Ming. Apr 19th, 2026

Dugaan Ijazah Palsu, Korupsinikus: Koleksi Dulu Gantungan Kunci …

Esai Satire: Harri Safiari

 Di Negeri Konoha Raya, hiduplah seorang tokoh bernama Ijazah

ALGIVON.ID

Ia bukan manusia.
Ia bukan pula benda biasa.
Ia adalah dokumen yang konon pernah dilihat, tapi jarang benar-benar diperlihatkan. Malah seperti boneka India – boleh dilhat dipegang jangan!

Ijazah tinggal di sebuah lemari besar bernama Klarifikasi. Lemari itu terkunci rapi, dijaga oleh pasukan bernama Narasi. Setiap kali rakyat bertanya, pintu lemari diketuk dari luar.

Tok. Tok. Tok.

“Bolehkah kami melihat?”

Dari dalam terdengar jawaban,
“Sudah jelas kok.”

“Kalau sudah jelas, boleh dibuka?”

“Percaya saja.”

Rakyat pun saling pandang.

Di padang rumput demokrasi, rakyat memang diberi kebebasan. Mereka boleh bersuara. Boleh berdiskusi. Bahkan, boleh membuat gantungan kunci bergambar Ijazah!

Dan benar saja—karena terlalu lama tak keluar dari lemari, Ijazah justru muncul dalam bentuk baru: miniatur plastik berlapis laminasi, lengkap dengan ring besi.

Ironi paling elegan dalam sejarah pernak-pernik politik.

Korupsinikus, yang pernah membatu karena terlalu lama menolak bercermin, kini berjalan pelan menyusuri padang rumput itu.

“Kalian tahu kenapa Ijazah tak pernah benar-benar keluar?” tanyanya.

Rakyat menggeleng.

“Karena selama ia menggantung, ia punya kuasa. Begitu ia dibuka, permainan selesai.”

Permainan?

Ya.

Di Negeri Konoha Raya, kepastian adalah peluit panjang yang mengakhiri pertandingan.
Dan siapa pun yang masih ingin bermain, tentu tak ingin peluit itu ditiup.

Rubi, si penjaga moral yang sering dianggap aneh karena terlalu waras, menambahkan dengan suara lirih:

“Lucunya, yang sudah mantan justru terasa paling hadir. Ia tak duduk di kursi, tapi kursinya masih hangat. Ia tak bicara, tapi gema suaranya masih memantul, serta masih bertenaga.”

Di kejauhan, rakyat mulai sadar sesuatu.

Mereka bukan sekadar kambing yang ditarik tali.
Mereka adalah kambing yang perlahan diajari menikmati tali itu.

Setiap kali ada yang berteriak,
“Tunjukkan saja!”

Selalu ada suara lain yang menjawab,
“Sudahlah, tak penting.”

Tak penting?

Dokumen pendidikan pemimpin tertinggi tak penting?
Atau justru terlalu penting untuk diperlihatkan?

Ijazah di dalam lemari tersenyum.
Ia tahu rahasianya sederhana:

Selama ia menjadi misteri, ia hidup.
Begitu ia menjadi bukti, ia selesai.

Dan di negeri ini, sesuatu yang selesai sering kali lebih berbahaya daripada sesuatu yang samar.

Karena yang samar bisa dipelintir.
Yang jelas hanya bisa diterima atau ditolak.

Sementara itu, gantungan-gantungan kecil terus terjual.
Rakyat menggantungnya di tas, di kunci, di spion motor. Ada kelucuan massal, laminasi mini ijazah pemimpin negeri jadi gantungan kuci!

Seolah-olah berkata:
“Kalau negara tak sanggup menggantungkan kepastian di ruang hukum, biar kami yang menggantungkan simbolnya di ruang publik.”

Lalu pertanyaannya:
Akankah lemari itu pernah dibuka?

Mungkin.
Tapi bisa jadi tidak.

Karena di Negeri Konoha Raya, yang paling sakti bukanlah penguasa aktif.
Melainkan bayangan penguasa, yang bahkan lebih kuasa.

Mantan, tapi tak pernah benar-benar pergi.
Selesai jabatan, tapi tidak selesai pengaruh.

Dan selama rakyat masih dipelihara dalam kabut,
Ijazah akan tetap tinggal di lemari—
tersenyum,
menggantung,
dan menunggu kita lelah bertanya.

Dongeng ini belum tamat.
Karena peluit kepastian belum ditiup.

Dan selama belum ditiup,
kuasa—bahkan yang berlabel “mantan”—
tetap menemukan jalannya sambil bermain kuasa!

Alhasil, sambil menunggu kepastian yang belum tentu itu, segera koleksi dulu gantungan kunci, okay?

(Selesai)

BACA JUGA: Etika Simbol & Tafsir Publik Alamat Rumah Jokowi, Korupsinikus: Jernih nurani dijaga! 

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *