ALGIVON.ID — Di saat banyak orang sibuk membicarakan krisis global dari balik layar gawai, komunitas sekelompok warga di RW 02 Gempolsari, Bandung Kulon, memilih cara yang lebih sunyi: berkumpul, menanam, dan menata ulang harapan.
Minggu (5/4/2026), lima (5) komunitas dari kawasan Cekungan Bandung dipertemukan dalam forum Halal Bihalal Lima Komunitas. Bukan sekadar temu kangen pasca-Lebaran, pertemuan ini diam-diam memanggul dua isu besar: ketahanan pangan dan perubahan iklim.
Inisiatornya, pegiat lingkungan Ramalis Sobandi ‘Tunas Nusa’, menyebut langkah ini sebagai upaya menghidupkan kembali sesuatu yang lama hilang—gerakan kolektif warga.

“Perubahan itu tidak selalu datang dari atas. Justru dari bawah, dari komunitas yang mau bergerak,” ujarnya.
Lima komunitas yang hadir yakni Komunitas Karasa Bandung (RW 02 Gempolsari/Cijerah), Komunitas Ruang Riung Ceria (Rancaekek Wetan), Komunitas RDTS Tamansari, Komunitas Jasmine Integrated Urban Farming (Antapani Tengah), dan Komunitas Mitra Dago (MIGOKUPEDULI).
Namun, di balik suasana hangat dan saling sapa, terselip kegelisahan yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan.
“Kita ini hidup di situasi yang tidak baik-baik saja,” kata Ramalis, tanpa banyak basa-basi. Ia menyinggung maraknya korupsi, menurunnya kepercayaan publik, hingga absennya masyarakat dalam banyak proses pembangunan.
Kalimat itu meluncur datar, tetapi menggantung lama di udara—seolah semua yang hadir sudah tahu, hanya jarang diucapkan keras-keras.

Ketika Negara Sibuk, Warga Bergerak
Di Gempolsari, perubahan tidak datang lewat proyek besar atau janji-janji rapat berpendingin udara. Ia tumbuh pelan, dari gang sempit yang dulu nyaris dilupakan.
Brandgang di RW 02 yang sebelumnya terbengkalai, kini mulai disulap menjadi ruang publik yang lebih hidup—ditata, dihijaukan, bahkan diberi sentuhan artistik menjadi cihuy surihuy.
Bagi Doddi Iryana Memed, Ketua KSM Jasmine Integrated Farming, perubahan semacam ini bukan perkara instan, melainkan hasil kerja diam-diam yang panjang.
“Kami mulai dari bawah sejak 2019. Dari sampah, dari hal kecil. Lama-lama ada nilai ekonomi,” ujarnya.
Kini, apa yang dulu dianggap remeh itu justru menarik perhatian banyak pihak—dari pegiat lokal hingga tamu mancanegara.

Belajar dari yang Nyata, Bukan Sekadar Wacana
Pertemuan ini juga menjadi ruang bertukar: produk pangan, gagasan, hingga pengalaman lapangan. Tidak ada presentasi panjang, tidak ada jargon berlapis—yang ada justru cerita nyata dari warga sendiri.
Dosen tamu program DAAD di UPI, Dr. Elisa Tulla Bertuzzo, melihat sesuatu yang sering hilang dalam forum formal.

“Antusiasme mereka terasa otentik. Mereka tidak sedang tampil, tapi benar-benar berbagi,” ujarnya.
Ia menilai penataan ruang publik di Gempolsari sebagai contoh bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan skala besar, melainkan konsistensi.

Dari Terbengkalai ke Tumbuhnya Harapan
Bagi warga setempat, perubahan itu bukan teori. Ketua PKK RW 02 Gempolsari, Arum, menyebut kawasan mereka dulu nyaris tak terurus dan kumuh.
“Sekarang warga mulai sadar. Menata, menghijaukan, bahkan mulai berpikir soal ekonomi,” katanya.
Wendy R dari Komunitas Karasa menambahkan, pertemuan ini memberi lebih dari sekadar inspirasi.
“Kami merasa tidak sendiri. Ada energi baru untuk bergerak,” ujarnya.

Di tengah dunia yang sering terasa bising oleh krisis, pertemuan ini justru menawarkan sesuatu yang sederhana—dan mungkin itu yang paling sulit: bergerak bersama, tanpa banyak sorotan.
Dari gang sempit di Gempolsari, satu hal menjadi jelas—ketika banyak hal terasa macet di atas, kehidupan justru terus mencari jalannya di bawah. (HS & RD)
BACA JUGA: Sesparlu Soroti Model Sampah Warga Bandung, Jasmine Integrated Farming Didorong Go Internasional

