Esai Kontemplatif — Harri Safiari
Sejak kecil kita diajari bahwa jujur itu hebat.
Guru bilang begitu.
Orang tua bilang begitu.
Buku pelajaran menulis begitu.
Kejujuran dipajang di dinding sekolah.
Dicetak di spanduk seminar.
Dijadikan slogan upacara.
Tetapi semakin dewasa, banyak orang mulai pelan-pelan bertanya dalam hati:
“Masa sih?”
Karena kenyataan sering terlihat berbeda.
Yang jujur kadang kalah cepat.
Yang licik malah terlihat sukses.
Yang pandai bermain muka justru naik jabatan lebih dulu.
Sementara yang memegang prinsip sering duduk sendirian sambil dianggap terlalu idealis.
Korupsinikus pernah tertawa kecil sambil menyeruput kopi sachet murahan:
“Di negeri ini, kejujuran sering dipuji di pidato… lalu disingkirkan di ruang rapat.”
Pahit.
Tapi banyak yang diam-diam mengangguk.
Jujur memang terdengar indah selama masih jadi teori.
Masalahnya, kejujuran mulai terasa mahal ketika berhadapan dengan kepentingan.
Ketika proyek mulai dibagi-bagi.
Ketika jabatan mulai diperjualbelikan.
Ketika “orang dalam” lebih sakti daripada kemampuan.
Di situ orang mulai sadar:
kadang dunia tidak memberi hadiah kepada yang paling benar,
tetapi kepada yang paling pandai menyesuaikan diri.
Dan dari situlah lahir generasi yang lelah percaya pada integritas.
Yang lebih menyedihkan, masyarakat perlahan ikut berubah cara berpikirnya.
Orang jujur tidak lagi dipandang hebat.
Mereka malah sering dianggap:
terlalu polos,
tidak fleksibel,
kurang pintar main situasi.
Kalau ada pejabat hidup sederhana, orang curiga.
Kalau ada pegawai menolak amplop, orang malah bingung.
Seakan-akan kejujuran sudah berubah dari sesuatu yang mulia… menjadi sesuatu yang langka dan mencurigakan.
Korupsinikus menyebut ini sebagai:
“Momen ketika kebusukan terlalu lama berkuasa, sampai kewarasan terasa asing.”
Padahal jujur itu sebenarnya bukan soal hebat.
Ia sering justru soal bertahan.
Bertahan supaya hati tidak rusak total.
Bertahan supaya masih bisa tidur tanpa pura-pura lupa.
Bertahan supaya wajah di cermin tidak terasa asing.
Karena tidak semua kehilangan bisa dihitung dengan uang.
Ada orang yang kaya raya… tetapi hidupnya penuh ketakutan.
Takut terbongkar.
Takut dikhianati.
Takut jatuh mendadak.
Dan ada orang sederhana yang mungkin tidak punya banyak harta, tetapi masih bisa tertawa tanpa harus menyembunyikan sesuatu.
Mungkin itu bentuk kemewahan yang sekarang mulai langka.
Korupsinikus suatu malam pernah berkata lirih:
“Orang jujur memang belum tentu cepat kaya.
Tapi setidaknya ia tidak perlu capek menyembunyikan dirinya sendiri.”
Lalu ia diam cukup lama.
Barangkali karena sadar, di zaman sekarang, kalimat seperti itu terdengar terlalu naif.
Atau mungkin justru terlalu benar.
Jujur memang tidak selalu membuat hidup lebih mudah.
Kadang malah membuat jalan terasa lebih sepi.
Tetapi sejarah selalu menunjukkan satu hal:
peradaban runtuh bukan cuma karena banyak orang jahat,
melainkan karena terlalu banyak orang baik akhirnya menyerah.
Menyerah pada kompromi.
Menyerah pada keadaan.
Menyerah pada kalimat:
“Ya mau gimana lagi…”
Dan mungkin kehancuran sebuah bangsa dimulai bukan saat korupsi pertama terjadi.
Melainkan saat masyarakat mulai menertawakan kejujuran.
Jadi… jujur itu hebat?
Korupsinikus mungkin akan menjawab sambil tersenyum tipis:
“Nggak selalu hebat.
Kadang malah bikin hidup susah.
Tapi tanpa kejujuran, manusia pelan-pelan kehilangan dirinya sendiri.”
Dan mungkin, itu kehilangan paling mahal yang tidak pernah masuk laporan audit mana pun.
(Selesai)
BACA JUGA: Korupsinikus: “Di Tengah Rupiah Oleng dan Dolar Menyeringai, Rakyat Jelata Disuruh ‘Hedging’?”

