Sel. Mei 12th, 2026

Dengarlah Bandung, Kota yang Bicara Lewat Sampahnya

Oleh: Anto Ramadhan
(Pengamat Budaya, tinggal di Cicadas, Kota Bandung)

Bandung selalu pandai menyimpan cerita.

ALGIVON.IDDi sudut-sudut jalannya, di trotoar yang letih, di sungai yang seperti menahan napas, kota ini seolah sedang berbisik—atau mungkin mengeluh—tentang sesuatu yang sering kita abaikan: sampah.

Bagi banyak orang, sampah hanyalah benda mati. Plastik yang dibuang. Sisa makanan yang membusuk. Kardus yang robek. Botol yang kehilangan isi.

Namun di kota ini, sampah telah berubah menjadi bahasa.

Ia berbicara lebih keras daripada pidato pejabat. Lebih nyata daripada slogan-slogan kebersihan yang terpampang di baliho jalanan.

Seakan ia berkata:

Lihatlah aku, sebab aku adalah cermin kalian.

Ironis.

Kota yang dahulu dijuluki Paris van Java—kota yang dipuja karena kesejukan dan keelokannya—kini justru kerap menghadirkan pemandangan yang jauh dari romantika: gunungan sampah di pinggir jalan, aroma menyengat yang memaksa orang menutup hidung, hingga sungai yang perlahan berubah menjadi tempat pembuangan dosa kolektif.

Padahal, persoalan sampah bukan semata soal plastik.

Ia adalah soal kebiasaan. Soal mentalitas. Soal bagaimana manusia memperlakukan ruang hidup bersama.

Kita sering marah kepada pemerintah:

Mengapa sampah menumpuk?

Pertanyaan itu sah.

Namun jarang sekali kita bertanya kepada diri sendiri:

Mengapa tangan ini begitu mudah melepaskan bungkus makanan ke jalan, seolah bumi memiliki kewajiban untuk menghilangkannya?

Sampah adalah demokrasi yang paling jujur.

Ia tidak peduli siapa kita—warga biasa, pejabat, akademisi, maupun influencer media sosial. Semua menghasilkan sampah.

Yang membedakan hanyalah satu: apakah kita bersedia bertanggung jawab atas jejak yang kita tinggalkan?

Di Cicadas, di bantaran Cikapundung, di gang-gang sempit maupun boulevard besar, sampah menjadi saksi diam tentang hubungan manusia dengan kotanya.

Ia menumpuk bukan semata karena tidak ada tempat, melainkan karena terlalu banyak orang merasa:

Itu bukan urusan saya.

Kita hidup di zaman yang serba cepat.

Cepat membeli.
Cepat memakai.
Cepat membuang.

Namun kita lupa satu hal penting: bumi tidak memiliki tombol “delete”.

Karena itu, mungkin yang perlu dibangun bukan hanya tempat pengolahan sampah atau teknologi canggih semata, melainkan kesadaran kolektif.

Pendidikan lingkungan sejak dini.
Rasa malu sosial bagi pembuang sampah sembarangan.
Dan yang paling penting: cinta.

Ya, cinta.

Sebab orang yang mencintai kotanya tidak akan tega melukainya dengan limbahnya sendiri.

Bandung sesungguhnya tidak sedang meminta sesuatu yang muluk-muluk.

Kota ini hanya meminta warganya kembali waras.

Membuang sampah pada tempatnya.
Mengurangi yang tidak perlu.
Memilah sebelum terlambat.

Barangkali suatu hari nanti, sungai-sungai di Bandung kembali bening. Angin kembali membawa aroma tanah basah, bukan bau plastik terbakar. Dan anak-anak dapat bermain tanpa harus melihat tikus mengais sisa makanan di antara tumpukan sampah.

Sampai hari itu tiba, Bandung akan terus berbicara lewat sampahnya.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah kita mau mendengarnya?

(Selesai)

BACA JUGA: Saat Tanah Leluhur Menjadi Kawasan Premium

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *