Cerpen Satir: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Konon, di Negeri Konoha Raya akhir-akhir ini hampir semua warganya terjerat pinjaman — dari yang online hingga yang katanya “syariah rasa jerat.”
Menurut Obrigodigod, Menteri Perlindungan Diri Sendiri (MPDS), hal itu wajar. Bahkan, katanya, “patut ditingkatkan intensitasnya.”
“Wajar saja,” ujarnya dengan wajah setenang rekening kosong.
“Di negeri ini, tak semua orang bisa meminjam ke bank, tapi semua bisa dipinjamkan oleh iklan yang santun itu.”
Ia menambahkan, warga Konoha kini lebih hafal bunga pinjaman daripada bunyi Pancasila,
dan lebih cepat menghafal nomor rekening penagih ketimbang nomor darurat polisi atau Damkar.
Sementara itu, Korupsinikus — jelmaan koruptor tua mumpuni yang sudah naik pangkat jadi penasihat di Kabinet Warna-warni — memberi wejangan khasnya di seminar dua hari itu.
“Tagihlah secukupnya,” katanya sambil tersenyum, wajahnya lunas dari rasa malu sejak lama.
“Yang berlebihan itu dosa — kecuali dalam pungutan resmi, entah resmi yang mana.”
Ia menambahkan,
“Kalau rakyat menunggak cicilan, jangan buru-buru diseret ke ranah hukum.
Cobalah dulu ranah nurani — meski di negeri ini ranah itu sering bias dan memalukan, malah.”
Para peserta terdiam. Beberapa menatap lantai, sebagian menatap amplop seminar yang lusuh. Lalu mereka bertepuk tangan pelan — entah karena paham, atau takut dikepruk.
Di akhir acara, Obrigodigod mengumumkan pembentukan lembaga baru:
BP2K — Badan Penagihan dan Pengampunan Kredit.
Katanya, lembaga ini akan melindungi rakyat dari penagihan kejam,
dan melindungi penagih dari rasa iba yang berlebihan.
Wejangan Korupsinikus pun viral di dinding-dinding kantor leasing dan aplikasi pinjol:
“Tagihlah secukupnya, karena yang berlebih akan ditagih kembali oleh karma secepatnya.”
Suasana seminar tenang, tapi di luar ramai.
Seorang jurnalis iseng bertanya,
“Pak Obrigodigod, adakah dampaknya dari kerusuhan di Nepal,di mana rakyat menggusur pejabat dan penagih berhati vampir?”
Pertanyaan itu membuat sang Menteri tertegun dua jenak.
Lalu dijawab tangkas, tapi tak tuntas:
“Tenang saja, Bung. Yang di Nepal itu beda.
Di sini rakyat kita penuh welas asih.
Makanya, kami minta wejangan dari Korupsinikus — tokoh bijaksana dan bijaksini.”
Beberapa jurnalis kemudian menanyakan hal yang sama kepada Korupsinikus.
Dengan mata sedikit melotot karena memendam sesuatu yang tak jelas, ia menjawab singkat:
“Tagihlah secukupnya.
Jangan sampai darah tumpah hanya karena gaya penagihan yang kebablasan.”
(Selesai)
BACA JUGA: Korupsinikus dan Kursus Kebal Hukum

