Esai Kontemplatif: Harri Safiari
Catatan Redaksi:
Surat asli Korupsinikus panjangnya hampir menyaingi naskah kuno yang keburu ditinggalkan karena dunia lebih sibuk berperang daripada membaca. Demi efisiensi—dan demi menjaga pembaca tidak kabur duluan—kami sajikan versi ringkasnya.
Versi lengkapnya sudah dikirim ke Gedung Putih di Washington dengan layanan same day delivery. Logikanya sederhana: kalau perang bisa dipercepat, masa surat damai harus menunggu giliran?
Yang Terhormat
Tuan Donald J. Trump,
ALGIVON.ID — Korupsinikus menulis ini sambil sesekali mengetuk kepalanya sendiri—sekadar memastikan ia tidak kembali menjadi batu.
Sebab jujur saja, Tuan…
yang tampak membatu hari ini bukan tubuh, melainkan cara berpikir:
konflik diselesaikan dengan konflik.
Padahal, kalau boleh jujur—dan ini jujur sekali—
perang bukan hanya ketinggalan zaman, tapi juga kehilangan akal.
Tuan Trump,
Dunia ini bukan papan catur yang bidaknya bisa dikorbankan demi strategi.
Ini rumah bersama.
Namun anehnya, yang paling sering berbicara soal “keamanan” justru yang paling rajin menciptakan ketidakamanan.
Ironis?
Bukan lagi. Ini sudah level plot twist yang gagal paham.
Korupsinikus—yang konon lahir dari kutukan amplop haram ke-2005 di Negeri Konoha Raya (NKR)—pernah belajar satu hal penting di tanah Sunda:
Silih Asah — saling mengasah pikiran
Tapi yang diasah hari ini justru senjata.
Silih Asih — saling mengasihi
Tapi yang tampak justru saling mencurigai, bahkan saling menghancurkan.
Silih Asuh — saling membimbing
Namun yang kuat justru “membimbing” yang lemah… ke jurang konflik tanpa ujung.
Tuan Trump,
Rakyat Anda sendiri mulai bertanya.
Bukan dengan amarah, melainkan dengan kebingungan yang pelan tapi pasti membesar:
“Ini perang untuk siapa, dan sampai kapan?”
Polling demi polling—yang mungkin tidak selalu Anda sukai—mengirimkan pesan yang sama:
dukungan tidak sebesar volume pidato.
Dunia pun ikut bersuara.
Dari jalanan kota besar hingga sudut-sudut kecil planet ini, manusia turun dengan satu kata yang semakin keras terdengar:
“Cukup.”
Dan soal aliansi…
Mari kita jujur sejenak.
Aliansi yang dibangun di atas ketakutan, cepat atau lambat akan retak oleh keraguan.
Bahkan NATO kini terasa seperti orkestra tanpa dirigen:
semua memegang alat, tetapi tidak semua memainkan nada yang sama.
Di kawasan Timur Tengah, banyak “sahabat” yang tampak lebih sering diam—
bukan karena setuju, melainkan karena bingung… atau mungkin kelelahan.
Tuan Trump,
Korupsinikus ini orang Sunda.
Di kampungnya ada petuah sederhana:
“Hade goreng oge ku omong.”
Baik atau buruk, selesaikan dengan bicara.
Bukan dengan bom.
Bukan dengan ancaman.
Cobalah sekali saja, Tuan—
bertemu, duduk, berbicara dengan para pemimpin Iran.
Bukan dari podium yang penuh emosi,
bukan dari balik moncong senjata,
melainkan dari sesuatu yang mulai langka di dunia modern: ketulusan.
Karena terus terang saja, Tuan…
Sebagian pidato Anda terdengar bukan sebagai strategi,
melainkan emosi yang diberi mikrofon.
Dan dunia tidak membutuhkan lebih banyak mikrofon untuk amarah.
Dunia membutuhkan keberanian untuk diam sejenak…
lalu berpikir jernih.
Tuan Trump,
Tentang ucapan “mengembalikan Iran ke zaman batu”—
Korupsinikus hanya bisa garuk-garuk kepala.
Maklum, ia pernah menjadi batu.
Dikutuk—konon—karena amplop ke-2005 yang terlalu manis untuk ditolak.
Dari pengalaman itu, ia belajar satu hal:
membatu itu bukan solusi.
Maka izinkan ia menyampaikan dengan cara yang sederhana:
Jangan biarkan keteguhan berubah menjadi kekerasan.
Jangan biarkan kekuasaan berubah menjadi kebekuan hati.
Kalau dunia ini mulai terasa dingin dan keras,
mungkin yang dibutuhkan bukan tambahan tekanan—
melainkan keberanian untuk mencair.

Sebab pada akhirnya:
Dunya kedah diurus ku akal, sanes ku okol.
Jika yang dipakai hanya otot dan amarah,
jangan heran jika yang lahir bukan solusi—
melainkan sekadar sekuel masalah.
— Korupsinikus
Negeri Konoha Raya
(yang pernah jadi batu, tapi kini memilih berpikir) — (Selesai euy).
BACA JUGA: Jlegur! AS Siapkan Serangan Darat ke Iran, Korupsinikus: Lupa Vietnam dan Afghanistan?

