Getir Pemilik Rumah Tua di Kota yang Kian Mahal
Esai Satire: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Di Negeri Konoha Raya, pembangunan selalu tampak memesona dari kejauhan.
Jalan diperlebar.
Trotoar dipercantik.
Kafe-kafe estetik tumbuh di sudut kota.
Apartemen menjulang.
Harga tanah melonjak.
Dan rakyat kecil perlahan menghilang.
Semua itu disebut kemajuan.
Di sebuah gang tua, seorang pensiunan guru tinggal di rumah warisan orangtuanya. Cat rumahnya kusam. Atapnya bocor saat hujan. Namun di situlah anak-anaknya dibesarkan dan kenangan hidup disimpan diam-diam.
Lalu kawasan itu berubah menjadi “daerah emas”.
Investor datang.
Properti melonjak.
Tanah di sekitar rumahnya diperdagangkan dengan harga fantastis.
Anehnya, sang pensiunan tidak ikut menjadi kaya.
Yang kaya hanyalah angka pada kertas NJOP dan tagihan Pajak Bumi dan Bangunan.
Negara berkata:
“Selamat, kawasan bapak kini bernilai tinggi.”
Tetapi isi dompet bapak tua itu tetap bernilai rendah.
Di sinilah ironi pembangunan menemukan bentuknya:
orang miskin bisa tinggal di kawasan mahal tanpa pernah merasa sejahtera.
Di Negeri Konoha Raya, pembangunan kadang bekerja seperti sulap:
harga tanah naik karena investor datang,
pajak naik karena harga tanah naik,
warga lama menjual rumah karena tak sanggup membayar,
lalu rumah-rumah itu berpindah ke tangan cukong properti.
Pemerintah pun bertepuk tangan:
“Kawasan ini semakin maju.”
Padahal yang terjadi sering kali hanyalah pengusiran yang sopan.
Bukan dengan buldoser.
Bukan dengan kawat berduri.
Melainkan dengan angka-angka.

Tagihan tahunan perlahan berkata:
“Kalau tak mampu mengikuti harga kawasan ini, mungkin Anda bukan bagian dari masa depan kota.”
Yang menyedihkan, negara sering lebih cekatan menghitung potensi pendapatan daerah dibanding menghitung kecemasan para lansia saat musim pembayaran PBB tiba.
Padahal tanah bagi kaum papa bukan sekadar aset.
Ia adalah:
ruang kenangan,
tempat pulang,
dan benteng terakhir harga diri.
Negara yang waras semestinya mampu membedakan:Mana spekulan tanah ratusan hektar, dan mana pensiunan yang hanya mempertahankan rumah sederhana warisan keluarga.
Sebab bila semua diukur dengan harga pasar, kota-kota besar akhirnya hanya akan menjadi museum beton:
rapi, mahal, modern —
tetapi kehilangan rakyatnya sendiri.
Dan ketika rumah terakhir warga lama berpindah tangan kepada cukong-cukong properti, negara mungkin masih sempat berpidato tentang pertumbuhan ekonomi.
Sementara rakyat kecil hanya bisa berkata lirih:
“Kami tidak kalah oleh perang.
Kami hanya kalah oleh tagihan.”
(Selesai).
BACA JUGA:Kosmologi Gelap Negeri Konoha Raya

