Sel. Apr 21st, 2026

Media Perancis Gali Sejarah Konferensi Asia Afrika dari Abah Landoeng

Frédéric Martel jurnalis di France Culture/Radio Nasional Prancis(Paling Kiri) dan Teuku Rezasyah, Ph.D selaku Executive Director ASEAN Research Center of Universitas Padjadjaran (Paling Kanan) usai mewawancarai Abah Landoeng di Museum Konferensi Asia Afrika Bandung pada Sabtu (2/11/2024). Foto: Harri Safiari

ALGIVONMedia Prancis menggali sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 dengan mewawancari Abah Landoeng salah satu pelaku sejarah KAA tersebut. Frédéric Martel jurnalis di France Culture (Radio Nasional Prancis) dan Teuku Rezasyah, Ph.D selaku Executive Director ASEAN Research Center of Universitas Padjadjaran mewawancarai Abah Landoeng selama kurang lebih tiga jam di Gedung Asia Afrika Bandung pada Sabtu sore (2/11/2024).

Topik wawancara hari itu tentang serba-serbi sejarah Konferensi Asia Afrika 1955 dan perannya dalam geopolitk global serta dampaknya terhadap masyarakat Bandung. Menurut Abah Landoeng berdasarkan info dari Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Indonesia: ”Dalam suratnya ke Abah Kang Frédéric Martel ini tadinya mau mewawancari selain kami berdua dengan Kang Teuku Rezasyah. Yang lain itu ya selaku saksi sejarah Ceu Popong, Kang Inen Rusnan, Kang Sam Bimbo, Kang Sarbili Sutedja, dan Prof Wardiman Djojonegoro. Sayangnya yang lain itu, berhalangan,” kata Abah Landoeng.

Belanda dan Jepang

Bagi Abah Landoeng sebagai pensiunan guru SMP (1956 – 1996), dan kerap diwawancari wartawan dari mancanegara terkait sukses penyelengaraan KAA 1955, “Ini yang dari Prancis terbilang langka, kalau tak salah dulu beberapa tahun pernah ada juga mereka bersama wartawan dari Afrika. Yang lebih sering ya, dari Belanda dan Jepang. Kedua terakhir ni hampir setiap tahun, datang ke rumah tiap menjelang 17 Agustusan,” jelas Abah Landoeng yang juga Pembina Oorganisasi Jurnalis Bela Negara (JBN) itu.

Lebih jauh kata Abah Landoeng tentang wartawan Belanja dan Jepang yang selalu datang menjelang 17 Agustusan, “ini baru Abah katakan yang sebenarnya, mereka dua bangsa ini inginnya di mata generasi mudanya dalam hubungan dengan Indonesia, tidak dianggap sebagai penjajah tetapi hubungan dagang, katanya,” kata Abah Landoeng sambil menambahkan –“Rupanya, mereka ini bingung juga membuat kurikulum pendidikan (sejarah) bagi anak-anak sekolah di sana, ya?”

Sementara itu, Kepada redaksi, Ricky Arnold selaku penerjemah dari Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung dalam wawancara sekitar 25 menit itu, berdasarkan penjelasan dari Frédéric Martel sendiri yang hari itu didampingi David Pata dari Jakarta:

“Hasil wawancara dengan Abah Landoeng sungguh memuaskan, keterangan yang dicari atau yang dituju Frédéric Martel dalam perjalanannya ke Kota Kembang ini, yakni menyingkap seputaran situasi dibelakang suksesnya KAA 1955, telah tercapai. Tunggu saja nanti hasilnya,” papar Ricky Arnold sambil menambahkan – “Wawancara dengan Pak Teuku Rezasyah sore ini akan bergeser tempatnya, masih di seputar Jalan Braga dan Asia Afrika.”

Dasasila Bandung dan Palestina

Kepada redaksi, Abah Landoeng yang dikenal diantaranya sebagai pengumpul mobil VVIP para delegasi KAA 1955, kembali mengingatkan:

“HUT RI ke-10 waktu itu, tahun 1955 warga Bandung dan Jabar serta Indonesia, suka rela dan mampu gotong royong menyelenggarakan hajatan antar bangsa. Semoga ini Dasasila Bandung, jangan dilupakan. Ada 29 negara peserta, dan 5 negara sponsor, hadir. Semua itu intinya KAA 1955 melawan kolonialisme saat itu. Sayangnya, sisa kolonialisme di Palestina, itu juga tugas kita agar segera dibebaskan dari zionisme,” ujar Abah Landoeng.

Secara terpisah jurnalis senior Adi Raksanagara mengetahui aktivitas Abah Landoeng diwawancarai jurnalis sohor asal Prancis, Frédéric Martel, kali ini via dua tokoh Bandung,” Abah Landoeng dan dosen HI Unpad Kang Teuku Rezasyah, telah menggaungkan kembali pesan perdamain di antaranya ‘Dasasila Bandung’”, ujarnya dengan memberi catatan khusus – “Menghormati hak-hak manusia sesuai Piagam PBB, menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua nasion.”

BACA JUGA: Festival Asia-Africa 2024, Abah Landoeng: Belum ada undangan ke abah

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *