ALGIVON.ID – Di hadapan ratusan kader dan alumni HMI, KAHMI dan FORHATI, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, yang juga Ketua Komisi III DPR RI, Dr. Habiburokhman, S.H., M.H., menyampaikan pesan tegas, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak cukup hanya bertahan sebagai organisasi mahasiswa, HMI harus bertransformasi menjadi lumbung kader strategis bagi masa depan bangsa.
Dalam forum Silaturahmi Akbar KAHMI dan FORHATI Kabupaten Bandung, Sabtu, (2/5/2026), Habiburokhman menekankan bahwa waktu menuju Indonesia Emas 2045 semakin dekat, hanya sekitar dua dekade lagi.
Menurut Habiburokhman, keberhasilan Indonesia mencapai puncak kejayaan di usia seabad kemerdekaan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berintegritas.
“HMI punya sejarah panjang melahirkan pemimpin lintas sektor, tapi ke depan, tantangannya jauh lebih kompleks, transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” ujar Habiburokhman di Hotel Puri Khatulistiwa, jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Habiburokhman dalam kesempatan ini memaparkan empat pilar utama yang harus menjadi arah gerak HMI ke depan.
Pertama, peningkatan kualitas SDM, bukan hanya cerdas akademik, tetapi juga progresif dan sistematis dalam berpikir.
Kedua, pembangunan berkelanjutan yang menuntut kader peka terhadap isu lingkungan dan ekonomi inklusif.
Ketiga, penguatan demokrasi dan stabilitas melalui peran nyata alumni di berbagai sektor strategis.
Keempat, memastikan HMI tetap menjadi “rumah perjuangan” yang kokoh bagi calon pemimpin bangsa.
Menurut Habiburokhman pembangunan berkelanjutan tidak bisa dicapai secara instan.
Habiburokhman menyinggung pentingnya kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan, sekaligus mengingatkan bahwa perubahan arah yang terlalu drastis justru dapat menghambat kemajuan nasional.
Namun, jalan menuju 2045 tidak tanpa hambatan, Habiburokhman menyoroti fenomena post-truth dan politik instan yang kian menguat.
Habiburokhman mengingatkan bahwa arus informasi yang bias dan dangkal berpotensi melemahkan fondasi intelektual dan ideologis kader.
“HMI tidak boleh terjebak dalam romantisme gerakan masa lalu, HMI harus menjadi gerakan rakyat yang menyuarakan kebenaran berbasis argumentasi kuat, bukan sekadar ikut arus,” tegas Habiburokhman.
Habiburokhman juga menolak pendekatan kekuasaan yang represif sebagai jalan pintas pembangunan, menurutnya, stabilitas tetap harus dijaga melalui demokrasi yang sehat, bukan melalui “tangan besi” yang berisiko merusak tatanan jangka panjang.
HMI “Rumah Pulang”
Dalam refleksi yang lebih personal, Habiburokhman menyebut HMI sebagai “rumah pulang”, tempat berdialog tanpa sekat kepentingan.
Habiburokhman menegaskan, kekuatan HMI justru terletak pada karakter inklusifnya yang tidak sektarian, serta jejaring alumni yang tersebar di berbagai lini kekuasaan dan profesi.
“Di HMI, kita bisa berbeda tanpa harus terpecah, ini kekuatan yang tidak dimiliki banyak organisasi lain,” ungkap Habiburokhman
Habiburokhman juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas kaderisasi, kekhawatiran akan penurunan kualitas HMI menjadi alarm serius, mengingat organisasi ini selama puluhan tahun menjadi salah satu pilar lahirnya pemimpin nasional.
Menyinggung dinamika politik nasional, Habiburokhman menggarisbawahi, kepemimpinan bersifat sementara, sedangkan kaderisasi adalah proses jangka panjang.
Habiburokhman menilai, siapapun pemimpin hari ini, termasuk Presiden Prabowo Subianto memiliki batas waktu kekuasaan, karena itu, estafet kepemimpinan harus dipersiapkan sejak sekarang melalui organisasi kader seperti HMI, “Kalau bukan HMI yang menyiapkan, lalu siapa lagi?” ujarnya.
Dengan sisa waktu kurang dari dua dekade, Indonesia dituntut bergerak cepat namun tetap terarah.
Habiburokhman menutup paparannya dengan pesan reflektif, militansi kader HMI yang dikenal dengan semangat “Yakusa” atau “Yakin Usaha Sampai” harus naik kelas, tidak hanya kuat secara jumlah, tetapi juga unggul dalam kualitas dan gagasan.
“HMI harus menjadi jangkar stabilitas sekaligus motor perubahan, jika itu terwujud, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, tetapi keniscayaan,” pungkas Habiburokhman.
BACA JUGA: Forum Inisiator Penyatuan HKTI Jawa Barat Desak DPN HKTI Segera Gelar Musda Rekonsiliasi

