Cerpen Satir: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Suatu hari yang mendung di Negeri Konoha Raya, seorang koruptor kawakan kelas kakap, dikenal dengan nama Godud alias Doim, diam-diam mengeluh kepada Yang Mulia Juragan Korupsinikus, Konsultan Khusus Urusan Penyelewengan Umum di Lembaga Pro Rasuah Nasional (LPRN).
“Ruang gerakku makin sempit, Juragan. Katanya pengawasan proyek bakal dilonggarkan, nyatanya malah diperketat,” keluh Godud dengan wajah memelas tapi tetap garang.
Korupsinikus menepuk pundaknya pelan.
“Tenanglah, Bung Godud. Ini cuma kejutan kecil. Esok lusa kembali normal. Biar aku yang hubungi pengawas.”
Tak lama, pengawas proyek pun ditegur langsung oleh Korupsinikus.
Hasilnya? Cepat dan ajaib.
“Wah, hebat betul, Juragan. Sekarang suasana korupsi, patgulipat, dan kongkalikong sudah pulih seperti sedia kala! Bahkan lebih semarak dan penuh pengertian,” ujar Godud lewat telepon, semringah alias bungah.
Namun, seperti biasa, setiap kemakmuran di Konoha Raya datang dengan efek samping: ekonomi dan industri memang pulih… tapi pelan-pelan menuju kehancuran total.
Anehnya, rakyat tetap tepuk tangan.
Sebab setiap hari mereka dicekoki jargon-jargon penuh toksik:
“Ini kondisi ideal ipoleksosbud! Kongkalikong berjalan secara transparan. Semua bisa dipertanggungjawabkan di atas meja!”
Begitulah kata Srorio Mulyonono, Menteri Keuangan Urusan Hutang-Piutang Jeblok (MKUHPJ), di depan media.
Ia bahkan menambahkan,
“Lihat saja, proyek pangan dan sandang tetap jalan. Meski produknya palsu dan busuk, indikator ekonomi malah naik. Profit, Bung! Profit!”
Singkat cerita, berkat kepiawaian Godud—yang punya lisensi resmi “Piawai Korup Grade AAA” dari lembaga internasional di luar negeri—perekonomian Konoha Raya pun rebound dengan cepat.
“Recovery ini berkat nasihat Juragan Korupsinikus. Cespleng betul! Dunia sikut-menyikut di proyek nasional kini kembali bergairah,” ujar Srorio Mulyonono pada haul partai politik di Gedung Kenangan Korban Gontok-gontokan Nasional (GKKGN).
Dan semua yang hadir bertepuk tangan.
Tak sadar, mereka sedang memuji kehancuran yang mereka bangun sendiri—dengan penuh rasa syukur.
Last but not least buat para pewaris Negeri Konoha Raya, mohon sejenak merenungi Wejangan Korupsinikus:
“Jangan risau bila korupsi dianggap dosa.
Dosa hanyalah istilah manajemen moral yang belum distandardisasi.”
“Tabahlah, wahai para koruptor.
Sebab yang menuduhmu kotor, diam-diam sedang menunggu giliran untuk ikut basah.”
“Ingatlah, yang penting bukan bersih atau kotor…
tapi siapa yang memegang dan menyelewengkan tampuk kekuasaan yang nikmat itu, katanya.” (Selesai).
BACA JUGA: Catatan Melipir Korupsinikus — Tiga Polisi Jujur Konoha Raya

