Esai Satire: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Kota Bandung, Hingga awal 2026, perkara dugaan korupsi pengadaan iklan bank bjb tak kunjung kehilangan gema. Justru sebaliknya: ia menjelma jadi gema panjang yang berulang, berlapis, serta kian menggoda rasa ingin tahu publik. Terlebih ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menelisik kemungkinan aliran dana ke orang-orang terdekat di lingkaran mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK).
KPK menegaskan, penyelidikan tak berhenti pada dugaan pelanggaran prosedur pengadaan iklan semata. Yang lebih menarik—dan tentu lebih sensitif—ialah penelusuran dana non-budgeter: sisa anggaran yang tak terpakai, lalu entah bagaimana bisa “mengalir”, “merembes”, dan “berpindah rupa” dengan lus …mulus rahayu.
“Kami mendalami ke mana saja dana itu bergerak. Apakah berhenti pada pihak tertentu, atau beralih menjadi aset-aset lain,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo (4/1/2026), sebagaimana dikutip luas media di Negeri Konoha Raya (NKR).
Kalimat itu sederhana. Namun di negeri yang terbiasa membaca di antara baris, kata mengalir sering kali berarti lebih dari sekadar perpindahan angka di laporan keuangan.
Jangan-jangan…
Di titik inilah, seperti biasa, Korupsinikus muncul. Makhluk separuh mitos, separuh realitas sosial. Konon, ia pernah disangka kerabat dekat Phitecanthropus erectus dari Sangiran—bukan semata karena rupa, melainkan karena daya tahannya hidup lintas zaman.
Korupsinikus dikenal sebagai pengamat setia praktik rasuah di NKR. Ia tidak memeranginya. Ia memahaminya. Bahkan, barangkali, menikmatinya selaku romantika kehidupan. Setelah ratusan tahun membatu di Museum Geologi—sebuah proses kontemplatif sekaligus kutukan ala Malin Kundang versi birokrasi—ia kembali “hidup” berkat perpaduan spiritualitas absurd dan teknologi paradoksal yang hanya bisa tumbuh subur di negeri kompromi – ‘semua bisa diatur!”
“Korupsinikus ini aneh,” ujar Rubi, sahabat dekatnya. “Tapi justru karena keanehannya, ia disukai. Ia punya mantra paling sakti: membuat korupsi tampak wajar, bahkan nyaris tak kasatmata,” katanya, getir.
Ketika ditanya soal RK, Korupsinikus hanya tersenyum tipis.
“Siapa tahu,” katanya pelan, “di tengah isu rasuah yang mulai terkuak, lalu disusul kabar perselingkuhan dengan selebritas, dan akhirnya isu perceraian… ya, jangan-jangan.”
“Jangan-jangan apa?” sela seorang jurnalis perempuan, tak sabar.
Korupsinikus menghela napas, seolah menimbang kadar racun dalam kalimat berikutnya.
“Perceraian,” katanya, “sering kali bukan akhir, melainkan awal. Awal dari pengaburan. Aset menjadi kabur, kepemilikan menjadi lentur, dan tanggung jawab menjadi samar. Meski terdengar mulia—tanpa tuntutan gono-gini—justru di situlah seninya. Apalagi jika sebelumnya aset sudah berpindah nama. Tapi ya… namanya juga jangan-jangan.”
Ia menyeruput kopi pahitnya. Pisang goreng di meja sudah tinggal separuh. Tak ada yang benar-benar manis di sore itu.
Sebagai catatan, RK telah diperiksa KPK selama enam jam di Gedung Merah Putih KPK (2/12/2025). Sebelumnya, penggeledahan di kediamannya (10/3/2025) menghasilkan penyitaan dokumen, barang elektronik, satu unit Royal Enfield, dan sebuah Mercedes-Benz.
Tak berhenti di situ, penyidik menggeledah 11 lokasi lain. Hasilnya: dokumen, catatan, deposito Rp70 miliar, kendaraan roda dua dan empat, serta aset tanah dan bangunan.
Pada 13 Maret 2025, KPK menetapkan lima tersangka: Yuddy Renaldi, Widi Hartono, Ikin Asikin Dulmanan, Suhendrik, dan Sophan Jaya Kusuma—nama-nama yang kini menjadi potongan puzzle dari gambar besar yang belum sepenuhnya terpasang.
Paket Kombo
Korupsinikus menyebut apa yang menimpa RK sebagai paket kombo.
“Karier yang melesat, lalu tersendat. Gagal di Pilgub Jakarta 2024, disusul isu rasuah, skandal personal, dan perceraian. Lengkap. Terlalu lengkap,” katanya sambil menghabiskan suapan terakhir.
Lazimnya, di Negeri Konoha Raya, skandal jarang datang sendirian. Ia hadir beriringan, saling menutupi, saling mengalihkan perhatian. Yang satu mengaburkan yang lain, sampai publik lelah dan lupa pada pertanyaan awal: ke mana sebenarnya uang itu mengalir, jangan jangan…?
Tibalah syal sutra yang amat halus nan estetis, perlahan terasa mengencang di leher sang tokoh, sialnya bisa-bisa sudah terlambat untuk berteriak. Yang tersisa hanya kesadaran sunyi: bahwa di negeri ini, kebenaran jarang dibungkam secara kasar. Ia lebih sering dielus perlahan—hingga napas berhenti tanpa suara.
“Jangan – jangan seiring waktu kelak yang semula terang benderang, perlahan dan pasti meredup,” ujar Korupsinikus yang diamini sobat dalitnya Rubi, sambil menimpal,”ya, jangan – jangan aliran uang haram itu sudah tercuci menjadi sebaliknya, jejaknya amat sulit dilacak…!” (Selesai).
BACA JUGA:Korupsinikus dan Generasi Z: Etika yang Viral, Moral yang Hilang

