ALGIVON.ID – Mengatasi permasalahan sampah yang kian krusial dan meningkatkan kemandirian ekonomi warga, Gerakan Asa Sesama (GAS) resmi meluncurkan program pemberdayaan masyarakat berbasis bank sampah yang berpusat di TPS3R Desa Baros, Kecamatan Arjasari pada Sabtu (25/4/2026).
Tema-nya “Beyond Waste: Mengubah Sampah Menjadi Solusi dan Peluang” , kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi warga agar mampu memilah sampah dari sumbernya dan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
Faktanya, kondisi penumpukan sampah yang selama ini mengancam kesehatan dan kualitas hidup masyarakat di Desa Baros, kini mulai dicarikan solusi terstruktur melalui sistem tabungan sampah.
Melalui bank sampah, masyarakat tidak hanya berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendapatkan nilai ekonomi dari sampah anorganik yang mereka setorkan.
Sekretaris Desa Baros, Ary Permadi, menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah nyata perubahan perilaku di tingkat rumah tangga.
“Pemerintah Desa sangat mendukung penuh program Bank Sampah ini. Kami menyadari bahwa volume sampah harian terus meningkat seiring bertambahnya penduduk. Kehadiran bank sampah yang dikelola secara profesional di fasilitas TPS3R oleh pemuda dan masyarakat adalah solusi yang kami butuhkan untuk menciptakan Desa Baros yang bersih, sehat, dan lebih mandiri secara ekonomi”.

Program ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga hingga organisasi karang taruna. Selain pengumpulan rutin setiap hari Sabtu , warga juga akan dibekali keterampilan mengolah sampah menjadi produk kreatif seperti paving block dan kerajinan tangan.
Founder Gerakan Asa Sesama sekaligus perwakilan Penali, Daffa MZ, menekankan bahwa bank sampah adalah instrumen pemberdayaan, bukan sekadar tempat pembuangan.
“Fokus utama kami bukan hanya membersihkan lingkungan, tapi mengubah pola pikir. Sampah bukan lagi masalah, melainkan potensi ekonomi. Dengan sistem manajemen perbankan yang transparan, kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaat dari setiap lembar plastik atau kertas yang mereka pilah. Ini adalah ekonomi sirkular yang kita bangun dari level desa”.
Kegiatan perdana dimulai pada hari ini, 25 April 2026, dengan agenda sosialisasi dampak lingkungan dan edukasi pemilahan sampah. Selanjutnya, tim kerja akan melakukan pengorganisasian struktur pengelola dan penyusunan sistem operasional untuk memastikan keberlanjutan program.
Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengembangkan pengelolaan sampah berbasis komunitas yang terintegrasi dan berkelanjutan. (RD/Adit).

