Rab. Okt 7th, 2026

MAU BILANG KORUPSI ITU LAKNAT, TAPI MALU NGOMONGNYA, KORUPSINIKUS: DIAMLAH SUDAH …!

Dark Satire: Harri Safiari

ALGIVON.ID — Minggu pagi di  Warkop Mundur Maju, Korupsinikus duduk sendirian.

Kopi hitam mengepul.

Koran terbuka.

Berita korupsi lagi.

Korupsi lagi.

Dan lagi.

Rubi datang.

“Bung, kenapa bengong?”

Korupsinikus menunjuk koran.

“Saya mau bilang sesuatu.”

“Bilang saja.”

Korupsinikus menarik napas.

“Korupsi itu…”

Ia berhenti.

“Kenapa?”

“Mau bilang laknat.”

“Lalu?”

“Malulah.”

“Malunya kenapa?”

Korupsinikus mengaduk kopi.

“Takut dibilang sok suci.”

Rubi tertawa.

“Memangnya harus suci dulu untuk bilang korupsi itu buruk?”

Korupsinikus diam.

Pertanyaan itu ternyata lebih pahit daripada kopinya.

Di negeri ini, kadang orang lebih takut disebut munafik ketika mengutuk korupsi daripada takut melihat korupsi menjadi kebiasaan.

Maka Korupsinikus memilih diam.

Diamlah sudah.

Toh, korupsi tidak perlu diteriaki.

Ia sudah terdengar dari bunyi mesin penghitung uang.

Dari angka-angka anggaran.

Dari proyek yang tiba-tiba membengkak.

Dari pelayanan yang mendadak punya “uang rokok”.

Dari orang yang mendadak kaya lalu mendadak lupa dari mana asalnya.

Ting… gulitik… tik… tik…

Hujan turun di luar warkop.

Korupsinikus memandang genangan.

“Rubi.”

“Ya?”

“Kalau air hujan masuk rumah orang miskin, kita sebut musibah.”

“Betul.”

“Kalau uang rakyat masuk kantong pribadi?”

Rubi menjawab pelan,

“Korupsi.”

Korupsinikus mengangguk.

“Kalau korupsi dibiarkan?”

Rubi terdiam.

“Lalu?”

Korupsinikus tersenyum getir.

“Menjadi kebiasaan.”

Itulah yang paling menakutkan.

Bukan ketika seseorang berani mencuri.

Tetapi ketika orang-orang di sekitarnya sudah tidak merasa perlu bertanya:

“Kok bisa?”

Semua hanya mengangkat bahu.

“Sudahlah.”

“Namanya juga zaman.”

“Semua orang begitu.”

“Yang penting bukan saya.”

Korupsinikus menutup koran.

“Nah.”

“Apa?”

“Kalau semuanya sudah ‘sudahlah’, siapa yang masih punya urusan dengan kebenaran?”

Rubi tidak menjawab.

Kopi sudah dingin.

Hujan masih turun.

Ting… gulitik… tik… tik…

Korupsinikus akhirnya berdiri.

“Saya jadi tidak jadi bilang korupsi itu laknat.”

“Kenapa?”

“Karena kata-kata kadang terlalu ringan.”

Ia melangkah ke pintu.

Lalu berhenti.

Menoleh kepada Rubi.

“Lagipula, kalau saya bilang korupsi itu laknat…”

“Ya?”

“Jangan-jangan yang merasa tersinggung bukan korupsinya.”

“Lalu siapa?”

Korupsinikus tersenyum tipis.

“Orang yang hidup terlalu nyaman bersamanya.”

Ia pergi.

Rubi tetap duduk.

Di luar, hujan mengetuk genteng.

Ting…

gulitik…

tik…

tik…

Dan pagi itu Korupsinikus akhirnya menemukan kalimat yang sejak tadi ia tahan:

Korupsi boleh saja kita sebut laknat.

Tetapi yang lebih menyedihkan adalah ketika kita sudah tidak berani mengatakannya.

Bukan karena tidak tahu.

Melainkan karena terlalu banyak yang tahu—dan memilih diam.

Diamlah sudah…

Sebab mungkin, dalam negeri yang terlalu lama membiasakan korupsi,

diam bukan lagi tanda tidak tahu.

Diam bisa menjadi cara paling sopan untuk ikut membiarkannya.

— Selesai—

BACA JUGA: Jantung Siapa yang Berdebar di Malam Putusan MK? Korupsinikus dkk. Ngopi Sambil Menghitung Detak Kekuasaan

Related Post