Esai Satire Mirip Ilmiah: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Menyambut misi demi menguak rahasia antariksa, dunia kembali menaruh perhatian pada James Webb Space Telescope, teleskop antariksa yang diluncurkan NASA pada 25 Desember 2021.
Salah satu objek yang menarik perhatian para ilmuwan adalah keberadaan K2-18 b, sebuah eksoplanet yang berjarak sekitar 120–124 tahun cahaya dari Bumi. Pengamatan teleskop Webb menemukan molekul yang mengandung karbon di atmosfernya, membuka kemungkinan adanya lingkungan yang menyimpan petunjuk tentang kondisi kimia yang menarik bagi penelitian adanya kehidupan di sana.
Namun, apakah planet itu benar-benar dapat dihuni manusia? Apakah di sana tersedia air, udara, dan lingkungan yang memungkinkan kehidupan seperti di Bumi?
Sains belum memberikan jawaban pasti.
Tetapi, begitulah kalau urusan sudah diserahkan kepada Korupsinikus. Batas antara fakta ilmiah dan khayalan politik yang simple dan berdaya-guna mendadak menjadi setipis kulit bawang – apapun bisa terjadi abracadabra!
Atas nama rumus kehidupan kacow-sumacow, Korupsinikus—tokoh kontroversial Negeri Konoha Raya yang konon baru terbebas dari kutukan korupsianisme ala Malin Kundang, bersama kelompoknya dengan berani-beraninya mendeklarasikan K2-18 b sebagai planet alternatif bagi penghuni Bumi yang kian sesak.
Bukan karena planet itu sudah terbukti layak huni. Bukan pula karena NASA memberikan lampu hijau untuk migrasi antargalaksi.
Alasannya jauh lebih sederhana, sekaligus mencengangkan.
Di planet itu, korupsi bukan kejahatan. Korupsi justru dilegalkan, asalkan dilakukan secukupnya.
Sekedar info saja, di sana bencana rutin sperti di planet kita banjir, longsor, karhutla, pencemaran lingkungan dan semacamnya, nyaris tidak ada.
“Ini terjadi berkat mitigasi kebencanaan yang dilakukan secara terpadu oleh semua penghuni yang ‘darling’-nya (kesadaran lingkungannya) tinggi sekali, contohnya sampah saja nyaris tak da, semua bisa didaur–ulang dan semua barang punya nilai tambah, malah”, terang Dadan Suradan, utusan kelompok Korupsinikus dari komunitas Warkop Mundur-Maju yang konon bekerja sama dari ‘pintu belakang secara mulus’ dengan SpaceX milik Elon Musk
Dadan ‘dapet diskon gede-gedean’ berkat adanya ordal dan orket (orang deket) diaspora asal NKR Supiktor namanya yang bekerja di sana dalam 16 tahun terakhir, ia sukses meniti karir sejak jadi OB hingga saat ini di bagian ticketing merangkap urusan logistik bagian paket barang mungil.
“Ya, secukupnya saja. Tidak kurang, tidak lebih. Pokoknya, jangan keterlaluan apalagi kemaruk atawa mangpang-meungpeung!” Pernyataan Dadan sontak membuat para pelanggan Warkop Mundur-Maju terdiam.
Sebagian mengernyitkan dahi, sebagian lagi menyeruput kopi, sementara yang lain tampak mulai menghitung kemungkinan biaya perjalanan ke planet yang belakangan mereka juluki Korupsiana.
“Biaya perjalanananya bisa diciccil ?” tanya salah satu pengunjung yang langsung dijawab Dadan sambil mengeluarkan brosur berikut tanggal keberangkatan berikut jumlah biaya secara rinci.
“Jadi, di sana korupsi diperbolehkan?” tanya seorang pengunjung lagi dengan rona penasaran.
“Betul.”
“Asal tidak berlebihan?”
“Tepat sekali!”
“Lalu, siapa yang menentukan batas berlebihannya?”
Dadan tersenyum. Ia menyesap kopi, membetulkan posisi duduk, lalu menjawab dengan tenang.
“Nah, itu yang harus dipelajari lebih lanjut dari peradaban mereka ynag luhur.”
Jawaban tersebut justru memancing lebih banyak pertanyaan dari pngunjung lainnya.
Menurut pengakuan Dadan, ia sempat tinggal selama tiga hingga empat bulan di Korupsiana. Selama masa kunjungan itu, ia menyaksikan kehidupan masyarakat yang, katanya, sangat guyub, rukun, dan penuh rasa persaudaraan, termasuk adanya peradaban berupa kegiatan Dewan Pengawas Korupsi yang berkinerja sangat bijak serta dihormati keberadaannya oleh warga Korupsiana.
Aneh memang. Korupsi dilegalkan, tetapi masyarakatnya tidak saling mencurigai atau saling jegal. Tidak ada perdebatan berkepanjangan tentang siapa yang paling berhak menikmati keuntungan.
Tidak pula terdengar kegaduhan hanya karena seseorang memperoleh bagian sedikit lebih besar daripada tetangganya. Iri dengki dan semacamnya, katanya sudah dikubur dalam-dalam sejak dahulu kala. Yang tersisa kini, hanya saling pengertian dan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih tak terbatas.
“Di Bumi, korupsi merusak kerukunan. Di Korupsiana, justru kerukunan yang membuat korupsi terasa baik-baik saja,”tambah Dadan yang mendadak makin bijak sekembali dari Korupsiana.
Sepertinya Dadan telah memeperoleh hidayah ya? Asal tahu saja Dadan ini dulunya sekitar 12 tahun pernah bekerja sebagai DC, ya debt collector yang termasuk galak, makanya banyak klien-nya terpaksa menyeganinya.
“Guyub juga, ternyata …” gumam Dadan, seolah masih belum percaya pada pengalamannya sendiri.
Para pengunjung Warkop Mundur-Maju semakin penasaran. Bagaimana mungkin sebuah peradaban dapat melegalkan korupsi, tetapi tetap mempertahankan kerukunan sosial? Sesuatu yang paradoks justru tampak harmonis ya? Ini namanya sungsang tumbal itu, batangkali kalau cocok ya?
Apakah rahasianya terletak pada rasa kasih sayang yang mendalam? Pada pembagian keuntungan yang merata? Atau jangan-jangan, semua penduduk Korupsiana sudah sepakat bahwa yang penting bukan menghapus korupsi, melainkan memastikan setiap orang memperoleh kesempatan untuk menikmatinya?
Dadan belum menjawab.
Ia hanya tersenyum, lalu meminta tambahan kopi.”Seangkir lagi nih…” ujar Dadan seakan menunda jawaban yang penuh misteri…
–Selesai —

