Korupsinikus: Pembangkangan & Kutukan Sistem
Esai Kontemplatif: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Di negeri ini, kebenaran tidak dibunuh. Ia dipindahkan—ke tempat yang tak lagi dicari.
Dulu Nicolaus Copernicus menggusur Bumi dari pusat semesta.
Manusia gelisah—karena kehilangan posisi.
Kini, pusat itu digeser lagi:
dari kebenaran ke kepentingan.
Dan semua orang menyebutnya kewajaran.
Korupsinikus lahir dari satu dosa:
tidak ikut.
Bukan melanggar hukum—
melainkan menolak kebiasaan.
Di Negeri Konoha Raya, itu lebih berbahaya.
Ia adalah kebalikan dari Malin Kundang.
Bukan durhaka pada ibu—
melainkan pada sistem yang telah menggantikan nurani.
Ia bicara—tak didengar.
Ia jujur—dianggap gangguan.
Ia bertahan—dipastikan tak relevan.
Sistem tidak perlu menghancurkannya.
Cukup memastikan ia sendirian.
Di negeri ini, korupsi bukan masalah.
Yang bermasalah adalah orang yang tidak ikut.
Maka Korupsinikus tidak dilawan.
Ia dipelihara—
sebagai peringatan bahwa menjadi lurus adalah kesalahan.
Dan di situlah semuanya menjadi jelas:
yang berputar bukan lagi kebenaran,
melainkan kepentingan yang disepakati bersama.
Tanpa malu.
Tanpa tanya.
Sampai akhirnya—
korupsi tak lagi disembunyikan.
Ia menjadi pusat. (Selesai)
BACA JUGA: Melanjut Curhat PMI “Horor & Sedih” di Jepang

