Esai Satire: Harri Safiari (serial “Mutiara Kata ala Korupsinikus”) #2
ALGIVON.ID — Setelah ratusan tahun membatu ala kutukan Malin Kundang dan sekian lama “pensiun” dari dunia amplop coklat haram, Korupsinikus akhirnya kembali ke Balai Kota.
Kedatangannya bukan untuk bertobat, melainkan demi berbagi wejangan sukses kepada generasi pejabat muda yang haus “ilmu cepat kaya ala licik dan culas”.
Dalam sambutannya, Korupsinikus disambut hangat oleh para pejabat yang berdasi rapi namun wajahnya pucat pasi. Mereka tahu, setiap wejangan Korupsinikus selalu berisi “kebenaran yang terlalu jujur untuk diakui.”
Jangan Setengah Hati
“Anak muda,” ujarnya lantang, “jangan sekali-kali korupsi setengah hati. Itu dosa besar dalam dunia korupsi. Kalau mau, sekalian saja! Setengah-setengah itu bikin susah, sudah berisiko, tak pula jadi kaya.”
Para peserta bertepuk tangan — bukan karena setuju, tapi takut tidak tepuk tangan akan dicatat dalam laporan kehadiran bersanksi berat!
Korupsinikus melanjutkan dengan penuh kharisma:
“Ingat, rahasia sukses korupsi bukan pada berapa banyak uang yang diambil, tapi pada seberapa lihai kalian menyebutnya ‘biaya koordinasi’.”
Terdengar gumaman kagum di ruang rapat, beberapa pejabat muda mencatat dengan serius, seolah mendengarkan wejangan motivator spiritual level dewa kahyangan.
Lalu, dengan gaya seperti dosen yang mengajar etika pemerintahan, Korupsinikus menambahkan:
“Dan jangan lupa, di era digital ini, jejak dosa kalian bisa terekam di mana-mana. Maka belajarlah dari generasi sebelum kalian — mereka korupsi dengan analog, dan masih sempat pensiun tenang, walau terkadang terasa dikejar dosa.”
Tawa kecil terdengar, lalu sunyi. Sebab semua sadar, satire itu terlalu dekat dengan kenyataan.
Sebelum acara ditutup, Korupsinikus memberikan pesan terakhirnya:
“Kalau nanti kalian tertangkap, jangan bilang ini karma. Katakan saja ini uji loyalitas. Karena di negeri ini, yang korupsi tak selalu bersalah — asal pandai menjaga jaringan dan pura-pura lupa pada nurani.”
Begitulah, Korupsinikus menutup pidatonya dengan senyum gaya batu yang abadi. Ia pun kembali menyelinap ke tempat asalnya yang tak jelas. Lalu, meninggalkan jejak kata-kata yang terdengar seperti lelucon, tapi terasa seperti kenyataan sehari-hari. (Selesai).
BACA JUGA: Mutiara Kata ala Korupsinikus: Sesama Koruptor, Salinglah Menjaga…

