Oleh: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Ini dia inti isi pidato Presiden Prabowo Subianto di PBB (22/9/2025) terkait isu seruan agar segera berdiri negara Palestina dalam kaitan negara Israel yang telah berdiri di Timur Tengah sejak 1948 yang kerap menimbulkan kontroversial hingga saat ini.
Poin penting yang disampaikan Prabowo itu, antara lain:
1.Dukungan terhadap solusi dua negara (two-state solution). Ini dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian antara Palestina dan Israel.
2. Keprihatinan kemanusiaan atas tragedi di Gaza: korban sipil, perempuan dan anak-anak, ancaman kelaparan, serta kekerasan terhadap warga tak bersalah.
3. Syarat pengakuan Israel oleh Indonesia, yakni Indonesia akan siap mengakui negara Israel setelah Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, serta menjamin keamanan bagi Israel.
4. Komitmen Indonesia untuk bertindak, termasuk kemungkinan mengirim pasukan penjaga perdamaian (peacekeeping) di bawah mandat PBB.
5. Penghentian perang dan prioritas pada penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza harus menjadi agenda utama dunia internasional.
Makna bagi Indonesia
Melalui penegasan dukungan kepada Palestina, Indonesia menunjukkan komitmen kuat terhadap prinsip keadilan, solidaritas kemanusiaan, dan perlindungan warga sipil. Ini konsisten dengan tradisi diplomasi Indonesia terhadap Palestina yang sudah lama digaungkan dan diwujudkan di lapangan.
Sebagai presiden yang relatif baru, Prabowo menggunakan panggung PBB yang relatif dalam 10 tahun terakhir, tidak dimanfaatkan secara optimal. Kali ini. Ia mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang percaya pada diplomasi aktif dan peran global.
Pernyataan bahwa Indonesia siap mengakui Israel jika Palestina merdeka, menunjukkan pilihan yang lebih pragmatis dalam kebijakan luar negeri, mengaitkan pengakuan diplomatik dengan kejelasan politik dan hak asasi. Ini bisa membuka opsi diplomatik baru sambil tetap menjaga prinsip.
Terkait Israel-Palestina adalah isu sangat penting di negara-muslim dan negara berkembang, sikap tegas Indonesia memperkuat dukungan domestik, dan citra sebagai negara yang mewakili aspirasi Islam moderat dan Global South.
Patut dicermati adanya tantangan politik dalam negeri: bagaimana respons kelompok-masyarakat yang melihat normalisasi dengan Israel sebagai masalah sensitivitas agama atau identitas? Keseimbangan antara pragmatisme diplomatik dan aspirasi publik, tentu harus ditangani hati-hati. Selain itu, pengiriman pasukan penjaga perdamaian atau keterlibatan aktif bisa menuntut sumber daya dan menimbulkan tanggung jawab besar.
Makna bagi Dunia Internasional
Pidato ini memperkuat tekanan internasional terhadap Israel dan Palestina agar kembali ke meja negosiasi dengan solusi dua negara sebagai rujukan utama. Ini bisa mendorong negara-negara lain untuk ikut mengambil sikap atau langkah diplomatik yang lebih aktif.
Indonesia menegaskan bahwa ia tidak berpihak secara mutlak, tapi berpihak pada prinsip keadilan dan keamanan bagi semua pihak. Dengan demikian, Indonesia dapat dihormati sebagai mediator potensial, sebagai jembatan antar negara Arab, Israel, dan negara-negara barat, serta negara-negara lain di Asia-Afrika.
Pernyataan bahwa respons internasional atas krisis Gaza berpengaruh pada kredibilitas PBB menunjukkan bahwa Indonesia melihat lembaga multilateral sebagai pusat konflik dan penyelesaian konflik internasional. Jika PBB dianggap gagal, reputasi lembaga ini bisa dipertanyakan. Pidato tersebut mendesak agar PBB dan komunitas internasional bertindak bukan hanya mengutuk, tapi juga mengambil langkah konkret.
Katalis bagi Negara Lain
Indonesia yang selama ini tidak punya hubungan diplomatik penuh dengan Israel mengisyaratkan bahwa banyak hal bisa berubah jika kondisi dipenuhi. Ini bisa menjadi acuan atau katalis bagi negara-negara lain yang berada di posisi serupa atau yang mempertimbangkan normalisasi, untuk meninjau kembali kondisi dan persyaratan mereka.
Penekanan atas korban sipil, kelaparan, dan tragedi kemanusiaan di Gaza mengundang komunitas global untuk lebih fokus pada aspek kemanusiaan dalam konflik. Ini juga memperkuat argument bahwa penyelesaian konflik tidak hanya politik tetapi juga membutuhkan solidaritas, keamanan dan perlindungan warga sipil.
Implikasi dan Potensi Dampak
Penulis memprediksi, pidato ini akan memacu negara-negara yang belum mengakui Palestina untuk segera melakukannya, atau meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel agar memenuhi persyaratan pengakuan tersebut.
Harapan lain, Indonesia akan semakin aktif dalam gerakan internasional atau kelompok negara-negara Berkembang (Global South), dalam mempromosikan standar penyelesaian damai dan hak asasi manusia.
Jika Israel merespons positif dan mengakui kenegaraan Palestina, bisa membuka pintu normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Israel, dengan konsekuensi baru dalam kebijakan, keamanan, dan kerjasama ekonomi.
Sebaliknya, bila tidak ada perubahan, Indonesia mungkin akan terus berada di posisi kritik, yang bisa memperkuat dukungan dari negara-negara senada, bukan tak mungkin bisa menimbulkan ketegangan diplomatik.
Terpenting, momentum Pidato Prabowo Subianto di Forum PBB ini,terkait isu Palestina-Israel yang tak penah kelar-kelar dalam beberapa dekade, telah diisi oleh salah satu Putra Terbaik Bangsa Indonesia.
Terbukti isi pidato ini telah menggema dan menginspirasi ratusan bangsa-bangsa di dunia. Tinggal, esok lusa kita wujudkan negara Palestina dengan upaya elegan – Penjajahan dimuka bumi harus dimusnakan! (HS & RD).
BACA JUGA: Makna Pidato Prabowo Subianto di Forum PBB Terkait Isu Palestina-Israel, bagi Indonesia & Dunia

