Kam. Apr 23rd, 2026

Catatan Melipir Korupsinikus — Tiga Polisi Jujur Konoha Raya

Cerpen Satir: Harri Safiari

ALGIVON.IDAlkisah menurut Gus Dur, di negeri besar itu hanya ada tiga polisi jujur: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.
Tiga! Tak kurang, tak lebih.

Korupsinikus — jelmaan kutukan koruptor kawakan dari ribuan tahun lalu — kini telah melampaui lorong waktu yang panjang, rumit, dan bias. Anehnya, setelah segala kebusukan masa lalu, ia justru diangkat menjadi ponggawa moral “atas-bawah dan kiri-kanan di negeri sungsang tumbal bernama Konoha Raya.

Suatu sore, sambil menyeruput kopi dingin di beranda Balai Konoha, Korupsinikus menanggapi nubuatan klasik Gus Dur yang melegenda itu.
“Tiga saja?” gumamnya.
“Kasihan amat bangsa segede ini, polisinya jujur cuma tiga. Masa kalah sama jumlah kaki meja di ruang tamu?”

Para pejabat di sekitarnya ikut tertawa — pelan-pelan, tentu saja. Sebab tertawa di depan kebenaran bisa dianggap makar.
Salah tempo sedikit, salah tempat sedikit, bisa berujung maut menanti!

Korupsinikus pun mencoba menganalisis dengan jernih — alias tanpa pikiran butek.
Barangkali, pikirnya, jumlah itu memang tiga karena menambah satu saja perlu biaya besar: revisi undang-undang, seminar nasional, pembentukan komite reformasi, hingga rapat kerja lintas kementerian yang ujung-ujungnya hanya melahirkan dokumen sakral bernama “Rekomendasi Lanjutan Tahap Satu.”

Namun, Korupsinikus tak menyerah.
Ia mengusulkan agar daftar itu ditambah menjadi empat.
Jenis keempat: Polisi Jujur 24 Karat.

Makhluk langka ini harus benar-benar hidup. Ia makan nasi, punya keluarga, tapi tetap jujur.
Ia menulis laporan tanpa titipan, menilang tanpa amplop, dan menolak “ucapan terima kasih” dalam bentuk amplop cokelat yang tebalnya seperti dompet dewa.

Sayangnya, begitu muncul di tengah Konoha Raya, si Polisi 24 Karat justru dianggap aneh.
“Dia terlalu lurus, nanti bikin citra institusi jadi kaku,” bisik rekan-rekannya sekenanya.
“Lurus itu bahaya, nanti susah belok kalau disuruh,” sambung yang lain dengan nada super serius campur nuansa penuh keberatan.

Ketika ada warga yang memuji kejujurannya, sang Polisi 24 Karat hanya tersenyum canggung — dan hampa, malah hampir nelangsa gesturnya.
Dalam hatinya, ia sedikit mangkel juga.
“Kenapa aku dibilang aneh hanya karena tidak mau disogok? Apakah kejujuran kini dianggap penyakit langka yang harus diobservasi di lab moral nasional selama berminggu-minggu?”

Korupsinikus membuka buku catatannya — Catatan Melipir — lalu menulis satu kalimat:

“Jika jujur membuat seseorang dianggap aneh, berarti negeri ini sedang sehat luar biasa — sehat dari rasa malu dan terus terang.”

Ia menutup bukunya, lalu menatap jalan raya yang tampak sibuk, kayaknya.
Patung polisi berdiri tegak di simpang empat — tak pernah berkedip.
Polisi tidur berjejer di aspal — sabar, tenang, tak pernah menagih lembur, apalagi minta tambahan nasi bungkus.

Korupsinikus tersenyum getir.
“Mungkin solusi paling praktis, hidupkan saja patung polisi itu. Pakaikan rompi digital, beri aplikasi tilang otomatis, lalu pantau via satelit. Setidaknya mereka tak bisa disuap — bebas dari 86.”

Ia terkekeh kecil.
“Polisi tidur? Biarkan saja tetap tidur. Dalam tidurnya saja mereka sudah berbakti: meredam kebut, menenangkan jalan, dan tak pernah minta honor tambahan.”

Sore menjelang.
Matahari condong ke barat.
Korupsinikus kembali menulis kalimat penutup di Catatan Melipir:

“Semoga suatu hari nanti, patung polisi bisa pensiun, dan manusia jujur menggantikannya.”

Ia menatap langit jingga Konoha Raya, lalu menambahkan satu baris lagi, pelan:

“Tapi ya… semoga saja, jangan diseminarkan dulu, seperti yang sudah-sudah.” (Selesai)

BACA JUGA: Wejangan Singkat Korupsinikus untuk Debt Collector Terkasih: Tagihlah Secukupnya …

 

 

 

 

 

 

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *