Oleh: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Pada Rabu siang (3 September 2025), gedung DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, menyaksikan sebuah momen yang tidak biasa: pimpinan DPR RI menerima aspirasi mahasiswa. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Abdul Muis dan menjadi sorotan publik. Tanda-tanda apa yang mungkin muncul dari peristiwa ini?
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, Saan Mustopa, dan Cucun Ahmad Syamsurijal, tampak serius mendengarkan aduan mahasiswa mengenai kondisi demonstrasi yang terjadi di Indonesia, serta masalah tunjangan anggota DPR RI. Termasuk mendengarkan dengan seksama, laporan aksi demonstrasi yang melanda Indonesia sejak 25 Agustus 2025. Sampai hari ini, telah menelan korban jiwa, sedikitnya 10 orang kehilangan nyawa.
Kematian Affan Kurniawan
Perwakilan mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai universitas, termasuk Universitas Indonesia (UI), Universitas Trisakti, Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Universitas Veteran Jakarta, dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Salah satu tuntutan utama mereka adalah mendesak investigasi terhadap kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) Brimob.
Berita mengenai insiden ini telah menyebar luas melalui media massa dan media sosial, memicu emosi warga Indonesia, termasuk warga dunia berkat media sosial yang massiv. Kini, perhatian masyarakat tertuju pada penyelesaian kasus ini, terutama yang melibatkan tujuh anggota Brimob.
Penulis berpendapat bahwa peristiwa ini seharusnya tidak sekedar berujung pada pencopotan lima anggota DPR RI, yang rumahnya dijarah oleh warga. Lebih jauh dari itu, menjadi pelajaran berharga, di mana aspirasi rakyat yang selama ini terabaikan harus segera diakomodir. Bukankah itu tugas utama legislatif, menyerap aspirasi masyarakat!
Ingatlah, salah satu aspirasi yang mendesak perlunya RUU Perampasan Aset dibahas. Materi ini telah lama diusulkan. Masyarakat semakin kesal dengan tindakan korupsi di tengah menurunnya daya beli.
RUU Perampasan Aset
Sekedar info, di antara lima rumah anggota DPR RI yang dijarah, seperti Eko Patrio, Uya Kuya, Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, dan Adies Kadir, muncul utamanya via media sosial, hal-hal yang menggelitik: Kalo RUU Perampasan Aset sudah terwujud, buat apa rakyat menjarah rumah anggota DPR RI?
Penutup tulisan ini, hendaknya peristiwa penerimaan aspirasi mahasiswa di DPR RI ini menjadi bahan kontemplasi.
Harus disadari, suara rakyat sangatlah penting, harus didengar secara cermat oleh para legislator. DPR RI dan lembaga legislatif lainnya harus lebih berhati-hati dan serius dalam menyerap aspirasi rakyat.
Tujuannya, agar tidak terulang lagi ketidakpuasan yang berujung pada aksi demonstrasi, utamanya yang mengarah pada brutalisme.
Keterbukaan dan responsif terhadap tuntutan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan rakyat. Hanya dengan cara ini, kita dapat bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera.
Mari kita jaga momentum ini agar aspirasi rakyat tidak lagi terabaikan. Maksudnya, agar cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 dapat terwujud tanpa ada lagi rasa cemas di hati masyarakat. Bersegera, amati dan tangkaplah tanda-tanda ini! (HS/RD).
BACA JUGA: Lima Anggota DPR RI Nonaktif, Gaji Masih Ngocorkah? Mari Mendaftar …

