Esai Satire: Harri Safiari
ALGIVON.ID – Pada pertengahan Juli 2026, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mendadak menjadi pusat perhatian publik. Penyebabnya bukan perkara yang sedang ditangani, melainkan sebuah rumah di Sentul yang digeledah tim gabungan Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya.
Dua hari kemudian, publik kembali dibuat mengangkat alis. Dalam konferensi pers, Febrie mengakui rumah yang digeledah itu adalah kediaman pribadinya.
Ia menjelaskan bahwa uang tunai dan emas batangan yang ditemukan memiliki asal-usul yang dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme hukum yang berlaku. Ia juga membantah berbagai informasi yang mengaitkan dirinya dengan sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Di tengah riuh isu yang beredar, Febrie memastikan roda penegakan hukum di Jampidsus tetap berjalan. Sejumlah perkara besar tetap diproses. Sebab di negeri ini, korupsi memang tidak pernah mengambil cuti.
Sore itu Korupsinikus dan Rubi duduk di warung kopi langganan mereka di Negeri Konoha Raya (NKR).
Rubi sedang membaca berita dari telepon genggamnya.
“Ups… ternyata Ferbie lagi ramai dibicarakan.”
Korupsinikus mengangguk.
“Di negeri ini, yang ramai dibicarakan biasanya bukan korupsinya. Melainkan orang yang sedang membicarakan korupsi.”
“Ferbie itu siapa sih sebenarnya?”
Korupsinikus menyeruput kopi pelan.
“Kalau melihat rekam jejaknya, bukan nama sembarangan. Sejak menjadi Jampidsus pada 2022, dan sebelumnya saat menjadi Direktur Penyidikan, ia menangani banyak perkara besar.”
“Sebesar apa?”
Korupsinikus menghitung dengan jari.
“Pinangki, Jiwasraya, Asabri, BTN, Garuda Indonesia, BTS Kominfo, Timah, Pertamina, Duta Palma, ekspor CPO, impor baja, impor tekstil, dugaan korupsi MBG, sampai Chromebook Kemendikbudristek.”
Rubi terdiam beberapa saat.
“Empat belas kasus besar?”
“Kurang lebih begitu.”
“Cihuy surihuy juga.”
“Memang.”
“Pantas dapat bintang.”
Korupsinikus menatap Rubi.
“Boleh.”
“Nah kan.”
“Tapi cukup bintang bekas proyek yang mangkrak. Jangan bintang jasa dulu.”
Rubi tertawa.
“Kamu ini sinis sekali.”
“Bukan sinis. Aku hanya warga Konoha yang sudah terlalu lama hidup di antara konferensi pers, breaking news, dan kalimat ‘kasus akan diusut tuntas’.”
“Jadi masalahnya apa?”
“Masalahnya bukan pada siapa yang menangani kasus.”
“Lalu?”
“Masalahnya, rakyat mulai mengalami kelelahan logika.”
“Maksudnya?”
Korupsinikus menunjuk layar ponsel Rubi.
“Setiap tahun ada korupsi triliunan rupiah. Setiap tahun ada tersangka baru. Setiap tahun ada operasi besar. Setiap tahun ada pidato keras tentang perang melawan korupsi.”
“Lalu?”
“Korupsinya tetap ada.”
Rubi mengangguk pelan.
“Masuk akal.”
“Lebih aneh lagi,” lanjut Korupsinikus, “semakin banyak korupsi dibongkar, rakyat justru semakin sadar betapa banyak korupsi yang sebelumnya tidak dibongkar.”
“Waduh.”
“Kadang aku curiga korupsi di negeri ini bukan lagi kejahatan.”
“Lalu?”
“Sudah berubah menjadi sektor ekonomi.”
Rubi hampir tersedak kopinya.
“Parah amat.”
“Coba lihat. Ada yang bertugas menganggarkan. Ada yang mengatur proyek. Ada yang mengawal. Ada yang mengamankan. Ada yang menyelidiki. Ada yang mengomentari. Ada yang membuat podcast. Ada yang membuat konten. Semua bergerak.”
“Seperti ekosistem?”
“Persis.”
“Lalu korupsinya?”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Itu yang paling hebat. Di tengah begitu banyak pemburu koruptor, korupsi tetap berhasil bertahan hidup. Bahkan kadang terlihat lebih stabil daripada pembangunan itu sendiri.”
Rubi terdiam.
Warung kopi mendadak terasa sunyi.
Di layar televisi, seorang pejabat kembali berjanji akan memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.
Korupsinikus hanya tersenyum.
“Kasihan juga korupsi.”
“Kenapa?”
“Sudah berkali-kali dicabut sampai ke akar, tapi entah bagaimana selalu tumbuh lagi. Mungkin yang dicabut selama ini memang bukan akarnya.”
Rubi meletakkan cangkirnya.
“Jadi kesimpulanmu apa?”
Korupsinikus berdiri, membayar kopi, lalu menjawab sebelum pergi.
“Di Negeri Konoha Raya, korupsi adalah makhluk paling sakti. Semua orang mengaku sedang memburunya, tetapi ia selalu berhasil hadir pada konferensi pers berikutnya.”
(Selesai).

