Ming. Okt 11th, 2026

Metafora Korupsinikus Diangkat ke layar Kaca – Menggarap Original Korupsinikus – Kutukan yang tak selesai

ALGIVON.ID – Faktanya, nyaris tak satupun awak pegiat media di Kota Bandung mengendusnya. Pasalnya, serial metafora ‘Korupsinikus’ yang kerap dimuat di beberapa media online dalam dua atau tiga tahun terakhir ini seperti porosmedia.com;tandabaca.id; algivon.id; serta beberapa media online lainnya, seakan asyik sendiri sebagai bacaan populer di media online, penggemarnya sudah terbentuk dengan sendirinya.

“Ya, terhitung awal agustus2026 kami lebih serius mengangkat serial ‘Korupsinikus’ ini ke layar kaca (animasi). Awalnya, tak terpikir sama sekali akan dibuat dalam bentuk seperti ini, justru kami sedang merencanakan dalam bentuk visualilasi film secara nyata, malah sudah dilakukan semacam casting dan hunting location segala, “kata Harri Safiari, kreator serial metafora Korupsinikus yang kerap mengidentikan bahwa kenapa ada mahluk manusia bernama Korupsinikus? “Ini tak lain seperti riwayat kutukan yang tak selesai?” ujarnya sedikit menerangkan apa dan mengapa ada mahluk Korupsinikus ini.

Lebih jauh menurut Harri Safiari yang redaksi temui di kediamannya di bilangan Bandung Timur:

“Ringkasnya begini, sosok Korupsinikus ini saya gambarkan ia merupakan jelmaan mahluk kutukan berusia ribuan tahun lalu di sebuah negeri bernama Negeri Konoha Raya (NKR).  Dalam kisah khas ini, Korupsinikus ternyata ia hidup melewati berbagai jaman, mulai jaman purba seperti saudaranya PhitecanTropus Erectus yang fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois pada 1891 di Trinil. Hebatnya,  selama hampir 130 tahun fosilnya ada di Belanda, dan  kebetulan baru-baru ini pada September 2026 ia dikembalikan ke indonesia, kini ada di Jakarta.

Faktanya, fosil ini menjadi salah satu fosil penting dalam asal-usul maupun peradaban manusia di dunia,.”kebetulan saja pada September 2026 ini , anggaplah ikut merayakan kembalinya fosil penting ini ke indonesia.

Dan, kami di Bandung ikut merayakannya dengan cara lain, menerbitkan penjelmaan imajiner mirip Phitecantropus Erectus ke dalam kehidupan manusia nyata di jaman kiwari, malah seakan menjadi teman hidup kita saat ini.

Hanya, bedanya dimensi dalam kehidupan nyata ini,  Korupsinikus mengalami kutukan mirip legenda Malin Kundang di Sumatra Barat, Bedanya, Malin Kundang dikutuk jadi batu karena durhaka kepada ibunya, sedangkan Korupsinikus yang tak lain dalam versi manuia nyata bernama Kusnadi, dikutuk menjadi batu karena ia melakukan korupsi hingga yang ke-dua ribu lima  kali.” Padahal sudah diingatkan sekitar 28 tahun lalu oleh Jarkoni yang pernah mengingatkan secara langsung kepada Kusnadi kecil agar jangan melanjutkan perbuatan terkutuk (Korupsi) bila tiba pada hitungan ke-2004.

”Berhentilah berbuat bila uang haram itu sudah kau dapatkan pada hitungan ke-2004 ini,bila melewatinya kau akan terkena kutukan,” Ujar Jarkoni kala 28 tahun lalu sambilmencengkram badan Kusnadi kecil yang tak sengaja tertangkap karena mengintip beberapa pagawai seusia Jarkoni saat membagi-bagikan uang haram di sebuah rumah tua.

“Memang pelu penguasaan materi terlebih dahulu bila ingin mengikuti secara serius serial “korupsinikus ini karena format wantu dan lokasinya memang melompat-lompat ke berbagai dimensi, termasuk ke masa datang. masa lalu juga masa kini di era digital dan algoritma.

“Mohon doa restu saja, proyek kecil2an ini bisa sukses ke masyarakat,” kata Harri Safiari yang hari itu didamingi rekannya wartawan – foto Rivansyah Dunda yang juga turut menggarap proyek ini.

Kutukan di Negeri Konoha Raya

Saat ditemui di kediamannya di kawasan Bandung Timur, Harri menjelaskan bahwa Korupsinikus dibangun melalui narasi yang melintasi berbagai zaman dan dimensi. Dalam semesta cerita ini, Korupsinikus digambarkan sebagai jelmaan makhluk terkutuk dari ribuan tahun silam, yang berasal dari sebuah negeri bernama Negeri Konoha Raya (NKR).

Kusnadi dan Kutukan pada Hitungan ke-2.005

Harri mengibaratkan nasib Kusnadi dengan legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat. Keduanya sama-sama berujung pada kutukan yang mengubah tubuh manusia menjadi batu. Bedanya, Malin Kundang dikutuk karena durhaka kepada ibunya, sedangkan Kusnadi mengalami nasib serupa akibat perbuatan korupsi yang terus diulanginya.

Dalam kisah Korupsinikus, Kusnadi dikutuk menjadi batu setelah melakukan korupsi untuk yang ke-2.005 kalinya. Padahal, jauh sebelumnya, ia telah menerima peringatan agar menghentikan perbuatannya ketika mencapai hitungan ke-2.004.

Peringatan itu datang dari Jarkoni, sosok yang sekitar 28 tahun sebelumnya pernah menegur Kusnadi ketika masih kecil.

Kala itu, Kusnadi secara tidak sengaja mengintip sejumlah pegawai yang sebaya dengan Jarkoni sedang membagi-bagikan uang haram di sebuah rumah tua. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya, sekaligus awal dari rangkaian peringatan tentang konsekuensi perbuatan korupsi.

Jarkoni sempat mencengkeram tubuh Kusnadi kecil dan mengingatkannya agar tidak mengikuti perbuatan terkutuk tersebut.

“Berhentilah berbuat bila uang haram itu sudah kau dapatkan pada hitungan ke-2.004 ini. Bila melewatinya, kau akan terkena kutukan,” demikian peringatan Jarkoni dalam kisah tersebut.

Namun, peringatan itu pada akhirnya tidak menghentikan langkah Kusnadi. Ia justru melampaui batas yang telah ditentukan, hingga kutukan yang selama ini membayanginya benar-benar menjadi kenyataan.

Melalui kisah ini, Korupsinikus menghadirkan metafora tentang keserakahan, pengulangan kejahatan, dan konsekuensi moral yang terus mengikuti pelakunya. Kutukan tersebut bukan semata-mata perkara perubahan tubuh menjadi batu, melainkan simbol tentang perilaku koruptif yang terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penggarapan animasi Korupsinikus menjadi langkah baru bagi Harri Safiari dalam mengembangkan serial metafora yang selama ini hadir melalui media daring. Bersama fotografer Rivansyah Dunda, ia turut menggarap proyek yang diharapkan dapat membawa kisah tersebut menjangkau khalayak yang lebih luas.

Meski masih disebut sebagai proyek berskala kecil, pengembangan ini menjadi upaya untuk menghadirkan karya dengan pendekatan berbeda dalam membicarakan persoalan korupsi melalui fiksi, simbol, dan metafora.

“Mohon doa restu saja. Semoga proyek kecil-kecilan ini bisa sukses dan diterima masyarakat,” ujar Harri.

Kini, Korupsinikus bersiap memasuki medium baru. Di balik kisah makhluk terkutuk, perjalanan lintas zaman, dan nasib Kusnadi yang berakhir menjadi batu, tersimpan pertanyaan yang menjadi inti serial ini: sampai kapan kutukan akibat korupsi akan berakhir, atau malah akan terus berulang? Pesan moralnya, bila ingin hidup maslahat, hindari kutukan perbuatan laknat korupsi sedini mungkin.

Sebab, dalam semesta Korupsinikus, kutukan itu bukan sekadar kisah dari masa silam. Ia adalah riwayat yang terus berjalan—dan belum tentu akan benar-benar berakhir.

Sekedar info, crew lain di belakang layar pada proyek ini ada di antaranya Aji Dono, sineas era 1990-an dulu di kota Bandung yang kerap menggarapa beberepa film  dokumenter secara independen bersama Syara Bahria dan Rivansyah Dunda, plus Maman rekan kuliahnya di UNPAD dahulu yang kini berperan sebagai ‘master management’ di film ini yang masih berjudul sementara Korupsinikus “Original’ – that curse never ends. (HS & RD)

BACA JUGA: MAU BILANG KORUPSI ITU LAKNAT, TAPI MALU NGOMONGNYA, KORUPSINIKUS: DIAMLAH SUDAH …!

Related Post