Sel. Apr 21st, 2026

Melanjut Curhat PMI “Horor & Sedih” di Jepang

Korupsinikus: Perlu Mental Baja, Bukan Sekadar Koper dan Mimpi

Esai Satire: Harri Safiari

ALGIVON.IDWahai pembaca budiman, orang-orang tua dahulu sering berpesan dengan kalimat sederhana namun sukar dibantah: di mana ada terang, di situ gelap ikut menempel. Cahaya dan bayangan berjalan berdampingan, sebagaimana harapan dan kenyataan, sebagaimana janji manis dan cicilan bulanan bank emok.

Maka jangan heran bila kisah tentang Jepang—negeri yang sering dibayangkan serba rapi, disiplin, aman, maju, dan bercahaya—ternyata juga menyimpan lorong-lorong sunyi yang jarang difoto kamera promosi.

Pada awal tahun 2026, jagat media sosial diramaikan curhat seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui akun @rezamahesa789 dan variasinya.

Ia mengisahkan hidup sebagai pekerja di Negeri Sakura dengan nada jujur, getir, kadang lucu, kadang nyaris putus asa. Sebuah suara dari lapisan bawah yang tak dibungkus brosur.

Sore itu, Rubi datang ke rumah Korupsinikus sambil membawa telepon genggam.

“Bang, ini lanjutannya,” kata Rubi. “Masih soal PMI di Jepang. Curhatnya makin terbuka… dan masih pilu.”

Korupsinikus menerima ponsel itu. Biasanya ia hanya tertarik pada angka proyek dan kabar fee. Tapi kali ini ia menatap layar seperti orang yang sedang diingatkan bahwa dunia tidak sesederhana kurs rupiah terhadap yen.

“Putar,” katanya singkat.

Video berjalan.

Di sana, sang PMI menceritakan tekanan kerja di restoran. Dunia kerja yang cepat, presisi, disiplin, dan menuntut kesempurnaan.

Salah sedikit, kena tegur. Lambat sedikit, kena bentak. Kurang sigap, wajah atasan berubah seperti alarm kebakaran—nguing… nguing… bikin kuping berdenging.

“Ini yang sering bikin banyak orang kaget,” ujar Korupsinikus sambil mengelus dagu. “Mereka berangkat membawa skill, tapi lupa membawa mental.”

Menurut pengakuan itu, suasana kerja bisa keras. Teguran datang nyaris tanpa jeda. Bahkan perlakuan kasar kadang dianggap bagian biasa dari tekanan kerja.

“Kalau istilah kampung mah,” kata Rubi, “dicarekan terus dari pagi sampai malam.”

Korupsinikus mengangguk.

“Bedanya,” katanya, “di kampung kalau dicarekan masih bisa pulang sambil ngopi di pos ronda. Kalau di negeri orang, pulangnya ke kamar sempit dan sepi.”

Sang PMI juga menyebut jam kerja panjang, bisa mendekati dua belas jam sehari. Gaji memang jika dirupiahkan terlihat besar. Cukup untuk membuat sebagian tetangga di kampung mendadak kagum lalu bertanya, “Kapan nyusul ke Jepang?”

Namun seperti biasa, angka di media sosial sering lupa menceritakan harga sewa kamar, makan, transportasi, asuransi, pajak, dan cicilan biaya keberangkatan yang aduhai besarnya.

Gaji besar yang difoto dari jauh, kadang hanya cukup untuk bertahan bila dilihat dari dekat.

“Ironi, Bray… sakit hatilah,” ujarnya.

Yang lebih berat lagi adalah kesepian.

Di Jepang, ia merasa tak punya banyak teman untuk bercengkerama. Tak ada tongkrongan mendadak. Tak ada tetangga yang tiba-tiba mampir. Tak ada ruang curhat seenaknya seperti di Bale Endah atau Jelekong, tempat orang bisa mengeluh sambil makan gorengan dan tetap ditertawakan dengan penuh kasih.

Lalu keluarlah kalimat yang menohok:

Ke Jepang itu enaknya liburan, bukan kerja.

Dan satu lagi:

“Jangan cuma lihat gajinya gede. Kerjanya bisa terasa seperti penjara.”

Rubi terdiam.

Korupsinikus menatap langit-langit rumahnya yang bocor di sudut kiri.

“Itu namanya reality check,” katanya. “Agar orang jangan terlalu mudah jatuh cinta pada negeri yang hanya dikenal dari caption Instagram.”

Rubi menyahut, “Jadi kalau mau berangkat, harus bagaimana?”

Korupsinikus menjawab mantap:

Perlu mental baja. Bukan sekadar koper baru dan foto paspor cengengesan.

Sebab banyak calon PMI berangkat hanya dengan dua bekal: semangat dan khayalan. Padahal yang dibutuhkan sering lebih dari itu—bahasa, ketahanan mental, kesiapan budaya, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadapi sepi.

Yang menarik, di tengah curhat getir itu, pemuda tersebut masih menyelipkan humor khas Sunda. Ia bercanda soal kumis yang harus dicukur rapi, soal menu telur rebus yang terlalu akrab, soal bau badan yang katanya berubah setelah lama hidup di negeri orang.

“Bau endog,” ujarnya kalem.

Begitulah orang Sunda, pikir Rubi. Sedih pun masih sempat melucu. Luka pun tetap diberi sambal.

Di situlah letak pelajaran pentingnya.

Bahwa manusia bisa letih, tapi jangan kehilangan selera tertawa. Bisa tertekan, tapi jangan kehilangan akal sehat. Bisa jauh dari rumah, tapi jangan kehilangan jati diri.

Sadarlah, akun ini bukan pejabat, bukan agen penyalur, bukan juru bicara resmi. Ia hanya suara rakyat biasa yang sedang menanggung kenyataan. Justru karena itu, suaranya terasa penting.

Terlalu banyak promosi menjual mimpi. Terlalu sedikit yang berani menjual kenyataan.

Senja mulai turun di rumah Korupsinikus yang sederhana. Atap sengnya berderit kecil ditiup angin. Jika hujan deras datang, suara tetesan air akan lebih jujur daripada banyak pidato pejabat—ramai bunyi, kosong isi.

Korupsinikus meneguk kopi pahit terakhir, lalu berkata:

“Konten seperti ini, walau getir, bisa menyelamatkan banyak orang dari harapan palsu.”

Rubi mengangguk.

“Kalau calon PMI jadi lebih siap, itu pahala besar.”

Korupsinikus tersenyum tipis.

“Meski nanti dimusuhi agen-agen yang dagang mimpi, tak apa. Malaikat pencatat amal biasanya lebih teliti daripada tim marketing yang kebanyakan omon-omon.”

Mereka pun tertawa kecil.

Tawa yang lahir bukan karena hidup ringan, melainkan karena hidup terlalu berat bila dijalani tanpa humor.

(Selesai)

BACA JUGA: Horor dan Bikin Sedih, Curhat PMI di Negeri Sakura

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *