Esai Kontemplatif: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Negeri Konoha Raya (NKR), kabar Indonesia jadi wakil komandan pasukan stabilisasi di Gaza langsung berubah jadi film perang versi kolom komentar.
Mandat belum dibaca.
Peta operasi belum dilihat.
Netizen sudah merasa menang.
“Israel akan dilucuti!” teriak linimasa, seolah konflik geopolitik bisa diselesaikan seperti membuka laci lalocotan – tarik, guncang, dan beres.
Padahal mandatnya jelas: menjaga gencatan senjata, melindungi warga sipil, menstabilkan wilayah.
Bukan duel satu lawan satu demi kepuasan nasionalisme instan.
Di NKR, semua orang jenderal tanpa seragam.
Strategi dirumuskan di antara iklan pinjol dan diskon flash sale.
Musuh utama bukan tentara — melainkan kurang baca dan kebanyakan percaya caption.
Indonesia tidak ditugaskan melucuti Israel.
Tapi mungkin ada yang lebih mendesak: melucuti ilusi kepahlawanan yang membuat kita merasa gagah… tanpa pernah memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Karena di NKR, perang paling riuh bukan di Gaza — melainkan di antara ego dan notifikasi.
Alhasil, mengemban tugas melindungi warga sipil Palestina dan menstabilkan wilayah – menjaga marwah Indonesia di level dunia! (Selesai).
BACA JUGA: Korupsinikus & Solidaritas Digital ASEAN, Lahirkan SEAblings vs KNetz!

