Esai Kontemplatif — Harri Safiari
ALGIVON.ID Pada minggu ketiga September 2026, dari Negeri Konoha Raya, terdengar satu kalimat yang barangkali sederhana, tetapi cukup penting: jangan jadikan penderitaan anak-anak sebagai bahan candaan.
Kalimat itu datang dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang mengecam aksi seorang karyawan SPPG di Bantul yang diduga mengejek korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di Warkop Mundur Maju, sore itu, Korupsinikus tampak mengangguk-angguk.
“Aku bersetuju kali ini dengan Pak Wapres,” katanya. “Kedukaan anak-anak jangan dijadikan bahan lawakan. MBG ini serius.”
Rubi yang duduk di sebelahnya ikut mengangguk.
Mereka sedang membicarakan Agnesia dan Febiona, dua siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSCM setelah diduga mengalami gangguan kesehatan akibat keracunan dalam program MBG.
Kabar baiknya, keduanya dikabarkan akan kembali bersekolah.
Namun, bagi Korupsinikus, persoalannya bukan berhenti pada apakah mereka sudah sembuh atau belum.
Ada sesuatu yang lebih sederhana.
Bagaimana mungkin penderitaan anak-anak dijadikan bahan olok-olok?
Sopandi, 46 tahun, pengemudi ojol yang sejak tadi menyimak percakapan itu, akhirnya angkat bicara.
“Maaf, Bang Korupsinikus,” katanya polos. “Kalau begitu, apakah semua yang berkaitan dengan MBG harus serius? Tidak boleh bercanda sama sekali?”
Korupsinikus menatapnya.
“Bercanda boleh.”
Sopandi mengernyit.
“Tapi?”
“Jangan bercanda di atas penderitaan orang lain.”
Warkop mendadak hening.
Rubi menyambung, “Apalagi yang menderita anak-anak.”
Korupsinikus lalu menyeruput kopinya.
“MBG itu makanan untuk anak-anak. Tujuannya menambah gizi. Bukan menambah luka.”
Sopandi manggut-manggut.
“Nah, itu dia, Bang. Berarti yang serius bukan cuma makanannya.”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Lantas?”
“Cara memasaknya harus serius. Kebersihannya harus serius. Pengawasannya harus serius. Distribusinya harus serius. Bahkan ketika ada masalah, menanganinya juga harus serius.”
Rubi langsung menyahut.
“Termasuk ketika ada yang sakit.”
“Termasuk ketika ada yang salah,” timpal Korupsinikus.
Sopandi terdiam sejenak.
Kemudian ia berkata, “Berarti hikmahnya sebenarnya sederhana saja. Apa pun yang kita programkan untuk masyarakat, terutama anak-anak, harus dikerjakan dengan benar dan hati-hati. Jangan sampai niat baik berubah menjadi masalah baru.”
Korupsinikus mengangguk.
“Betul.”
Ia kemudian memandang ke luar warung.
“Karena program besar bukan cuma soal berapa banyak yang dibagikan.”
“Lalu soal apa?” tanya Sopandi.
“Soal apakah yang dibagikan itu benar-benar aman.”
Warkop Mundur Maju kembali sunyi.
Tak ada yang tertawa.
Barangkali karena untuk urusan perut anak-anak, memang tidak ada yang lucu.
MBG ini serius.
Dan kalau sudah menyangkut keselamatan anak-anak, mungkin yang paling tidak pantas dilakukan adalah menertawakan mereka yang sedang menjadi korban.
— Selesai —
BACA JUGA: Tebak-tebak Buah Manggis ala Korupsinikus

