Ming. Apr 19th, 2026

Etika Simbol & Tafsir Publik Alamat Rumah Jokowi, Korupsinikus: Jernih nurani dijaga! 

Esai Reflektif-Filosofis: Harri Safiari 

ALGIVON.IDSebuah alamat rumah di Solo, pada satu waktu, berubah nama di Google Maps. Dari “Tembok Ratapan Solo” menjadi “Monumen Sunan Mulyono”. Secara teknis, ini hanya suntingan digital. Secara sosial, ia adalah peristiwa simbolik.

Dalam etika politik, simbol bukan perkara sepele. Aristoteles pernah menyinggung bahwa manusia adalah zoon politikon—makhluk yang hidup dalam tatanan makna bersama.

Di era digital, makna itu tak lagi hanya diproduksi oleh negara atau media arus utama, melainkan oleh publik yang terhubung algoritma. Maka, ketika sebuah rumah mantan presiden diberi label baru oleh warganet, yang sedang bekerja bukan sekadar humor, melainkan negosiasi simbol.

Habermas menyebut ruang publik sebagai arena rasional untuk memperbincangkan kepentingan bersama. Namun di zaman kini, rasionalitas itu bercampur dengan satire, meme, dan metafora. Google Maps pun berubah menjadi mimbar kecil demokrasi—tanpa protokol, tanpa moderator.

Pandangan Etika Politik 

Etika politik tidak hanya berbicara soal hukum, melainkan tentang kepantasan dan kebijaksanaan (prudence).

Seorang mantan presiden, walau telah purna tugas, tetap memikul beban simbolik negara. Ia bukan sekadar individu privat.

Setiap representasi yang melekat padanya—baik pujian maupun sindiran—akan berkelindan dengan memori kolektif tentang kekuasaan.Ini, sakral, dan penuh kehormatan, malah!

Di sinilah fenomena label digital itu menjadi menarik. Ia bisa dibaca sebagai kelakar. Namun bisa pula sebagai isyarat bahwa sebagian publik merasa perlu menyampaikan sesuatu—meski dalam bahasa simbolik.

Korupsinikus, sosok yang konon lahir, serta mirip dengan kemunculan Phitecantropus Erectus atawa The Java Man, dan tumbuh dari tradisi obrolan warung kopi, serta kolom komentar tengah malam, pernah berujar bahwa “di negeri yang terlalu serius pada seremoni, satire sering menjadi satu-satunya cara untuk tetap waras.”

Korupsinikus, bukanlah akademisi, bukan pula pejabat; ia hanya pengamat jadi-jadian yang hobi mengarsip paradoks. Asal-usulnya kabur, mungkin karena ia lebih merupakan watak kolektif ketimbang individu tunggal di Negeri Konoha Raya (NKR).

Rubi, sahabat diskusinya yang lebih hemat kata namun lebih tajam, sering mengingatkan bahwa “kekuasaan memang selesai di tanggal pelantikan berikutnya, tetapi pertanggungjawaban moral tidak mengenal tanggal pensiun.”

Keduanya tak punya panggung resmi. Tetapi justru karena itu, lontaran mereka kerap asin beraroma bau anyir—seperti ikan yang diawetkan sesuai kebiasaan publik.

Metafora Politik

Dalam perspektif etika politik klasik, wibawa tidak dipertahankan dengan represi, melainkan dengan keteladanan. Machiavelli memang berbicara tentang pentingnya citra, tetapi bahkan ia mengakui bahwa persepsi publik adalah fondasi kekuasaan. Di era digital, persepsi itu tidak lagi dikendalikan sepihak.

Fenomena “monumen” di peta digital menunjukkan satu hal: publik kini ikut serta dalam produksi simbol. Mereka mungkin tidak bisa membangun tugu fisik, tetapi mereka dapat membangun metafora. Dan metafora, dalam sejarah politik, sering lebih tahan lama daripada beton.

Tentu, ada risiko. Satire bisa tergelincir menjadi fitnah. Kritik bisa berubah menjadi kabar burung.

Di sinilah etika publik diuji—baik etika warga dalam menyampaikan ekspresi, maupun etika elite dalam meresponsnya.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan mana suara yang perlu dijawab, mana yang cukup dipahami sebagai cermin.

Integritas itu …

Pada akhirnya, perubahan label itu mungkin akan hilang dari layar. Namun ia meninggalkan jejak pemikiran: bahwa demokrasi modern bukan hanya tentang pemilu lima tahunan, melainkan tentang percakapan yang terus berlangsung—kadang sopan, kadang satir, kadang pedas.

Dan mungkin, sebagaimana disindir Korupsinikus suatu malam sambil menyeruput kopi pahitnya, “kalau monumen bisa diedit, yang seharusnya tak boleh diedit hanyalah integritas.”

Di situlah etika politik menemukan relevansinya: bukan pada seberapa kokoh batu dipahat, melainkan pada seberapa jernih nurani dijaga kemurniannya!

(Selesailah sudah …)

BACA JUGA: Tembok Ratapan Solo, Korupsinikus:Itu gejala

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *