Esai Satir: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar diajarkan dalam pelajaran geografi: bahwa garis batas negara tidak berlaku bagi dampak.
Ia melompati peta, menembus laut, dan tiba di tempat yang bahkan tidak pernah disebut dalam perundingan.
Di situlah Indonesia berdiri—tidak dalam posisi menentukan, tetapi selalu dalam posisi menyesuaikan.
Korupsinikus menyebutnya dengan satu istilah yang terdengar canggung, namun terasa tepat:
Kedaulatan yang tersenggal-senggal.
Ketika Dunia Besar Bersin, Kita Ikut Flu
Di panggung global, gencatan senjata antara kekuatan besar diperlakukan sebagai kabar baik.
Pasar sedikit tenang. Diplomat sedikit lega. Media menurunkan nada.
Namun, ketenangan itu tidak pernah sepenuhnya sampai ke bawah.
Sebab yang bergerak lebih cepat dari kabar baik adalah harga.
Minyak mentah yang bergejolak di pasar internasional segera menemukan jalannya ke dalam struktur biaya domestik. Tidak selalu melalui keputusan yang dramatis, melainkan melalui penyesuaian yang nyaris administratif:
- subsidi yang ditekan
- ongkos logistik yang disesuaikan
- harga yang “dikaji ulang”
Semua terdengar rasional. Semua bisa dijelaskan.
Namun bagi masyarakat, hasil akhirnya tetap sama:
lebih mahal untuk hidup seperti kemarin.
Korupsinikus menulis dengan nada nyaris dingin:
Kita tidak pernah benar-benar membeli minyak dunia. Kita membeli konsekuensinya.
Negara yang Rajin Menyerap, Lambat Menyalurkan
Di atas kertas, negara hadir untuk meredam gejolak.
Subsidi disiapkan. Bantuan disalurkan. Stabilitas dijaga.
Namun dalam praktiknya, terdapat jeda yang tidak kecil antara kebijakan dan kenyataan.
Negara begitu sigap menyerap tekanan global,
tetapi sering kali tampak lebih lambat dalam menyalurkan perlindungan ke tingkat paling bawah.
Di ruang itulah, masyarakat kecil mengembangkan mekanisme bertahan sendiri:
- mengurangi konsumsi
- mengganti kualitas
- menunda kebutuhan
Bukan karena tidak ingin hidup lebih baik,
melainkan karena keadaan memaksa untuk hidup lebih sempit.
Ekonomi yang Mengecil Tanpa Mengaku
Salah satu bentuk penyesuaian paling jujur justru tidak pernah diumumkan secara resmi.
Ia hadir di warung, di pasar, di meja makan.
Harga tampak tetap.
Namun isi berubah.
Tahu menjadi lebih tipis, seolah ikut berhemat.
Tempe menyusut, seakan memahami keadaan.
Tidak ada yang memprotes secara terbuka, karena semua orang mengerti:
ini bukan soal niat, melainkan soal bertahan.
Korupsinikus memberi nama pada fenomena ini:
Ekonomi yang mengecil tanpa pernah merasa bersalah.
Dan dalam diam, masyarakat menerimanya sebagai sesuatu yang “wajar”.
Peternak dan Logika yang Tidak Sederhana
Di kandang-kandang ayam, persoalan tidak kalah rumit.
Pakan yang bergantung pada rantai pasok global menjadi lebih mahal.
Peternak dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah:
- menaikkan harga, dengan risiko ditolak pasar
- atau menekan biaya, dengan risiko menurunkan kualitas
Pilihan mana pun mengandung konsekuensi.
Dalam jangka pendek, kita mulai melihat gejala-gejala kecil:
- ukuran telur yang tidak sepadat sebelumnya
- harga yang bergerak perlahan naik
- kualitas yang sedikit bergeser
Bukan perubahan yang drastis.
Namun cukup untuk mengingatkan bahwa stabilitas bukanlah sesuatu yang diberikan—
melainkan sesuatu yang dibayar setiap hari.
Korupsinikus menulis:
Jika pakan dikurangi, ayam tidak berdebat. Ia hanya menyesuaikan.
Dan hasil penyesuaian itu, kita yang makan.
Gencatan di Atas, Kegelisahan di Bawah
Di tingkat global, gencatan senjata bisa diumumkan dalam satu kalimat.
Di tingkat lokal, dampaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar reda.
Sebab yang berhenti hanyalah tembakan.
Bukan tekanan.
Ekonomi global tetap bergerak dengan logikanya sendiri—
dan negara seperti Indonesia sering kali berada pada posisi menerima, bukan menentukan.
Bertahan dengan Nafas Pendek
Korupsinikus menutup catatannya dengan kalimat yang sederhana, namun mengganggu ketenangan:
“Kita tidak sedang runtuh.
Kita hanya sedang bertahan… dengan napas yang sedikit lebih pendek dari biasanya.”
Dan mungkin, di situlah persoalan sesungguhnya.
Bukan pada krisis besar yang terlihat,
melainkan pada kemampuan kita untuk terus menyesuaikan diri—
hingga suatu hari kita lupa,
bahwa hidup yang layak seharusnya tidak selalu terasa seperti
bertahan yang tersenggal-senggal.
(Selesai)

