioritas politiknya kadang masih sibuk memilih warna ikat kepala.”

Rubi mencoba membela.

“Budaya kan penting juga, Bang.”

Korupsinikus mengangguk cepat.

“Penting. Sangat penting. Tapi kebudayaan tertinggi sebuah kota itu bukan festivalnya, Bi. Kebudayaan tertinggi kota modern adalah bagaimana ia memperlakukan sampahnya.”

Sunyi.

Angin membawa aroma busuk dari TPS yang kelebihan kapasitas.

Seekor lalat hinggap di spanduk bertuliskan:
Bandung Juara Lingkungan.

Korupsinikus tertawa lagi.
Kali ini lebih getir.

“Lucu ya, Bi. Kita ini bangsa yang suka sekali bicara peradaban. Tapi belum becus mengurus sisa makan sendiri.”

Lalu ia berdiri, menepuk pundak Rubi, dan menatap ke arah para pembuat keputusan:

“Dengarkan baik-baik…

Sampah itu tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berpindah tempat:
dari rumah ke TPS,
dari TPS ke TPA,
dari TPA ke pidato,
dari pidato ke proposal,
dari proposal ke anggaran,
lalu menguap menjadi janji.

Dan ketika pemimpin gagal menuntaskan sampah, sesungguhnya yang membusuk bukan hanya kota…

tapi juga keberanian politiknya.”

(Selesai)

BACA JUGA: Dengarlah Bandung, Kota yang Bicara Lewat Sampahnya

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *