Esai Satire Fiksi Mirip Ilmiah: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Tersebutlah sebuah kisah luar biasa. Sejak diluncurkan pada 25 Desember 2021, Teleskop Luar Angkasa James Webb terus mengamati jagat raya, termasuk planet-planet di luar Tata Surya yang dikenal sebagai eksoplanet. Salah satu yang menarik perhatian para ilmuwan adalah temuan K2-18 b, sebuah planet berjarak sekitar 120–124 tahun cahaya dari Bumi.
Pengamatan Webb menemukan molekul karbon di atmosfernya dan membuka kemungkinan adanya lingkungan yang mengandung air. Namun, apakah planet itu benar-benar dapat dihuni manusia? Sains belum memberikan jawaban pasti.
Bagi sebagian orang, kabar tentang kemungkinan adanya dunia lain yang mendukung kehidupan tentu menggembirakan. Apalagi jika Bumi semakin sesak, sumber daya alam tertekan, lingkungan rusak, dan miliaran manusia masih berjuang mendapatkan kehidupan yang layak.
Di Warung Kopi Mundur–Maju, Negeri Konoha Raya, kabar tersebut mendadak menjadi bahan obrolan utama akhir-akhir ini.
“Ini kabar bagus, Bung!” seru Korupsinikus kepada sejumlah pengunjung warung kopi yang semakin sohor itu.
“Kalau Bumi sudah tidak sanggup menanggung ulah penghuninya, barangkali kita bisa mencari rumah baru di luar sana!”
Dadan Suradan yang sedang mengaduk kopi langsung menyahut.
“Bagus bagaimana? Kita baru menemukan kemungkinan planet yang menarik, belum menemukan tiket keberangkatannya. Jaraknya lebih dari seratus tahun cahaya, Bung! Mau naik pesawat apa? Pesawat kepresidenan juga belum tentu sanggup.”
Cecep Surecep tertawa kecil.
“Kalau urusan teknologi, biar para ilmuwan yang memikirkan. Yang membuat saya khawatir justru urusan lain.”
“Urusan apa?” tanya Korupsinikus.
“Jangan-jangan sebelum manusia berangkat, sudah ada yang membentuk panitia ekspedisi, menunjuk ketua, membagi jabatan, mengatur anggaran, lalu menyisihkan sebagian dana untuk kepentingan sendiri, tahu sendirilah ….”
Tawa pengunjung meledak.
Korupsinikus tersenyum getir.
“Lho, bukankah itu berarti kita membawa bekal peradaban?”
“Peradaban atau penyakit?” Pepen Surepen menyela dengan gesit. “Jangan sampai planet baru belum sempat kita pijak, tetapi praktik lama sudah lebih dahulu mendarat melalui proposal, komisi, dan kesepakatan di bawah meja.”
Udin Surudin yang sejak tadi diam ikut angkat bicara.
“Kalau begitu, saya punya usul. Sebelum mengirim manusia ke ekso planet K2-18 b, kirim dahulu tim pemeriksa integritas. Periksa apakah calon penjelajah mampu membedakan kepentingan bersama dengan kepentingan kantong sendiri.”
“Wah, kalau syaratnya begitu,” kata Dadan, “jangan-jangan ekspedisinya tidak pernah berangkat! Sambil bergumam – ribet disyarat namanya!”
Mereka kembali tertawa. Kali ini, Korupsinikus tidak ikut tertawa.
Ia memandang ke luar warung. Jalanan masih dipenuhi kendaraan, berita politik masih berseliweran, dan perdebatan tentang kekuasaan di Negeri Konoha Raya seolah tak pernah kehabisan episode, semua saling sikut! Seperti biasa.
“Saudara-saudaraku,” katanya kemudian, “saya justru membayangkan sesuatu yang lebih mengerikan. Bagaimana jika suatu hari manusia benar-benar berhasil mencapai planet baru? Kita membawa teknologi, pengetahuan, dan harapan. Tetapi kita juga membawa keserakahan, kebiasaan menyalahgunakan kekuasaan, serta kemampuan mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.”
Dadan mengangguk pelan.
“Jadi, yang perlu kita selamatkan bukan hanya manusia dari kerusakan Bumi, melainkan juga kemanusiaan dari perilaku manusia sendiri.”
“Persis!” jawab Korupsinikus dengan nada tegas.
Ia lalu melontarkan pertanyaan yang membuat suasana warung mendadak hening.
“Apa gunanya menemukan planet yang layak huni, jika manusia yang menghuni di sana justru membuatnya tidak layak ditinggali?”
Tak seorang pun segera menjawab.
Barangkali, pikir mereka, perjalanan antarbintang memang membutuhkan roket yang luar biasa canggih. Namun, perjalanan meninggalkan keserakahan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit: keberanian untuk mengubah diri sendiri.
Dan di sudut Warung Kopi Mundur–Maju, Korupsinikus mulai membayangkan sebuah planet yang kelak akan menjadi bahan kisah berikutnya.
Sebuah planet tempat korupsi bukan lagi kejahatan yang disembunyikan, melainkan kebiasaan yang dilegalkan atas nama kasih sayang dan barokah.
Namanya: Planet Korupsiana.
Tetapi itu cerita lain.
Sebab, sebelum manusia mencari rumah baru di antara bintang-bintang, ada satu pertanyaan yang seharusnya dijawab di Bumi:
Jangan-jangan yang sudah tidak layak huni bukan planetnya, melainkan cara hidup penghuninya – semua sudah menjadi begundal!
–Selesai–

