Jum. Okt 16th, 2026

Isu Gibran Mau Mundur Merebak, Korupsinikus: “Tunggu Dulu! Pejuang Kemerdekaan Kita Justru Dulu Pantang Mundur, Bukan?!”

Esai Satire: Harri Safiari

ALGIVON.ID – Guliran isu tentang Gibran Rakabuming Raka yang konon hendak mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden mulai menjadi bahan perbincangan. Entah benar, entah sekadar desas-desus yang beranak-pinak di tengah hiruk-pikuk politik Negeri Konoha Raya (NKR).

Di negeri ini, kabar politik kadang berlari lebih cepat daripada klarifikasinya. Bahkan, sebelum yang bersangkutan bicara, masyarakat sudah lebih dahulu membuat kesimpulan, menyusun skenario, dan menyiapkan episode berikutnya, hingga tamat walaupun semuanya imajiner…?!

Pagi itu, di W!arung Kopi Mundur–Maju, Korupsinikus tampak mengaduk kopi sambil memasang wajah serius. Wajah yang biasanya sulit dibedakan antara sedang berpikir keras atau sedang menahan keinginan untuk tertawa.

“Dede Surede, kamu sudah dengar kabar terbaru?” tanya Korupsinikus.

“Kabar yang mana? Kabar harga kebutuhan pokok naik, kabar rakyat makin sulit, atau kabar pejabat mau mundur?” jawab Dede Surede.

“Yang terakhir itu. Katanya, Gibran mau mundur!”

Dede Surede menyeruput kopi. Ia tidak langsung menjawab. Rupanya, kabar itu perlu dicerna lebih lama daripada kopi hitam tanpa gulay, yang teamat pahit melebihi patrawali kela stinggi.

“Kalau benar mau mundur, memangnya kenapa?”

“Nah, itu dia persoalannya!” Korupsinikus menepuk meja. “Tunggu dulu! Bukankah para pejuang kemerdekaan kita dahulu justru terkenal dengan semboyan pantang mundur?”

Dede Surede mengangguk pelan.

“Betul. Tetapi, Bung Korupsinikus, jangan-jangan kita sedang mencampuradukkan dua perkara yang berbeda.”

“Apa maksudmu?”

“Pantang mundur ketika memperjuangkan kemerdekaan itu satu perkara. Pantang mundur ketika menghadapi persoalan jabatan itu perkara lain. Konteksnya berbeda, Bung!”

Korupsinikus terdiam sejenak. Ia lalu menatap papan nama warung yang bertuliskan Mundur–Maju. Ternyta, tak maju-maju seinci pun.

“Wah, kalau begitu, nama warung ini ternyata mengandung filsafat politik yang mendalam.”

“Filsafat apa?”

“Bahwa maju itu tidak selalu benar, mundur tidak selalu salah. Yang penting, tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur.”

Dede Surede tertawa kecil.

“Kalau begitu, bagaimana dengan orang yang terus maju meskipun sudah salah arah?”

Korupsinikus mengangkat telunjuknya.

“Nah! Itu yang berbahaya. Pantang mundur boleh saja. Tetapi kalau salah arah, jangan-jangan bukan sedang memperjuangkan cita-cita, melainkan sedang mencari kesempatan untuk menabrak tembok!”

Tawa mereka pecah. Beberapa pelanggan menoleh, tetapi segera kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Di Negeri Konoha Raya, orang tertawa karena lelucon politik sudah biasa. Yang tidak biasa ialah ketika lelucon itu mendadak terasa seperti kenyataan.

“Jadi, menurutmu, Gibran harus mundur?” tanya Dede Surede.

“Lho, saya tidak sedang menyuruh siapa pun mundur,” jawab Korupsinikus. “Saya juga tidak tahu apakah kabar itu benar. Saya cuma bertanya: mengapa kita begitu sibuk membicarakan orang mundur atau tidak mundur, sementara persoalan yang harus dipertanggungjawabkan justru perlu dibicarakan dengan terang?”

Ia meletakkan sendok kecil di atas tatakan gelas.

“Jabatan bukan hadiah untuk orang yang paling kuat bertahan. Jabatan itu amanah. Kalau seseorang masih layak, biarkan ia bekerja dan buktikan kelayakannya. Kalau ada persoalan, jawab dengan terbuka. Kalau memang harus mengambil keputusan, ambillah berdasarkan tanggung jawab, bukan sekadar gengsi.”

Dede Surede kembali mengangguk.

“Berarti semboyan maju terus pantang mundur juga harus diperiksa?”

“Bukan semboyannya yang salah,” kata Korupsinikus. “Yang perlu diperiksa adalah orang yang menggunakannya untuk segala keadaan. Pahlawan dahulu pantang mundur menghadapi penjajah. Jangan sampai sekarang semboyan itu dipakai untuk menghindari pertanyaan tU Pansus DPR!

Warung kembali riuh. Seseorang di sudut ruangan berseru bahwa politik memang penuh kejutan. Yang lain menyahut bahwa kadang-kadang, yang lebih mengejutkan justru cara orang menanggapi kejutan.

Korupsinikus tersenyum getir.

“Sudahlah. Jangan buru-buru pulang, uDede Surede yang mau segera pulang karna ditunggu keluarganya di rumah yang KPR-nya baru lunas dicicil dalam 14 tahun terakhir.

–Selesai —

BACA JUGA: Metafora Korupsinikus Diangkat ke layar Kaca – Menggarap Original Korupsinikus – Kutukan yang tak selesai

Related Post