Esai Kontemplatif: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Siang itu Warkop “Maju Mundur” kembali ramai.
Rubi dan Korupsinikus duduk di pojok.
Kopi hitam mengepul.
Obrolan mengalir.
Topiknya kali ini bukan politik.
Bukan pula korupsi.
Lebih sederhana.
Bisnis cepat kaya.
“Zaman sudah digital,” kata Rubi.
“Tokek dan tuyul mestinya sudah tamat.”
Korupsinikus terkekeh.
“Siapa bilang?”
“Tokek boleh tamat.”
“Tuyul boleh pensiun.”
“Tapi bisnis menjual mimpi?”
“Justru makin subur.”
Rubi mengernyitkan dahi.
Korupsinikus melanjutkan.
“Dulu orang mencari pesugihan ke tempat gelap.”
“Sekarang?”
“Cukup buka telepon genggam.”
“Dulu mencari dukun.”
“Sekarang mencari link.”
“Dulu membawa sesajen.”
“Sekarang transfer.”
Warkop mendadak hening.
Patrio, mantan pebisnis tokek, ikut menyimak.
Pepen Surepen, bekas peternak tuyul, mengangguk pelan.
“Bedanya apa?” tanya Pepen.
Korupsinikus menyeruput kopi.
“Dulu tuyul mengambil uang.”
“Sekarang?”
“Korban menyerahkan sendiri.”
Tak ada yang tertawa.
“Lebih efisien,” lanjutnya.
“Tak perlu memelihara tuyul.”
“Tak perlu memberi makan.”
“Tak perlu menyediakan kamar.”
“Cukup buat aplikasi.”
Korupsinikus tersenyum.
“Pasang iklan.”
“Janjikan keuntungan.”
“Pakai testimoni palsu.”
“Tambahkan sedikit kata-kata motivasi.”
“Sudah.”
“Korban datang sendiri.”
Rubi menggeleng.
“Berarti pesugihan masih hidup?”
“Masih.”
“Hanya berganti kostum.”
“Sekarang namanya macam-macam.”
“Investasi.”
“Trading.”
“Kerja dari rumah.”
“Hadiah.”
“Pinjaman.”
“Program penghasilan.”
“Bahkan lowongan pekerjaan.”
Korupsinikus menatap Patrio.
“Yang diburu sebenarnya bukan uang.”
“Lalu?”
“Harapan.”
Ia berhenti.
“Terutama oleh mereka yang sedang tidak punya apa-apa.”
Warkop kembali sunyi.
Pengangguran.
Pekerja yang kehilangan pekerjaan.
Orang yang terdesak kebutuhan
Anak muda yang ingin segera berhasil.
Mereka menjadi pasar empuk.
Bukan karena bodoh.
Karena terdesak.
Karena ingin hidup berubah.
Karena tidak punya cukup waktu untuk menberubah.
Di situlah para penjual mimpi masuk.
Mereka tidak menjual produk.
Mereka menjual jalan keluar.
Cepat.
Mudah.
Tanpa risiko.
Setidaknya begitu iklannya.
“Kalau begitu, siapa yang salah?” tanya Rubi.
Korupsinikus tersenyum.
“Pertanyaan bagus.”
“Korban?”
“Bukan.”
“Penipu?”
“Jelas.”
“Lalu?”
Korupsinikus menunjuk telepon genggam di meja.
“Ekosistemnya.”
“Yang membuat kebohongan bisa berlari lebih cepat daripada kebenaran.”
Rubi terdiam.
Korupsinikus melanjutkan.
“Dulu satu dukun hanya bisa menipu satu kampung.”
“Sekarang satu penipu bisa menipu satu negeri.”
“Dulu pesugihan perlu tempat khusus.”
“Sekarang pesugihan punya server.”
Pepen spontan tertawa.
Namun segera berhenti.
Sebab kalimat itu terasa terlalu dekat dengan kenyataan.
Korupsinikus kembali serius.
“Jangan salah.”
“Era digital bukan masalahnya.”
“Teknologinya juga bukan musuh.”
“Yang berbahaya adalah manusia yang memakai teknologi untuk mengeksploitasi harapan manusia lain.”
Patrio mengangguk.
“Jadi tokek dan tuyul sebenarnya cuma cerita lama?”
“Tidak sepenuhnya,” jawab Korupsinikus.
“Tokek dan tuyul adalah wajah lama.”
“Scam digital adalah wajah baru.”
“Intinya sama.”
“Janji besar.”
“Risiko disembunyikan.”
“Keuntungan dibesar-besarkan.”
“Korban dibuat terburu-buru.”
“Lalu uang berpindah.”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Yang berubah hanya medianya.”
“Dulu mangkuk sesajen.”
“Sekarang QR.”
Warkop “Maju Mundur” kembali gaduh.
Mang Dase dari balik meja ikut berkomentar.
“Kalau begitu, bisnis paling menguntungkan di NKR apa?”
Korupsinikus menjawab tanpa berpikir.
“Bisnis menjual harapan kepada orang yang sedang kehabisan harapan.”
Mang Dase terdiam.
Rubi menatap Korupsinikus.
“Dan obatnya?”
Korupsinikus menghabiskan kopinya.
“Jangan mudah percaya pada uang yang katanya datang terlalu mudah.”
“Jangan malu bertanya.”
“Jangan terburu-buru transfer.”
“Dan jangan berharap kaya mendadak hanya karena sebuah layar mengatakan demikian.”
Ia berdiri.
“Karena di zaman digital ini,” katanya,
“tuyul tidak perlu lagi mencuri uang.
Manusianya sudah dibuat menyerahkan sendiri.”
Korupsinikus berjalan meninggalkan warkop.
Rubi hanya bisa menghela napas.
Pepen menatap gelas kopinya.
Patrio memandang telepon genggamnya.
Lalu mereka sama-sama terdiam.
Sebab mereka akhirnya paham.
Pesugihan mungkin telah berubah bentuk.
Tokek boleh menghilang.
Tuyul boleh pensiun.
Tetapi selama manusia masih ingin kaya tanpa proses, industri mimpi akan tetap hidup.
Dan di Negeri Konoha Raya—
yang paling mahal ternyata bukan uang.
Melainkan harapan yang berhasil dicuri.
- Selesai-

