Esai Kontemplatif — Harri Safiari
ALGIVON.ID – Negeri ini, korupsi tidak lagi mengagetkan.
Ia sudah menemukan bentuk paling sempurnanya: diterima tanpa perlawanan berarti.
Setiap kali angka-angka itu muncul—miliaran, triliunan—
kita berhenti sejenak, mengernyit sedikit, lalu melanjutkan hidup seperti biasa.
Pertanyaan pun terasa ringan:
besok siapa lagi yang akan dicokok?
Bukan lagi mengapa ini terus terjadi?
Yang berubah bukan pelakunya.
Yang berubah adalah kita.
Kita belajar menerima hukum yang tajam ke bawah, namun bijak memilih arah ke atas.
Kita terbiasa melihat kehilangan—tanah, air, bahkan masa depan—yang tidak pernah benar-benar dihitung sebagai kerugian bangsa.
Kita juga terbiasa melihat kebenaran dikemas ulang, hingga terasa tidak lagi mendesak untuk diperjuangkan.
Dan yang paling sunyi:
kita mulai kehilangan kemampuan untuk marah.
Korupsi tidak lagi disembunyikan.
Ia tidak perlu.
Karena ia sudah menjadi kebiasaan.
Mungkin, masalah terbesar di negeri ini bukanlah mereka yang mengambil.
Melainkan kita—yang tahu, mengerti, bahkan sadar…
namun memilih untuk tetap berjalan,
seolah semuanya masih dalam batas yang bisa dimaklumi.
Pada akhirnya,
kita tidak lagi melawan.
Kita hanya… mencatat.
Sambil melipir.
(Selesai)
BACA JUGA: Dampak Perang Iran vs AS & Israel, Korupsinikus: Derita Lokal yang Tersenggal-senggal

