Rab. Sep 23rd, 2026

Kewaspadaan Influenza A pada Anak, IDAI Imbau Orangtua Perkuat Proteksi Keluarga

ALGIVON.IDInfluenza A kembali menjadi perhatian. Pemantauan Kementerian Kesehatan menunjukkan subtipe Influenza A(H3N2) subklad K telah terdeteksi di 13 provinsi di Indonesia. Pada laporan pengawasan hingga minggu ke-36 tahun 2026, kasus H3N2 subklad K masih tersebar di 13 provinsi, dengan proporsi terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Di kawasan Asia Tenggara, aktivitas influenza juga menunjukkan peningkatan. Laporan Respiratory Viruses Surveillance Bulletin WHO untuk minggu epidemiologi ke-35 menyebut aktivitas influenza meningkat di zona transmisi Asia Tenggara. Secara regional, influenza A(H3) menjadi subtipe yang paling banyak terdeteksi.

Situasi tersebut mendorong Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orangtua agar meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap anak-anak yang termasuk kelompok rentan mengalami influenza dengan gejala berat.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp. H.Onk(K), mengatakan anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa.

Sistem kekebalan anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi. Anak yang telah terinfeksi juga dapat menularkan virus dalam waktu lebih lama sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di keluarga maupun lingkungan sekolah.

Lima Persen Anak Bisa Memerlukan Rawat Inap

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), mengatakan influenza pada anak umumnya dapat sembuh, tetapi pada kelompok tertentu dapat berkembang menjadi kondisi serius.

Data yang dipaparkannya dalam media briefing IDAI, Jumat (18/9/2026), menunjukkan sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Dari kelompok tersebut, sekitar 80 persen berusia di bawah dua tahun dan sekitar separuhnya merupakan bayi berusia kurang dari enam bulan.

Risiko komplikasi juga lebih besar pada anak di bawah lima tahun, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta, gangguan neurologis atau tumbuh kembang, menjalani perawatan jangka panjang, berada di tempat penitipan anak, maupun tinggal di lingkungan padat.

Influenza pada kelompok berisiko dapat berkembang menjadi komplikasi, antara lain pneumonia, perburukan asma, miokarditis hingga ensefalopati.

“Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati,” ujar Prof. Anggraini.

Deteksi Dini dan Terapi Tepat

Menurut Prof. Anggraini, deteksi dini penting untuk menentukan tata laksana. Pemeriksaan laboratorium, termasuk RT-PCR, dapat digunakan sesuai indikasi untuk membantu memastikan infeksi dan mengidentifikasi subtipe virus.

Pada pasien tertentu, antivirus seperti oseltamivir dapat digunakan berdasarkan penilaian dokter. Manfaat terapi antivirus paling besar bila diberikan sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.

Karena itu, orangtua diminta tidak memberikan obat antivirus kepada anak secara sembarangan.

“Pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep,” pesan dr. Hikari.

Orangtua juga perlu mengenali tanda bahaya, antara lain sesak atau napas cepat, demam tinggi yang menetap, anak sulit dibangunkan atau mengalami penurunan kesadaran, kejang, serta tanda dehidrasi. Bila gejala tersebut muncul, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Vaksinasi Tetap Menjadi Perlindungan Penting

IDAI merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan bagi anak mulai usia enam bulan. Vaksin influenza juga direkomendasikan bagi orang dewasa dan anggota keluarga lain yang memenuhi ketentuan medis.

Vaksinasi perlu dilakukan secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan, sementara perlindungan vaksin juga perlu diperbarui sesuai dengan strain yang diperkirakan beredar. Rekomendasi imunisasi influenza pada anak di Indonesia memang dimulai sejak usia enam bulan.

Secara umum, vaksin influenza dapat mengurangi risiko influenza dan membantu menurunkan risiko penyakit berat serta komplikasi. Efektivitasnya dapat berbeda dari musim ke musim, antara lain bergantung pada kesesuaian strain vaksin dengan virus yang beredar.

Selain melindungi anak yang divaksinasi, vaksinasi juga dapat membantu melindungi anggota keluarga lain yang lebih rentan, termasuk bayi berusia di bawah enam bulan yang belum dapat menerima vaksin influenza.

Jangan Bawa Anak Sakit ke Sekolah

IDAI juga mengingatkan bahwa anak yang sedang sakit sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak dibawa ke sekolah, tempat bermain, atau kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Langkah sederhana seperti mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, memakai masker ketika sakit, menjaga ventilasi ruangan, menghindari kerumunan serta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi dapat membantu mengurangi risiko penularan.

Anak yang sakit sebaiknya kembali beraktivitas setelah kondisinya membaik dan setidaknya telah bebas demam selama 24 jam tanpa menggunakan obat penurun panas.

Orangtua Diminta Tidak Panik, tetapi Waspada

IDAI menekankan bahwa kewaspadaan tidak berarti masyarakat perlu panik. Yang diperlukan adalah kemampuan mengenali gejala, mengetahui kelompok berisiko dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul tanda bahaya.

Di tengah meningkatnya aktivitas influenza di sejumlah wilayah Asia Tenggara, penguatan surveilans dan pemantauan pola penyebaran virus tetap diperlukan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan keberadaan H3N2 subklad K di 13 provinsi, sementara WHO mencatat peningkatan aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara.

“Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat mengurangi dampak influenza pada anak dan keluarga. Lindungi anak, lindungi bangsa,” ujar Prof. Anggraini. (HS & RD/L)

BACA JUGA: IDAI dan Pemda Sumba Barat Gelar Pemeriksaan Ekokardiografi Anak Secara Gratis

Related Post