Jum. Apr 3rd, 2026

Perangi Iran Masih, Trump Malah Menarget Kuba, Korupsinikus: Dijongklokin …

Esai Reflektif: Harri Safiari

Pembaca budiman, mari kita mundur sejenak. Menengok rangkaian peristiwa yang tampak tercerai, padahal sesungguhnya terhubung oleh satu benang merah: ambisi kekuasaan yang merasa tak terbendung.

ALGIVON.IDAwal Januari 2026, dunia dikejutkan kabar Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, bersama istrinya, disebut-sebut “diamankan” oleh pasukan khusus atas perintah Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump. Dalihnya: konspirasi narkoba dan terorisme.

Namun bagi banyak pengamat, peristiwa itu lebih menyerupai demonstrasi kekuatan—sebuah pesan telanjang bahwa Washington masih ingin menjadi penentu tunggal arah dunia.

Belum reda kegaduhan itu, pernyataan Trump dalam forum Future Investment Initiative di Miami (29/3/2026) justru menambah bara:

Saya membangun militer yang hebat ini… terkadang Anda harus menggunakannya. Dan Kuba adalah target selanjutnya.

Pernyataan tersebut terasa ganjil—bahkan mengkhawatirkan. Sebab pada saat yang sama, Amerika Serikat—bersama Israel di bawah Benjamin Netanyahu—telah lebih dulu terlibat konflik terbuka dengan Iran sejak akhir Januari 2026.

Ironisnya, perang yang semula diperkirakan akan berlangsung cepat justru berbalik arah. Iran mampu memberi perlawanan yang tidak hanya sengit, tetapi juga mengejutkan dunia—termasuk serangan balasan ke Tel Aviv dan sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya terkendali itu, muncul kabar bahwa AS mengajukan proposal gencatan senjata berisi 15 poin kepada Iran. Sejumlah pengamat menilai, langkah ini bukan sekadar strategi diplomasi, melainkan indikasi kepanikan.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wireng Jurit, bahkan mengingatkan: terlalu jauh berharap Iran akan menyerah. Jika konflik terus berlarut, justru Amerika Serikat sendiri yang berpotensi semakin terpuruk.

Di sinilah paradoks itu muncul. Di satu sisi, Trump tampil seolah digdaya—menabuh genderang perang ke berbagai arah. Namun di sisi lain, realitas menunjukkan adanya tekanan: dari medan tempur, dari dinamika global, dan dari dalam negerinya sendiri.

Kata Korupsinikus & Rubi

Di Negeri Konoha Raya (NKR), sosok kontroversial bernama Korupsinikus kembali angkat suara.

Bersama rekannya, Rubi—aktivis anti-korupsi yang lebih sering “empot-empotan” ketimbang menikmati amplop—Korupsinikus membaca situasi dengan cara yang, seperti biasa, nyeleneh sekaligus menohok.

“Kayaknya Trump sudah kepalang basah dijongklokin perang sama Netanyahu,” ujar Korupsinikus, setengah berbisik, setengah berspekulasi.
“Bisa jadi, kunci-kunci Epstein Files yang maha telak itu ada di tangan Netanyahu. Again, Trump ini dijongklokin.”

Rubi mengangguk, lalu menimpali dengan nada getir:

Sekarang Kuba jadi target berikutnya. Ini bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri—ini agresivitas yang sulit disembunyikan. Mengenyahkan rezim komunis, katanya. Tapi jangan lupa, Trump itu pebisnis. Siapa tahu, setelah itu dia buka hotel di Havana.

Sindiran itu mungkin terdengar ringan, namun menyimpan kegelisahan serius: ketika kepentingan geopolitik bercampur dengan naluri bisnis, batas antara strategi dan ambisi pribadi menjadi kabur.

Setelah Kuba, Lalu?

Seandainya konflik dengan Iran mereda—entah dengan cara apa—lalu perhatian dialihkan ke Kuba, pertanyaan berikutnya tak terelakkan: sampai di mana semua ini akan berhenti?

Korupsinikus kembali mengangkat alisnya:
“Bagaimana dengan Greenland? Bukankah itu juga sempat diwacanakan? AS mengincar Arktik demi sumber daya. Semua demi kepentingan jangka panjang, katanya.”

Rubi tak tinggal diam:
“Betapa rakusnya ini? Seolah dunia ini etalase yang bisa dipilih sesuka hati. Wajar kalau warga AS sendiri mulai gelisah—demo di mana-mana, bahkan isu pemakzulan kembali mencuat.”

Dalam nada yang entah serius atau sekadar satire, Rubi menambahkan:

Bukan tidak mungkin suatu hari Trump mendesak Arab Saudi—ingin ‘mengelola’ haji dan umrah. Kalau tidak, diancam akan di-‘Venezuelakan’.

Berlebihan? Mungkin.
Namun satire sering kali justru menemukan kebenarannya di balik hiperbola.

Kekacauan itu

Pada akhirnya, sulit menampik satu hal: Trump adalah pebisnis ulung dengan naluri ekspansi yang nyaris refleks. Masalahnya, ketika naluri itu dibawa ke panggung geopolitik, dunia tidak lagi menjadi pasar—melainkan ladang konflik.

Dan ketika kekuasaan merasa dirinya terlalu besar untuk dibatasi, sejarah selalu mengingatkan: yang lahir bukan stabilitas, melainkan kekacauan.

Korupsinikus terdiam.
Rubi pun tak melanjutkan.

Mungkin, karena mereka sadar—yang sedang berlangsung bukan lagi sekadar kebijakan, melainkan percikan-percikan kecil yang, jika dibiarkan, bisa menyulut api yang jauh lebih besar.

(Selesai)

BACA JUGA: Jadi Wakil Komandan Gaza, Korupsinikus: Siap Melucuti Israel… atau Melucuti Akal Sehat?

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *