Sel. Mei 19th, 2026

Korupsinikus: Orang Jujur Kok Malah Jadi Musuh?

Esai Kontemplatif — Harri Safiari

ALGIVON.ID- Di negeri yang katanya menjunjung moral, kadang orang jujur justru hidup paling tidak nyaman.

Ia dianggap aneh.
Terlalu lurus.
Terlalu kaku.
Terlalu banyak aturan.

Dan yang paling sering:

Nggak enakan diajak kerja sama.

Lucunya, kalimat itu sering bukan datang dari penjahat besar.
Tetapi dari orang-orang biasa yang sudah terlalu lama hidup dalam kompromi.

Korupsinikus pernah berkata pelan:

Di tempat yang sakit terlalu lama, orang sehat malah terlihat mengganggu.

Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi kalau dipikir-pikir, menyeramkan juga.


Orang jujur sering tidak dibenci karena ia jahat.

Ia dibenci karena keberadaannya membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Sebab kejujuran itu seperti cermin.
Ia memantulkan sesuatu yang ingin disembunyikan banyak orang.

Ketika semua orang mark up anggaran lalu ada satu orang menolak tanda tangan, suasana langsung berubah tegang.

Ketika semua orang terbiasa titip jabatan lalu ada yang bicara soal kompetensi, orang mulai merasa tersindir.

Ketika budaya amplop dianggap normal lalu ada yang berkata “tidak”, mendadak ia dianggap sok bersih.

Padahal mungkin ia hanya sedang berusaha tidak mengkhianati nuraninya sendiri.


Yang lebih ironis, di banyak tempat, sistem justru lebih ramah kepada orang yang pandai menyesuaikan diri.

Yang terlalu jujur dianggap sulit diajak kompromi.
Yang terlalu bersih dianggap berbahaya.
Yang tidak mau ikut permainan dianggap ancaman bagi kenyamanan bersama.

Akhirnya lahirlah budaya aneh:

yang salah saling melindungi,
sementara yang benar perlahan dikucilkan.

Korupsinikus menyebutnya sebagai:

Solidaritas dalam pembusukan.

Keras memang. Tapi sering terasa nyata.


Kadang orang jujur akhirnya bukan kalah karena tidak kuat.

Tetapi karena terlalu lelah.

Lelah jadi bahan sindiran.
Lelah dianggap tidak loyal.
Lelah melihat yang licik justru dipuji paling depan.

Dan pelan-pelan muncul godaan paling berbahaya:

Udahlah… ikut aja.

Bukan demi kaya raya.
Bukan demi istana megah.

Kadang cuma demi bisa hidup tenang tanpa terus-menerus dianggap berbeda.

Di titik itu, manusia mulai belajar satu hal yang menyedihkan:

bahwa mempertahankan integritas ternyata bisa terasa lebih mahal daripada kehilangan integritas itu sendiri.


Padahal sejarah selalu menunjukkan satu hal:

sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena banyak orang jahat.

Ia runtuh ketika orang-orang baik mulai lelah menjadi baik.

Ketika kejujuran cuma jadi slogan pidato.
Ketika integritas hanya dipasang di spanduk seminar.
Ketika nurani kalah oleh “yang penting aman.”

Dan yang paling berbahaya bukan saat korupsi dilakukan terang-terangan.

Tetapi saat masyarakat mulai menganggapnya biasa.


Korupsinikus suatu kali duduk di warung kopi kecil dekat sebuah gedung pemerintahan.
Ia melihat banyak mobil mewah keluar masuk halaman belakang.

Lalu ia tertawa kecil sambil berkata:

Lucu ya…
Di negeri ini, kadang maling yang paling sopan justru pakai dasi.

Tak lama ia diam.

Mungkin karena sadar, kalimat itu terlalu pahit untuk dianggap sekadar lelucon.


Maka barangkali pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi:

Kenapa ada orang korup?

Tetapi:

Kenapa orang jujur malah sering dianggap masalah?

Karena ketika kejujuran mulai terasa asing di sebuah negeri,
mungkin yang sedang rusak bukan cuma sistemnya.

Tetapi cara berpikir manusianya.

Dan mungkin, kerusakan paling sunyi adalah ketika seseorang harus meminta maaf… hanya karena ia memilih tetap jujur.

(Selesai)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *