Sab. Okt 17th, 2026

Korupsinikus Versi Animasi, Apa dan Mengapa? Ini Sepintas Kata Kreatornya

Harri Safiari: “Kutukan yang Tak Kunjung Usai” Bukan Sekadar Kisah tentang Korupsi

ALGIVON.ID – Kemunculan potongan animasi yang menampilkan sosok Korupsinikus di dunia maya belakangan ini mengundang pertanyaan: apa sebenarnya Korupsinikus, dan mengapa tokoh satire antikorupsi itu kini dihidupkan melalui medium animasi?

Harri Safiari, kreator sosok Korupsinikus yang sejak 2024 hadir melalui esai-esai satire di sejumlah media daring, membenarkan bahwa proyek animasi tersebut sedang dirintis.

Namun, animasi ini bukan sekadar memindahkan tokoh Korupsinikus dari tulisan ke layar. Kisah yang diangkat justru berfokus pada asal-usul atau the origin kelahiran sosok tersebut.

“Sedang dirintis animasi tentang kiprah Korupsinikus. Namun, untuk versi ini, kisahnya lebih berfokus pada asal-muasal atau original story kelahiran Korupsinikus,” kata Harri Safiari ketika ditemui di sela-sela aktivitas jurnalistiknya di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Kamis (15/10/2026).

Animasi itu mengusung judul Korupsinikus (The Curse That Never Ends), atau Kutukan yang Tak Kunjung Usai.

Berbeda dengan Korupsinikus dalam esai-esai satire yang kerap berfilsafat di Warung Kopi Mundur-Maju, versi animasi ini mengajak penonton menelusuri kisah kelahiran manusia terkutuk bernama Korupsinikus. Di sinilah cerita bergerak memasuki wilayah mitologi, fantasi, dan satire politik yang absurd.

Dikutuk Menjadi Batu karena Korupsi ke-2005 Kali

Jika legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak durhaka yang dikutuk ibunya hingga menjadi batu, Korupsinikus menghadirkan ironi yang berbeda. Tokohnya bukan dikutuk karena durhaka kepada orang tua, melainkan karena terus-menerus melakukan korupsi.

Dalam kisah tersebut, Korupsinikus sesungguhnya telah diperingatkan sejak kecil. Ia diberi kesempatan untuk menghentikan kebiasaan buruknya sebelum perbuatan korupsinya mencapai hitungan ke-2.005. Jika berhenti setelah melakukan korupsi ke-2.004, kutukan itu konon tidak akan pernah terwujud.

Namun, keserakahan mengalahkan akal sehat. Peringatan diabaikan, nafsu untuk terus mengambil keuntungan tak terbendung, dan akhirnya tibalah saat yang menentukan.

Pada perbuatan korupsi yang ke-2005, kutukan itu benar-benar terjadi. Korupsinikus berubah menjadi batu.

Akan tetapi, cerita belum berakhir. Dalam sebuah ironi yang khas dunia Korupsinikus, patung batu tersebut justru disimpan di sebuah museum paleontologi di Negeri Konoha Raya (NKR), lengkap dengan identitas yang mengabadikan namanya: Korupsinikus.

Mengapa patung seorang koruptor ditempatkan di museum kepurbakalaan? Siapa yang memutuskan bahwa sosok itu layak menjadi bagian dari sejarah purba? Dan apakah ia benar-benar telah menjadi fosil, atau justru menjadi monumen bagi kebiasaan buruk manusia yang tak pernah selesai?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi bagian dari permainan imajinasi dalam semesta Korupsinikus.

Bersinggungan dengan Sejarah Manusia Purba

Kisah animasi ini juga memainkan kebetulan waktu yang menarik. Dalam narasi yang dirancang Harri, penempatan patung Korupsinikus di museum pada 17 Desember 2025 dikaitkan dengan momentum kembalinya koleksi Java Man atau Homo erectus ke Indonesia setelah 130 tahun berada di Belanda.

Hubungan itu menjadi semacam jembatan imajinatif antara dunia fiksi dan sejarah manusia purba. Di satu sisi terdapat fosil yang menjadi bagian penting perjalanan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, terdapat manusia yang berubah menjadi batu akibat keserakahannya sendiri.

Secara historis, fosil Homo erectus yang ditemukan Eugène Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1891 menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian evolusi manusia. Koleksi yang berkaitan dengan penemuan tersebut mencakup sejumlah bagian fosil, antara lain tempurung kepala, tulang paha, dan gigi, serta material pendukung penelitian.

Bagi Korupsinikus, sejarah bukan sekadar latar. Sejarah menjadi panggung untuk mengajukan pertanyaan: jangan-jangan yang seharusnya dipajang di museum bukan hanya peninggalan manusia purba, melainkan juga perilaku buruk manusia modern yang terus berulang.

“Siapa tahu suatu saat dibangun musium tentng all about corruption di NKR, ini penting juga kan? Tak sekedar jujur itu hebat atau generasi emas kelak sedikitnya pada tahun 2045, terbebas dari laknatulloh korupsi, artinya emas itu berarti jujur dan bersih pula”, ujar Harri berandai-andai.

Lahir dari Kekesalan terhadap Korupsi yang Tak Kunjung Usai

Harri Safiari, 69 tahun, lulusan IKIP Bandung tahun 1982 jurusan Filsafat & Sosiologi Pendidikn FIP mengaku bahwa kelahiran tokoh Korupsinikus berangkat dari kegelisahannya menyaksikan persoalan korupsi di Indonesia yang seolah tak kunjung menemukan ujung.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdiri pada 2002, pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Namun, keberadaan lembaga antirasuah itu belum membuat persoalan korupsi menghilang dari berbagai sektor kehidupan.

“Tokoh Korupsinikus ini lahir dari kekesalan melihat kasus korupsi di Negara Konoha raya (NKR) yang makin ke sini terasa makin menjadi-jadi. KPK sudah berdiri sejak 2002, tetapi korupsi tetap menjadi persoalan serius. Dalam pandangan saya, praktiknya bahkan terasa semakin meluas dan melibatkan banyak kepentingan,” ujar Harri.

Dari kegelisahan itulah Korupsinikus tumbuh menjadi tokoh fiktif yang tidak hanya berbicara tentang pelaku korupsi, tetapi juga tentang lingkungan sosial yang memungkinkan korupsi terus hidup, tumbuh, dan diwariskan.

Dalam dunia Korupsinikus, batas antara kenyataan dan khayalan memang sengaja dibuat lentur. Alur ceritanya melompat-lompat dari masa lalu ke masa kini, kemudian melesat ke masa depan.

Tokoh-tokohnya dapat berbicara tentang filsafat kehidupan di warung kopi, tetapi pada saat yang sama bisa pula menyeret tuyul ke bursa saham dan mempertemukannya dengan dunia krypto yang canggih setta memusingkan, malah.

“Jalinan kisahnya memang dibuat melompat-lompat, bahkan terkesan kacau. Kalau ingin memahami apa dan siapa Korupsinikus, pembaca bisa menelusuri esai-esain satire-nya, sementara versi animasi diharapkan dapat membantu penonton menangkap asal-usul tokoh ini melalui bahasa visual secara populer,” katanya.

Harri mengakui, memahami Korupsinikus melalui esai kontemplatif atau satire membutuhkan kesediaan untuk membaca lebih cermat. Sebab, di balik kelucuannya terselip renungan filosofis yang dibangun dari sudut pandang filsuf jalanan—kadang sederhana, kadang ngawur, tetapi tidak jarang justru mengusik pikiran, berujung menjengkelkan sekaligus.

Bayangkan saja, tuyul yang selama ini dikenal sebagai makhluk pencuri uang dalam cerita rakyat, kini diajak bermain di pasar saham dan dunia krypto. Bagaimana jadinya jika dunia mistik bertemu dengan mekanisme keuangan modern?

“Kadang-kadang saya sendiri ikut bingung dengan jalan cerita yang saya karang,” ujar Harri, sembari tertawa smabl terhuyung-huyung mencari obat penawarnya sesegera mungkin agar lekas sembuh dari penyakit “ngelanturisme” yag ata tetangganya sudah masuk stadium akut, malah.

Dari Esai ke Animasi: Memperluas Dunia Korupsinikus

Kehadiran animasi menjadi upaya untuk memperluas cara publik mengenal Korupsinikus. Jika esai memberi ruang bagi permainan kata, sindiran, dan perenungan, animasi memungkinkan absurditas cerita diterjemahkan melalui gambar, gerak, ekspresi, dan kejutan visual yang memukau sekaligus menghujam!

Dalam format ini, kisah Korupsinikus tidak harus berhenti sebagai bacaan bagi mereka yang terbiasa menikmati esai satire. Medium animasi diharapkan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, termasuk generasi muda yang lebih akrab dengan cerita visual di ruang digital.

Namun, di balik segala keanehan dan kelucuannya, terdapat pesan yang ingin disampaikan: korupsi bukan perbuatan sepele yang dapat terus diulang tanpa konsekuensi.

“Semoga petualangan Korupsinikus yang multidimensi melalui animasi ini bisa memberikan ilham atau inspirasi kepada siapa pun agar tidak melakukan korupsi, sekecil apa pun. Sebab, dalam kisah ini, keserakahan pada akhirnya membawa pelakunya menuju kutukan,” tutur Harri.

Tokoh utama itu, menurut cerita fiksinya, semula bernama Kusnadi, kelahiran Kircon, Kota Blandung—bukan Bandung. Nama dan tempat yang sengaja dibengkokkan tersebut merupakan bagian dari gaya humor absurd yang mewarnai semesta Korupsinikus.

Blandung menjadi semacam cermin bengkok bagi kenyataan. Melalui dunia rekaan itu, pembaca dan penonton diajak menertawakan keburukan, sekaligus memeriksa kembali perilaku manusia di dunia yang sebenarnya.

Merintis dari Bandung, Berharap Menjangkau Lebih Luas

Dalam proses pengembangannya, proyek animasi Korupsinikus mendapat dukungan berupa pemanfaatan ruang digital animasi di Bandung Creative Hub, Jalan Sukabumi, Bandung, sebagaimana disampaikan Harri.

Ia berharap fasilitas tersebut dapat membantu proses pengembangan karya hingga semakin siap diperkenalkan dan dibicarakan dengan calon mitra.

Harri tidak mengerjakan proyek ini sendirian. Dalam proses kreatifnya, ia dibantu sejumlah rekan, antara lain Jajat Sudrajat, Rivansyah Dunda, dan istrinya, Syara Bahria. Dukungan juga datang dari Aji Dono, seorang rekan yang berada di Yogyakarta.

Bagi Harri, perjalanan Korupsinikus dari esai menuju animasi bukan semata-mata urusan mengubah tulisan menjadi gambar bergerak. Ini adalah upaya mencari bahasa baru untuk menyampaikan kegelisahan lama: mengapa korupsi terus berulang, sementara akibatnya harus ditanggung masyarakat luas yang tak kebagian peran sejak dulu kala, sialnya saja yang didapat.

“Mudah-mudahan prosesnya lancar. Mohon doa dan dukungannya,” kata Harri masih sambil sedikit terhuyung-huyung seperti hilng arah – rumahku di mana ya, kok lupa nih?!

Barangkali itulah alasan mengapa kutukan Korupsinikus diberi nama The Curse That Never Ends. Sebab, selama keserakahan terus dipelihara dan korupsi masih menemukan tempat untuk tumbuh, kisah tentang kutukan itu belum tentu selesai.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, museum di Negeri Konoha Raya bukan lagi sekadar tempat menyimpan patung manusia yang dikutuk menjadi batu, melainkan pengingat bahwa peradaban tidak akan benar-benar maju jika perilaku manusianya terus berjalan mundur.

Obsesi lain, Adakah? 

Ketika ditanya, adakah obsesi lain dari pembuatan animasi ini?

“Banyak, dan tentu ada dong. Bila tuntas animasi ini, kelak ada kesempatam akan diikutsertakan pada festival film internasional, makanya dibuat multi version dan multi lingual pula sejak awal.

Mungkin saja bisa mnghidupkan duniaekrav melalui Korupsinikus yang tak hanya laknat namun kini bermanfaat minimal sebagai hiburan atau katarsis alias penyembuh aneka penyakit masarakat kini dan masa mendatang, “pungkasnya dengan sedikit ajeg tanpa terhuyung-huyung. (HS & RD).

BACA JUGA: Isu Gibran Mau Mundur Merebak, Korupsinikus: “Tunggu Dulu! Pejuang Kemerdekaan Kita Justru Dulu Pantang Mundur, Bukan?!”

Related Post