Jum. Mei 8th, 2026

Dibalik Penemuan Spesies Baru “Korupsinikus” : Dari Museum ke Nurani Kita

Cerpen Satire: Harri Safiari

 ALGIVON.ID Negeri Konoha Raya (NKR) tengah dihebohkan oleh terbitnya laporan seperempat resmi tentang penemuan spesies baru bernama Korupsinikus. Fosilnya kini dipamerkan di Museum Geologi NKR. Ia menjadi magnet bagi ribuan pengunjung yang datang saban hari.

Namun, yang membuat publik geger bukan sekadar bentuk fisiknya yang membatu bak Malin Kundang, melainkan kisah di balik penemuan itu. Menurut sumber anonim, Korupsinikus dulunya adalah seorang pegawai menengah yang dikutuk menjadi batu setelah menerima amplop berisi uang haram untuk ke-2005 kalinya—ribuan tahun lalu.

Sepulang dari museum, banyak pengunjung termenung.

“Aku mau hidup jujur, takut jadi batu kayak Korupsinikus,” gumam seorang emak-emak paruh baya.

Tapi tak lama, muncul suara dari rekannya yang lebih muda:

“Yang dulu-dulu itu anggap aja masa percobaan, kan cuma beberapa miliar rupiah. Lagian udah disedekahin juga, jadi impas toh?”

Komentar ringan itu justru menggambarkan bagaimana korupsi sudah menjadi kelumrahan yang dicari-cari pembenarannya.

Penemuan Korupsinikus kemudian memicu perdebatan di berbagai lembaga. Beberapa pihak mengusulkan agar fosil itu diletakkan di depan Lembaga Anti Rasuah (LAR) sebagai simbol peringatan. Namun, Ketua LAR, Korunahitu, menolak tegas:

“Hancurkan saja! Kalau dibiarkan, nilai-nilai kearifan korupsi bisa luntur. Para calon koruptor nanti bingung menentukan arah kariernya.”

Pernyataan itu sontak menimbulkan gelombang kritik, sekaligus juga tawa getir yang menusuk kalbu.

Di sisi lain, Pakar Moral Jonjon Suronjon justru mengusulkan agar fosil itu dijadikan sarana pendidikan moral:

“Bawa Korupsinikus keliling negeri. Tunjukkan ke anak-anak muda bahwa kerakusan bisa mengubah manusia jadi batu—bukan cuma secara fisik, tapi juga hati.”

Sebagian masyarakat menganggap munculnya Korupsinikus sebagai “kehendak semesta” untuk menegur manusia. Tapi sebagian lainnya menganggapnya hanya isapan jempol.

“Ah, fiksi aja itu. Dunia patgulipat kan masih laku. Yang penting licin, gak ketahuan,” kata Obrigodigo, tokoh bisnis yang dikenal selincah belut di kolam oli.

Akhirnya, Korupsinikus tetap membisu di balik kaca museum, menyaksikan pengunjung datang dan pergi. Tak bersuara, tapi seolah menatap tajam pada siapa pun yang berani pura-pura tak bersalah. (Selesai).

BACA JUGA: The Origin of Korupsinikus atawa Lahirnya Spesies Baru!

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *